12.12.12

Nikmat dan Sehat dengan Puasa

Bukan asal ngomong, bukan asal ngutip dari buku agama Islam, bukan asal dapet dari kajian, tapi nikmat dan sehat karena puasa ini udah aku rasakan sendiri. Jadi menurut pengalaman pribadiku begini:

Latar waktu cerita ini adalah hari Senin, 10 Desember 2012.
Senin itu aku diajak ibuku untuk berpuasa sunah, eh kalau aku puasa wajib ding. Langsung aja aku iyakan. Setelah beberapa saat teringatlah pada teman-temanku yang ada di tubuhku sendiri, makhluk setengah hidup setengah mati. Ngga berniat horor, yang kumaksud tidak lain adalah virus yang beberapa hari terakhir ini nongkrong di dalam tubuhku. Virus yang sangat familiar sekali, kita kenal sebagai virus influenza.

Aku udah musuh bebuyutan banget deh sama ini makhluk. Gimana engga, sejak kecil (sampe sekarang) makhluk ini doyan banget ngganggu sistem imunku. Saat ini pun demikian. Aku udah bosen banget nyimpen sesuatu di hidung. Udah dikeluarin, eh ada lagi, keluarin lagi, nongol lagi, begitu seterusnya kira-kira udah seminggu lebih.

"Hmm, besok puasa, lagi pilek, butuh banyak air, gak bisa minum, aduh gimana ya pilekku?" "Yaudahlah mut, jalani aja siapa tau malah bisa sembuh, lagian puasanya udah ketunda-tunda terus." "Okedeh, besok saya puasa!" ~> perang batin. Akhirnya aku dan teman khayalanku yang tidak lain adalah diriku sendiri bertekad kuat untuk menunaikan ibadah keesokan hari.

Senin, merupakan hari padat untukku dan teman-teman kelasku. Jam 1 siang ada kuliah agama. Siang-siang kuliah agama ya taulah bagaimana tantangan untuk mata ini tetap fokus. Minggu kemaren pun minggu-minggu sebelumnya kayak udah langganan untuk tidur. Walau udah minum kopi sebelum masuk kelas, kopi anget maupun es kopi tetep aja gak ngaruh, udah ngemut permen, mau ngobrol gak boleh, udah duduk di depan, udah duduk ditegak-tegakkin, udah suara bapaknya keras banget di depanku, eh tetep aja terpejam (ter = tidak disengaja). Parah.

Inilah inti ceritanya: senin ini tidak seperti layaknya senin-senin biasanya. Saya melek!!! "Waaa Selamaaat!" "Iya, makasih :D" dan coba tebak apa yang terjadi pada hidungku!? Harta melimpah di dalamnya kian menipis!!! Subhanallah kan yah...
Jadi semangatlah untuk berpuasa. ^^

NB: aku gak tidur di kelas gara-gara kuliahnya kosong, hehe peace... tapi pilekku beneran sembuh kok, serius.

13.9.12


Kututup pintu setenang mungkin, kulangkahkan kakiku pelan hingga aku yakin ini tidak akan diketahui siapapun. Orange tali sepatuku yang kata teman-teman menyilaukan mata sudah terlepas dari tadi dari ikatannya. Ini berarti memudahkanku untuk mengeluarkan kakiku dari dalamnya. Pelan-pelan kutelusuri rumah ini sebisa mungkin tanpa membuat suara. Kutemukan suatu pintu yang perlahan kuputar gagangnya. Kupastikan kembali tidak ada orang yang melihatku ada di dalam rumah ini, kuputar leherku. Baru kusadari sebuah pintu di seberang ruangan telah terbuka dengan lebar. Seseorang di dalam kamar itu pun menatap aku dengan ragu-ragu. Dengan rok merahku yang menyala ini ia pun menyadari keberadaanku.
“Elis!!!”
Aku bergeming. Sesaat aku terhenti untuk berpikir apakah aku harus pura-pura tidak mendengarnya dan masuk ke dalam kamar atau membalikkan badan dan memperlihatkan keletihanku.
“Sini Nak, ada makanan buatmu!”
Suara nafasku terdengar keras, “selalu,” kataku berbisik seolah hanya malaikat di sebelahku yang dapat mendengarnya. Akhirnya kubalikkan badanku dan menuju kamar nenekku.
“Ini ada kue talam sama timus, dimaem sana!” menyodorkan sepiring kecil makanan tersebut.
“Aku udah punya. Ini kan ibu belikan buat nenek. Aku ga mau,” jawabku sembari ingin buru-buru meninggalkan tempat aku berpijak.

