Males banget tiap
malam jumat, mau nonton tv mau ndengerin radio kebanyakan acara yang mereka
siarkan bertema ‘hitam putih’ <?> tau sendiri lah malam jumat identik
dengan apa kalau di Indonesia. Mending mbojo sama lepi. Beeeh, ga
jauh-jauh juga ini aku mau nulis tentang mimpiku. Sumpah ini serem banget. Itu
tadi kalimat lebay sih, tapi suer baru kali ini aku ngimpi seserem itu.
Biasanya tu ya kalau aku dapet mimpi ya paling mimpinya geje dan ga penting. Kemaren
malem aku dapet mimpi ini, rabu malam tepatnya.
Ceritanya di mulai
dengan setting di dalam ruang kelas. Seorang pengajar, atau istilahnya kalau di
tempat kursus disebut tentor, sedang menjelaskan sesuatu. Aku berada di salah
satu bangku dalam ruangan tersebut. Bangku-bangku lain ditempati oleh teman-temanku,
beberapa teman ada yang kukenali di dunia nyata, beberapa ngawang-ngawang dalam
bayangan. Aku ga ngerti aku ikut kursus apa, kenapa aku ada di kelas itu,
ataupun itu kursus atau apa sih. Tapi cerita-cerita kemudian menunjukkan kalau
kelasnya sampai malem dan kegiatannya pun beragam. Jadi setelah aku
timbang-timbang kembali mungkin itu adalah suatu asrama, aku juga ga ngerti
kenapa aku ada di asrama, asrama apa coba?
Malamnya kami (murid2)
dibawa ke sebuah kebun, mungkin halaman belakang dari asrama itu. Di sana kita
juga ada forum, seorang tentor sedang menjelaskan sesuatu (lagi) di depan kami.
Saat itu kami dibiarkan duduk di tanah. Dan parahnya itu kita ada di kebun dan
bener-bener kebun! Beberapa pohon jati yang batangnya masih terlihat kecil namun
tumbuh tinggi tumbuh mengelilingi dimana kami duduk. Di tanah yang kami duduki
berserakan daun-daun yang jatuh diterpa angin dan mungkin tak diinginkan lagi
oleh si pohon. Jelaslah, daun-daun tersebut sudah bewarna cokelat dan kering,
jika diinjak akan berbunyi kreeek kreeek. Beberapa bagian dari kebun itu juga
ada semak-semak, pohon selain pohon jati juga ada. Ya kayak kebun gitu lah.
Tentor kami, seorang
laki-laki kira-kira berusia hampir 30-an mengenakan kemeja garis-garis warna
biru donker (haha, aku masih inget coba) sedang bersemangat meluap-luap
memuncratkan penjelasan itu kepada kami. Kami yang dari tadi menyimak pun
manggut-manggut dibuatnya. Murid-murid yang hadir pada malam itu mungkin
sekitar 30 anak. Aku duduk di belakang, aku gatau tepatnya itu di belakang
sendiri atau bukan. Anehnya (ga aneh juga ding) di sampingku duduklah Hella,
kita malah ngobrol sesuatu. Pantes aja aku ga ngerti apa yang diomongin mas
tentornya.
Posisi dudukku itu
tepatnya aku di sebelah kanannya Hella dan kami berada di ujung kiri, jadilah
si Hella ada di barisan paling ujung sebelah kiri dan seperti yang sudah
kukatakan di atas, kami duduk di belakang. Semakin asyik aku dan Hella ngobrol
semakin aku menyadari ada ‘sesuatu’ di samping si Hella, bukan di samping sih
tapi agak di belakangnya. ‘Sesuatu’ itulah yang sesuai dengan topik malam
jumat. Aku ga mau mendeskripsiin detailnya ‘sesuatu’ itu, yang aku tau dia ‘dulu’
mungkin cewe. Dia lumayan terkenal kok di kancah per-film-an Indonesia,
dandanan dia malam itu ya kayak yang di film-film itu. Aku yang terkaget-kaget
sontak berpindah tempat duduk ke depan. Depan sendiri, di depan mas tentornya.
Aku bersila dengan tegang, nafasku tercekat, dalam tidur pun aku bisa merasakan
ini. Suasana di kebun itu pun menjadi tegang. Mas tentor, yang mungkin sudah
paham dengan keadaan, menenangkan kami dengan tatapannya. Namun kini ia diam.
Sedih sekali, rupanya Hella belum tau apa yang terjadi, ia belum menyadari apa
yang ada di belakangnya.
Tak tega membiarkan
dia di sana, “Ella, sini La, duduk sini aja!!” panggilku dengan suara keras,
hampir berteriak. Dia belum ngeh juga sepertinya. Kemudian aku panggil
dia berulang-ulang kali. Sampai ia menyadari yang kumaksud, berlarilah ia ke
sisiku. Maka kami niatkan untuk lebih fokus mendengarkan masnya berbicara,
melupakan apa yang terjadi di belakang. Namun, anak-anak yang lain pun
sepertinya sudah terlanjur tahu, jadilah keadaan kebun itu menjadi senyap dan
sangat menegangkan. Ketika mas tentor membuka mulut hendak meneruskan opininya,
tiba-tiba saja Sylvi, yang tadi ada di depan sendiri tapi menjadi barisan kedua
setelah aku pindah di depannya, berlari tunggang langgang meninggalkan kebun itu.
Sontak aku yang dari tadi sudah merasa merinding dengan semua itu mengikuti
langkah seribunya meninggalkan kebun. Begitu juga dengan Hella dan teman-teman
yang lain. Mas tentor dengan terpaksa mengakhiri forumnya. Aku ga tau apakah ia
juga mengikuti kami, murid-muridnya, lari sambil terkencing-kencing atau
bagaimana.
