[blush] …
Suatu romansa …
Romantisme dari Sang Maha Romantis …
Jika kau mau tahu, jika kau mau membuka hatimu, selalu ada
cinta yang Ia selipkan di setiap peristiwa.
Sudah beberapa bulan yang lalu kisah ini terjadi, setiap
kali teringat pasti aku ingin menuliskannya. Namun bulan bulan telah berlalu,
dan selalu saja kata-kata yang berangkai ini hanya berlarian di pikiranku,
seolah belum ada pemantik untuk meloncatkan mereka ke dunia real.
Saat itu, dimana dunia ini diwarnai dengan kertas-kertas
PMKT, Koding, serta tetek bengek properti ujian lainnya. Yak itulah saat kelas
tiga sma mendekati ujian nasional. Jumat sore sampai Sabtu pagi anak-anak
kelas tiga yang kece-kece dengan gembira hati ataupun terpaksa mengikuti
program sekolah: “Doa bersama !!” Seingetku namanya doa bersama, atau apalah
itu. 80% acaranya adalah mendengarkan pembicara yang sedang maju. Mulai dari
pemberian informasi gimana sistem ujian nasional, snmptn, dan kiat-kiat
menghadapi itu oleh guru-guru kami yang super kece, sampai pemberian motivasi
yang ujungnya ada sesi nangis-nangisnya oleh pemateri yang gak kalah kece. Dan
apa yang kami lakukan anak-anak kece ini di belakang? You may guess
20% acara itu kami gunakan untuk beribadah, makan, dan
seru-seruan bersama teman-teman. Maka kami, anak cewek ipa satu yang kece-kece
bergabung bersama di salah satu kamar asrama Youth Centre dan melakukan
hal-hal seru di sana. Kemudian kami pun merencanakan program seru untuk kami
lakukan di Sabtu siangnya: “Nonton Bareng !!” Yaa begitulah kami, berdoa –
bermain – baru belajar :D
Setelah mengkomunikasikan dengan anak cowok, kami pun
bersepakat untuk nonton film Negeri 5 Menara pukul 14.00 (seingetku,
kalau ga salah) kumpul di 21 Ambarukmo Plaza. Tibalah saat galau bagiku, “Ikut
gak yaa?” permasalahannya aku udah janjian nonton film ini sama ibuku tercinta,
tapi baru wacana. Kegalauan pun aku bawa pulang. Sesampainya di rumah aku
segera mengkomunikasikan ini pada ibuku,
biar gak php. Karena janjian main bersama ibuku saat itu tergolong
sulit, maka ibu dan aku merelakan waktu kami hang out bersama. Aku memutuskan
untuk ikut mainnya anak-anak ipa satu, lewat text message kusampaikan
kesediaanku kepada Puji. Sms udah terkirim. Well, cerita pun dimulai…
Jarak rumahku dari Youth Center tergolong dekat dan pagi itu
sekitar pukul 10 atau 11 WIB aku pulang bersama si Revo. Si Puji, Lisa, Fitha,
dll ngomong, “Ntar sampe rumah aku mau langsung tidur. Jangan lupa ya ntar jam
2 di 21 jangan nyampe telat!” Nah, beda sama aku yang udah meniatkan diri
sesampainya di rumah mau mandi, beres-beres dulu, makan, dll. Setelah sholat
dzuhur ternyata mata ini tak kuat menahan kelopak yang kian memberat, akhirnya
aku pun tertidur, pulas. “Ntar bangun jam 1 trus siap-siap deh.” Kurang sesuai
dengan niat awal aku bangun jam 1 tapi kelebihan 30 menit. Bukannya buru-buru, aku
malah mikir…
Nanti kan ada les jam 3 (?). Tapi gapapa aku udah mikirin
ini sebelumnya. Nanti selesai film jam 4-an lah, trus aku baru cuss ke GO. Tapi belum
sholat, ya ntar gampang lah kalo engga sholat di rooftop ya di GO aja. Ntar gapapa
lah ikut lesnya yang sesi dua aja. Dan damn ini udah jam dua kurang seperempat
dan aku belum siap-siap! Dan misal ya aku siap-siap 15 menit, ntar berangkat
jam 2 dong. Padahal jam 2 harus udah nyampe sana. Asal tau aja rumahku sampe ke
Amplaz itu jauuuuuuuuuuuuuuuuh jauh, sekitar 30-45 menit. Tau sendiri
kondisi dari Jalan Godean ke Jalan Solo itu gimana, ditambah ada halangan jalan
satu arah. Dan akhirnya kepikir lagi, kalau semisal keluar dari studio jam 4
trus buru-buru kabur ke GO itu ternyata
setelah diitung-itung memakan waktu lama juga. Dari Amplaz ke GO Cokro itu
mungkin sekitaran 30 menit juga, ditambah kondisi jalan sore-sore gitu (read:
pulang kerja). Ntar sampe sana jam setengah 4.30, ituppun belum diitung
sholatnya. Semisal aku ikut temen-temen sholat di rooftop, mungkin jam 4.30
baru dari sana dan nyampe GO jam 5. Padahal sesi dua mulainya pukul 4.15. Ya
kali aku les udah ikutnya cuma sesi terakhir telat pula, telatnya 15 menit
lagi. Berhubung kelasku di GO itu “beda” aku jadi males masuk ke kelas
lain untuk dapet kelas pengganti. Dan mohon diinget kembali, ini udah deket
sama UN.
Setelah melakukan hitung-hitungan yang cukup melelahkan,
semakin yakin aku segera mengambil hape. Kirim sms ke Lisa sama Puji, “Kalian
ud beli tiketny blm? Kykny ak g jd ikut deh :(” Balasan sms tak kunjung tiba sampai aku harus
berulang kali mengirim pesan yang nadanya serupa. Akhirnya salah satu dari
mereka pun menjawab, “Yaaah ud mut. knp g jd? :o” #lemes, secara harga tiket 21
waktu itu berapa sih, jelas udah naik dari 15ribu, apalagi itu hari Sabtu. Satu
tanggung jawab lagi bertambah, bayar uang itu ke Puji esok hari.
Yaudahlah segera siap-siap berangkat les aja.
Bersyukur,
suara malaikat lebih kuat dibanding suara setan-setan sore itu. Ajaib,
aku enteng-enteng aja ga jadi main, ga sedih, ga nyesel, malahan seneng,
seneeeeeeng~. Kenapa? Karena aku seperti mendapat peringatan lembut dari-Nya, “Udah
mut kamu tu belajar aja, ngapain hari gini masih main aja, udah mainnya besok
lagi masih bisa…” “Iya ya, ngapain aku pake janjian main segala. Udahlah mut
belajar dulu aja!” so sweet ya #apasih. Secara, yang ngingetin aku ga cuma
kalian-kalian lho, tapi dari Dia (u,u). Hatiku pun berbunga-bunga. Untuk mengganti uang Puji pun terasa kapas aja
uangku yang dari ibuku ini keluar.
Begitulah. Bukalah hati lebih lapang, cinta-Nya akan semakin kuat kamu rasakan. Selalu ada hal positif yang Ia sampaikan di setiap kejadian demi kejadian dalam hidup kita :).
Positive thinking itu selalu lebih positif! :)