Nenekku sudah renta, ditambah lagi dengan gangguan pada indera pendengarannya. Wanita itu belum saja menurunkan piring itu dan tetap menyodorkan ke arahku. Mungkin jawabanku tidak terdengar olehnya, pikirku. Piring itu pun kubawa. Bodohnya, tak sedikitpun aku ingat adanya kata terimakasih. Kuletakkan piring itu di meja makan tanpa kusentuh maupun kulirik makanan yang ada di atasnya. Tanpa berpikir panjang kubergegas menuju ke kamar yang sedari tadi ingin aku tuju.
“Nenek pikir aku masih anak-anak apa, dikasih makanan terus girangnya bukan main,” kataku sembari mengganti kemeja putih dengan kaos. “Kalau Cuma makanan kayak gitu sih aku bisa jajan sendiri.”
“Selalu aja manggil-manggil ga jelas, kan capek,” begitu seterusnya aku memuntahkan omelanku hingga kuterlelap.

*

“Ya Allah… maafkan semua kesalahanku. Jagalah ia di sisimu. Jauhkan ia dari siksamu yang pedih, aku juga. Pertemukan kami di surgamu ya Rabb…”
“Iya, pertemukan kami di surgamu agar aku dapat menghaturkan maafku kepadanya yang tek sempat kukatakan di dunia. Sungguh, aku menyesal terhadap apa yang pernah kuperbuat.”
Kini aku sadar nenekku hanya ingin aku berada di sampingnya, ia ingin melihatku senang. Mungkin ia tak cukup mengerti bahwa anak kelas 6 sudah tidak se-exciting seperti anak 6 tahun ketika ditawarkan makanan. Atau mungkin anak kelas 6 ini yang cukup bodoh yang tidak mengerti hal itu merupakan bentuk perhatian. Hanya makanan itu yang ia punyai, yang ia harapkan membuatku tersenyum, sedikit bahagia.
Untuk siapa saja yang masih bisa melihat kakek nenek maupun orangtua kalian tersenyum, buatlah mereka selalu tersenyum…