Itu tadi episode
pertama, aku terbangun dan bersyukur aku masih berada di tempat tidurku. Aku ga
ngerti kenapa Hella sama Sylvi yang muncul di mimpiku. Atau mungkin karena
Sylvi itu anaknya suka olahraga termasuk lari, jadi ketika mimpiku
menggambarkan ada seseorang yang berlari maka Sylvilah yang ia pilih. Tapi aku
masih ga tau kenapa Hella ada di sana, kasian dia. Karena saat itu aku dalam
keadaan ngantuk berat, maka dengan spontan mataku terpejam lagi. Dan mimpiku
pun berlanjut dengan episode duanya…
Mungkin saat lari tadi
memang terkencing-kencing kali ya, kali ini mengambil setting di toilet. Aneh
banget. Tapi di sini ga memperlihatkan aku lagi pipis loh yaa, bukaaan. Di sana
cuma diliatin aku udah selesai dalam kegiatan itu dan segera ku buka pintu
toilet untuk keluar. Saat keluar ruang kecil tersebut, datanglah seorang
tentor, cowok juga tapi beda dengan yang tadi. Masnya yang ini terlihat lebih berbobot
(tubuhnya) dan kira-kira berumur lebih dari 30. Ini nih yang membuat aku yakin
kalau aku berada di asrama, aku bawa handuk dan ingin meletakkan handukku di
jemuran. Namun sayang jemuran itu sudah penuh dengan handuk teman-teman, banyak
banget dan ga ada tempat lagi untuk handukku. Sembari aku menyampirkan handuk,
aku terlihat memikirkan sesuatu disertai dengan mataku melirik-lirik pintu
toilet yang kini tertutup rapat, tapi aku lupa apa yang aku pikirkan saat itu.
Beberapa menit
kemudian, aku masuk dalam sebuah kelas. Ada pelajaran yang harus aku ikuti.
Kelasnya belum dimulai, baru ada beberapa anak di ruanngan tersebut. Ada Hella
lagi! Ruangan itu kecil, hanya cukup untuk 10-20-an anak. Hella duduk di
belakang, aku melangkahkan kakiku ke arahya dan mengambil kursi di sebelahnya.
Kali ini kami duduk di belakang sendiri. Kemudian anak-anak yang lain pun
kemudian muncul, satu-persatu memasuki ruang kelas. Yang terakhir adalah Mas
tentor ,yang aku temui di pintu toilet, masuk ruang kelas kami. Ia mulai
memperkenalkan dirinya dan mulai membicarakan suatu topik yang telah ia
persiapkan untuk mengisi kelas malam itu.
Sepeti biasa, aku dan
Hella ngobrol-ngobrol ngalor ngidul. Sama seperti di kebun, kali ini si
‘sesuatu’ itu datang kembali. Dia lagi-lagi ada di belakang Hella. Aku dan
Hella melirik-lirik ke belakang gelisah. Cepat-cepat kami memajukan kursi yang
kami duduki, diseret begitu maksudnya. Sampai akhirnya kami sekelas
berdesak-desakan di depan. Sialnya, seseorang, dua orang ding, yang aku desak
orangnya sewot. Suasana kini berubah mencekam. Dua orang yang aku desak tadi
matanya terlihat memerah. Aku ngga ngerti apa yang terjadi pada mereka. Si ‘sesuatu’
mendekat padaku. Aku kaget, kirain dia cuma nongol ga taunya dia bener-bener
pengen nggodain aku. Keringat dingin pun meluncur satu-satu. Yang paling bikin
aku kaget lagi adalah si ‘sesuatu’ menjulurkan kedua tangannya ke leherku. Aku merasakan
lilitannya, semakin kecil dan sempit untuk transportasi udara. Ini aneh banget,
selama ini aku percaya kalau mereka (makhluk halus), namanya aja udah halus,
mereka terlalu halus untuk menyentuh kita. Apalagi ini, nyekek??? Aku jadi
sedikit percaya nih sama film-film hantu Jepang.
Trus aku pun mulai usaha baca
Al-Fatihah dan surat-surat lain, aku percaya itu bisa mengusir kawanan 'sesuatu'. Ga mempan!!! Hantu macam apa coba, dia malah
ikutan baca surat-suratnya. Hafal dan lancar pula, dia malah ngajarin aku pas
aku lupa ayat. Parah! Hantu macam apa beriman gitu?! Bukannya kuping dia
jadi panas, eh malah tambah kenceng aja nyekeknya.
Di akhir cerita, aku
masih dicekek dan aku pun terbangun dari mimpiku. Posisi tidurku saat itu
ternyata aku menghadap ke samping kiri (ngadep timur), posisi yang salah menurutku. So, aku ganti jadi madep Barat dan mulai baca doa berulang-ulang. Aku
takut buat merem lagi, tapi aku ngantuk banget, dan aku takut episode ketiga
bakalan berlanjut. Aku takut. Aku pasrah, akhirnya tertidur juga. Dengan nyaman.
Si ‘sesuatu’ udah puas nyekek aku kali ya, dia ga nongol lagi.
Sehabis aku nulis ini
aku lari ke tempat kalender berada. Besok hari jumat, ini malam jumat! Kalender Jawa menunjukkan kalau besok Kliwon, ini malam Jumat Kliwon!!! Macam apa aku ini
berani-beraninya nulis ginian di malam jumat kliwon dan sendirian di rumah? Ooh,
kamp***!!! Kampanye…! =,=