24.8.12

Bosan Belajar


Ngacak-acak file di laptop, entah karena aku ga punya kerjaan atau sedang bosan akhirnya aku baca tulisan-tulisan yang pernah aku buat. Aku nemuin suatu document word yang kujuduli pada waktu itu “Catatan seorang pelajar”. Setelah aku baca kembali, hipotesisku mengatakan bahwa tulisan itu kubuat saat aku bosan belajar. Mungkin lebih tepatnya stress belajar, soalnya diliat dari tulisannya yang lumayan ngelantur. Nih:
Catatan seorang pelajar
Bukan lagi setahun atau dua tahun lalu yang membuat aku dan teman-teman seperjuanganku bisa menikmati senangnya menjadi pelajar Kota Yogyakarta, melainkan tahun ini kewajiban sesungguhnya harus benar-benar kami emban. “Hey, ngapain aja kamu dua tahun ini?” kata hati nuraniku kemudian. Momok tenggat waktu pun akan terus membayangi kami. Sementara para guru akan senantiasa mengingatkan kami pada momok tersebut, “7 bulan lagi!”, “Tinggal 6 bulan lagi, nilai kalian masih remuk redam?”, “5 bulan lagi, mau apa kalian dengan nilai segini?”, “4 bulan lagi, materi apa yang benar-benar telah kalian kuasai?” seolah mengejek, dan akan terus berlanjut hingga “1 bulan lagi, udah siap kalian?”. Siap? Siap gak yaa? Akhirnya kami harus berusaha siap. Pagi hari kami bersekolah layaknya murid pada umumnya dan harus rela memindahkan kampus di sore kemudian, dengan orang-orang yang sama dan materi yang sama. Huaaah!!!
Cap sebagai siswi Telatan ga mau lagi aku emban. Tapi tantangan masuk kelas setengah tujuh juga membuatku jengah. Di kelas pengen teriak-teriak “Aku kehilangan semangat neh, apa yang harus kulakukan???” terus banyak teman yang menyahut kata-kata motivasi. Atau, terkadang mendambakan seseorang bertanya, “kamu kenapa e mut?”, sekedar bertanya. Atau yang to the point, “Ayo! Kok loyo? Semangat mut!” terus pengen banget aku jawab, “Iya, ini aku absen dulu mau ngumpulin semangat,” sambil pasang muka sok manis. Halah, ngapain pake absen segala neng?
Ga cuma kami para murid yang harus mengumpulkan semangat. Para pengajar formal maupun non formal juga senantiasa semangat menggembleng murid-murid rakus ilmu ini dengan soal-soal standar dewa. Gimana ga menderita, makanan sehari-hari kami kini bertumpuk-tumpuk kertas latihan. Secara, tanduk besar ada di depan mata. Ga mau kan jadi telur di ujung tanduk? Selain UN yang harus kami hadapi, tanduk mematikan SNMPTN siap menimang kami. Konon, tanduk smnptn itulah yang udah memasukkan ribuan pesertanya ke jurang sedalam-dalamnya jurang tanpa memberi mereka kesempatan menghirup udara ptn. Sebaliknya tanduk itulah yang akan menghantarkan para suksesinya ke jenjang kuliah yang kemudian akan mereka geluti masing-masing. Dan aku yakin pasti, aku akan jadi salah seorang dari mereka.
PLAAKKKK!!! Tabokan malaikat yang masih sayang sama aku mendarat di pipiku, tepat menggepengkan jerawatku yang siap panen, aww. “Kalau pengen jadi seperti mereka, BELAJAR dongsss!!!” “Oke.”

Jadi ngakak sendiri habis baca itu, yampun yampun… buka properties à created: Wednesday, November 09, 2011, 2:39:47 AM. Muka datar… baru nyadar!!! 2:39 AM??? Pagi-pagi? Gilee… wkwk.

25.6.12

Diet Paling Mutahir

Sariawan!!!

hahaha xD


kenyataan: ternyata sariawan cuma mengurangi kenikmatan saat makanan masuk saja, dan tidak berefek banyak terhadap berat badan maupun bentuk tubuh =,=
efek lain: jadi males/takut gosok gigi, jorok banget -___-
dan.... menderita T,T

Kan Ada Kuah...

kuah
me:  "keasinen nih"
dek iv:  "masak?" matanya ngerling ngga yakin.
me:  "ehmm..." manggut-manggut.
dek iv:  "Ah engga kok," memastikan.

sayur
Airnya udah mulai bergelembung-gelembung, saatnya ijo-ijo masuk nih. Plung. Diaduk-aduk, diliat-liat. Matiin kompor, nirisin sayur, kasih ke piring. Nyomot satu iris, masukin mulut.
me:  "Udah lumayan empuk kok. Auh, kok pahit??? Duh gimana ni?" sok-sok-an panik.
dek iv:  "Engga kok. Sayur tu emang kayak gini Mbak Mut..."
me:  Nyomot satu lagi, "Iya kali ya? Tapi ini tu pahit. Kayaknya kalau aku biasanya ngrebus sayur ga gini-gini amat deh," muka sok mikir.
dek int:  "Udahlah, kan ada kuah!!!" *Cling*
me:  "Oiya, kan kuahnya asin... Ya semoga bisa tertutupi."

mie
dek iv:  "Burung Dara, Burung Dara!!!"
me:  Ngubrek-ubrek lemari. Yang ini? Bukan. Yang ini? Ini? Ini? Bukan, bukan, bukan.
dek iv:  "Ini lho, iya yang ini!" ngambil kuning-kuning terbungkus plastik.
me:  "Mana burung daranya?"
dek iv: "Eh iya, bukan!"
me:  "hemmm -___-"
dek iv: "Hehe."
Air udah bergelembung-gelembung, saatnya kuning-kuning masuk. Diudek-udek.
me:  Nyomot-nyomot dari panci, "Ah udah aja ni, ga usah lama-lama."
Ditirisin. Dikasih ke piring.
dek int:  "Ini tu belum Mbak Muthia... masih keras gini?"
me:  "Eh iya ni, aduuu," sambil terus nyomot itu kuning-kuning, "Ahaa, kan ada kuah! Kuahnya kan panas jadi bisa ngempukin." *Cling*

bakso
Plung, plung, plung...
dek iv:  Buka tutup panci, "Buahahahha... mlembung!"
me:  "Ha?" nglirik, "Waahahha..."
dek int:  "Hahahha..."

sambel
dek int:  "Sambelnya mana Na?"
dek iv: "Yo gawe wae dewe!"
dek int:  "Aku raiso..." ngecek lemari, ngambil mangkuk isi merah-merah.
dek iv:  "Nah, nggo kui wae!"
dek int:  "Yo ra cocok laah."
me:  Ngintipin apa yang terjadi, "Weh kui kan sambel tomat, yo ra cocok kali."
~Akhirnya mereka berurusan dengan merah-merah~
~
dek int:  "Trus dikasih air."
me:  "Kuah aja biar enak!" *Cling*
dek iv:  "Oiya, kan ada kuah!"
Ngulek-ngulek, jadilah sang sambel.
me:  Nyuil ayam, "Ehhhmm, enak banget (sambelnya)."

(+)an
dek int:  "Tahunya gimana?"
dek iv:  "Ah rasah."
dek int:  Ngecek lemari, nemu piring, "Nah ini ada," ngiris tahu trus dicolekin ke sambel.
dek iv:  "Yo ra cocok lah."
me:  Ngliat tahunya, "Wahaha, kok tahu bacem? Ora ah!"
dek int:  "Ini tambahin ayam aja!"
dek iv:  "Wong bakso sapi kok tambahi bakso<?>"
dek int:  Ngambil setoples makanan semacam cemilan dari lemari, "Tambahin ini nih enak."

Tiga mangkuk udah terisi. Pergi ke depan teve, siap makan.
dek int:  "Euhmmm, iwni towp awbiiews, Mbak Muthia."
me:  "Ha?"
dek int:  "Top Banget!"
me:  "Ha Ha Haseeek..."

~Semangkuk isi empat bakso, ijo-ijo, kuning-kuning, cipratan sambel, sedapnya gaul abis! Disertai ngakak-ngakak nonton Supertrap~

Ini Malam Jumat


Males banget tiap malam jumat, mau nonton tv mau ndengerin radio kebanyakan acara yang mereka siarkan bertema ‘hitam putih’ <?> tau sendiri lah malam jumat identik dengan apa kalau di Indonesia. Mending mbojo sama lepi. Beeeh, ga jauh-jauh juga ini aku mau nulis tentang mimpiku. Sumpah ini serem banget. Itu tadi kalimat lebay sih, tapi suer baru kali ini aku ngimpi seserem itu. Biasanya tu ya kalau aku dapet mimpi ya paling mimpinya geje dan ga penting. Kemaren malem aku dapet mimpi ini, rabu malam tepatnya.

Ceritanya di mulai dengan setting di dalam ruang kelas. Seorang pengajar, atau istilahnya kalau di tempat kursus disebut tentor, sedang menjelaskan sesuatu. Aku berada di salah satu bangku dalam ruangan tersebut. Bangku-bangku lain ditempati oleh teman-temanku, beberapa teman ada yang kukenali di dunia nyata, beberapa ngawang-ngawang dalam bayangan. Aku ga ngerti aku ikut kursus apa, kenapa aku ada di kelas itu, ataupun itu kursus atau apa sih. Tapi cerita-cerita kemudian menunjukkan kalau kelasnya sampai malem dan kegiatannya pun beragam. Jadi setelah aku timbang-timbang kembali mungkin itu adalah suatu asrama, aku juga ga ngerti kenapa aku ada di asrama, asrama apa coba?

Malamnya kami (murid2) dibawa ke sebuah kebun, mungkin halaman belakang dari asrama itu. Di sana kita juga ada forum, seorang tentor sedang menjelaskan sesuatu (lagi) di depan kami. Saat itu kami dibiarkan duduk di tanah. Dan parahnya itu kita ada di kebun dan bener-bener kebun! Beberapa pohon jati yang batangnya masih terlihat kecil namun tumbuh tinggi tumbuh mengelilingi dimana kami duduk. Di tanah yang kami duduki berserakan daun-daun yang jatuh diterpa angin dan mungkin tak diinginkan lagi oleh si pohon. Jelaslah, daun-daun tersebut sudah bewarna cokelat dan kering, jika diinjak akan berbunyi kreeek kreeek. Beberapa bagian dari kebun itu juga ada semak-semak, pohon selain pohon jati juga ada. Ya kayak kebun gitu lah.

Tentor kami, seorang laki-laki kira-kira berusia hampir 30-an mengenakan kemeja garis-garis warna biru donker (haha, aku masih inget coba) sedang bersemangat meluap-luap memuncratkan penjelasan itu kepada kami. Kami yang dari tadi menyimak pun manggut-manggut dibuatnya. Murid-murid yang hadir pada malam itu mungkin sekitar 30 anak. Aku duduk di belakang, aku gatau tepatnya itu di belakang sendiri atau bukan. Anehnya (ga aneh juga ding) di sampingku duduklah Hella, kita malah ngobrol sesuatu. Pantes aja aku ga ngerti apa yang diomongin mas tentornya.

Posisi dudukku itu tepatnya aku di sebelah kanannya Hella dan kami berada di ujung kiri, jadilah si Hella ada di barisan paling ujung sebelah kiri dan seperti yang sudah kukatakan di atas, kami duduk di belakang. Semakin asyik aku dan Hella ngobrol semakin aku menyadari ada ‘sesuatu’ di samping si Hella, bukan di samping sih tapi agak di belakangnya. ‘Sesuatu’ itulah yang sesuai dengan topik malam jumat. Aku ga mau mendeskripsiin detailnya ‘sesuatu’ itu, yang aku tau dia ‘dulu’ mungkin cewe. Dia lumayan terkenal kok di kancah per-film-an Indonesia, dandanan dia malam itu ya kayak yang di film-film itu. Aku yang terkaget-kaget sontak berpindah tempat duduk ke depan. Depan sendiri, di depan mas tentornya. Aku bersila dengan tegang, nafasku tercekat, dalam tidur pun aku bisa merasakan ini. Suasana di kebun itu pun menjadi tegang. Mas tentor, yang mungkin sudah paham dengan keadaan, menenangkan kami dengan tatapannya. Namun kini ia diam. Sedih sekali, rupanya Hella belum tau apa yang terjadi, ia belum menyadari apa yang ada di belakangnya.

Tak tega membiarkan dia di sana, “Ella, sini La, duduk sini aja!!” panggilku dengan suara keras, hampir berteriak. Dia belum ngeh juga sepertinya. Kemudian aku panggil dia berulang-ulang kali. Sampai ia menyadari yang kumaksud, berlarilah ia ke sisiku. Maka kami niatkan untuk lebih fokus mendengarkan masnya berbicara, melupakan apa yang terjadi di belakang. Namun, anak-anak yang lain pun sepertinya sudah terlanjur tahu, jadilah keadaan kebun itu menjadi senyap dan sangat menegangkan. Ketika mas tentor membuka mulut hendak meneruskan opininya, tiba-tiba saja Sylvi, yang tadi ada di depan sendiri tapi menjadi barisan kedua setelah aku pindah di depannya, berlari tunggang langgang meninggalkan kebun itu. Sontak aku yang dari tadi sudah merasa merinding dengan semua itu mengikuti langkah seribunya meninggalkan kebun. Begitu juga dengan Hella dan teman-teman yang lain. Mas tentor dengan terpaksa mengakhiri forumnya. Aku ga tau apakah ia juga mengikuti kami, murid-muridnya, lari sambil terkencing-kencing atau bagaimana.

Itu tadi episode pertama, aku terbangun dan bersyukur aku masih berada di tempat tidurku. Aku ga ngerti kenapa Hella sama Sylvi yang muncul di mimpiku. Atau mungkin karena Sylvi itu anaknya suka olahraga termasuk lari, jadi ketika mimpiku menggambarkan ada seseorang yang berlari maka Sylvilah yang ia pilih. Tapi aku masih ga tau kenapa Hella ada di sana, kasian dia. Karena saat itu aku dalam keadaan ngantuk berat, maka dengan spontan mataku terpejam lagi. Dan mimpiku pun berlanjut dengan episode duanya…
Mungkin saat lari tadi memang terkencing-kencing kali ya, kali ini mengambil setting di toilet. Aneh banget. Tapi di sini ga memperlihatkan aku lagi pipis loh yaa, bukaaan. Di sana cuma diliatin aku udah selesai dalam kegiatan itu dan segera ku buka pintu toilet untuk keluar. Saat keluar ruang kecil tersebut, datanglah seorang tentor, cowok juga tapi beda dengan yang tadi. Masnya yang ini terlihat lebih berbobot (tubuhnya) dan kira-kira berumur lebih dari 30. Ini nih yang membuat aku yakin kalau aku berada di asrama, aku bawa handuk dan ingin meletakkan handukku di jemuran. Namun sayang jemuran itu sudah penuh dengan handuk teman-teman, banyak banget dan ga ada tempat lagi untuk handukku. Sembari aku menyampirkan handuk, aku terlihat memikirkan sesuatu disertai dengan mataku melirik-lirik pintu toilet yang kini tertutup rapat, tapi aku lupa apa yang aku pikirkan saat itu.

Beberapa menit kemudian, aku masuk dalam sebuah kelas. Ada pelajaran yang harus aku ikuti. Kelasnya belum dimulai, baru ada beberapa anak di ruanngan tersebut. Ada Hella lagi! Ruangan itu kecil, hanya cukup untuk 10-20-an anak. Hella duduk di belakang, aku melangkahkan kakiku ke arahya dan mengambil kursi di sebelahnya. Kali ini kami duduk di belakang sendiri. Kemudian anak-anak yang lain pun kemudian muncul, satu-persatu memasuki ruang kelas. Yang terakhir adalah Mas tentor ,yang aku temui di pintu toilet, masuk ruang kelas kami. Ia mulai memperkenalkan dirinya dan mulai membicarakan suatu topik yang telah ia persiapkan untuk mengisi kelas malam itu.

Sepeti biasa, aku dan Hella ngobrol-ngobrol ngalor ngidul. Sama seperti di kebun, kali ini si ‘sesuatu’ itu datang kembali. Dia lagi-lagi ada di belakang Hella. Aku dan Hella melirik-lirik ke belakang gelisah. Cepat-cepat kami memajukan kursi yang kami duduki, diseret begitu maksudnya. Sampai akhirnya kami sekelas berdesak-desakan di depan. Sialnya, seseorang, dua orang ding, yang aku desak orangnya sewot. Suasana kini berubah mencekam. Dua orang yang aku desak tadi matanya terlihat memerah. Aku ngga ngerti apa yang terjadi pada mereka. Si ‘sesuatu’ mendekat padaku. Aku kaget, kirain dia cuma nongol ga taunya dia bener-bener pengen nggodain aku. Keringat dingin pun meluncur satu-satu. Yang paling bikin aku kaget lagi adalah si ‘sesuatu’ menjulurkan kedua tangannya ke leherku. Aku merasakan lilitannya, semakin kecil dan sempit untuk transportasi udara. Ini aneh banget, selama ini aku percaya kalau mereka (makhluk halus), namanya aja udah halus, mereka terlalu halus untuk menyentuh kita. Apalagi ini, nyekek??? Aku jadi sedikit percaya nih sama film-film hantu Jepang.

Trus aku pun mulai usaha baca Al-Fatihah dan surat-surat lain, aku percaya itu bisa mengusir kawanan 'sesuatu'. Ga mempan!!! Hantu macam apa coba, dia malah ikutan baca surat-suratnya. Hafal dan lancar pula, dia malah ngajarin aku pas aku lupa ayat. Parah! Hantu macam apa beriman gitu?! Bukannya kuping dia jadi panas, eh malah tambah kenceng aja nyekeknya.

Di akhir cerita, aku masih dicekek dan aku pun terbangun dari mimpiku. Posisi tidurku saat itu ternyata aku menghadap ke samping kiri (ngadep timur), posisi yang salah menurutku. So, aku ganti jadi madep Barat dan mulai baca doa berulang-ulang. Aku takut buat merem lagi, tapi aku ngantuk banget, dan aku takut episode ketiga bakalan berlanjut. Aku takut. Aku pasrah, akhirnya tertidur juga. Dengan nyaman. Si ‘sesuatu’ udah puas nyekek aku kali ya, dia ga nongol lagi.

Sehabis aku nulis ini aku lari ke tempat kalender berada. Besok hari jumat, ini malam jumat! Kalender Jawa menunjukkan kalau besok Kliwon, ini malam Jumat Kliwon!!! Macam apa aku ini berani-beraninya nulis ginian di malam jumat kliwon dan sendirian di rumah? Ooh, kamp***!!! Kampanye…! =,=

12.6.12

Parodi Facebooker


Hari ini, ini hari apasih? o ya selasa 12 Juni 2012 6:44 PM -> lagi buka facebook
biasalah yang pertama kali dilakuin adalah liat2 status temen (di home tepatnya)

ada yang masang status gini:
Kebohongan yg paling sering Cewe lakukan adalah berkata 'aku baik-baik saja'.
*hadeeh hadeh -_-"
Mhellie ____ ____ and 36 others like this.

Aku ga mau ikut komen apa-apa, juga ga nge-like, cuma ngangguk-ngangguk setuju aja.
scroll ke bawah...

seorang teman cewek (not girlfriend) masang status gini:
sedih banget ya T_T
2 people like this.


ada orang komen: kamu kenapa ?
orang yang punya status: gapapa :D

9.6.12

I really missed you


Nah, ini baru namanya libur! Panjaaaaang….

Aku udah bisa mbayangin hari-hari ke depan yang sangat menyenangkan. Kemudian sadar, aku udah ninggalin Gege sekian lama. Kasian. Udah sekian lama aku cuma sibuk sama buku, sama soal, sama pensil, sama obat jerawat. Sekarang udah ngga ada lagi keranjingan pagi-pagi berangkat pmkt, ngerjain soal, ngliat nilai di papan pengumuman. Jahat banget nilai-nilai itu dipajang sedemikian rupa. Mending-mending kalau bagus. Bagus ding, bagus. Beberapa teman. Udah ngga ada lagi latian un yang menurutku tidak kondusif sama sekali, ngerjain kagak niat alias asal-asalan, ngliat nilai lagi, lagi-lagi di papan pengumuman.

Udah lama ga jalan bareng sama si Gege. Kasian dia jadi kurus gitu, kapan ya terakhir kali aku merhatiin dia? Gapapa ah, dia kan lagi puasa, itung-itung bisa nahan nafsu. Hahaha. Ada beberapa bagian bodinya yang mulai abu-abu karena tertutup debu. Sebagian besar tubuhnya memang bewarna abu-abu sih. Jadi inget pas pertama kali aku ketemu dia di pitshop, pilih yang mana ya? Abu-abu apa cokelat? Masnya kasian ngliat aku mantengin mereka, lama banget. Tengok abu-abu, tengok cokelat, tengok abu-abu, tengok cokelat, udah kayak orang nonton badminton aja. Setelah pegel tengak-tengok, urat di kepalaku juga udah mulai menegang ya akhirnya kuputuskanlah milih si abu-abu yang kemudian kunamakan Gege. Tapi sumpah ya plis banget, kamu ngapain sih mut pake mikir susah-susah gitu, kamu kan emang suka abu-abu mut?
Setelah beberapa menit si Gege ada di rumahku, dia dapet celaan coba. Gara-gara dia terlalu tinggilah, ataupun “Ini tu ga ada keranjangnya, ga bisa dipake belanja, payah,” “Gabisa dipinjem nih, mosok yang pake kamu doang!” -> tenang aja Gege, aku tetep cinta sama kamu! -_-?

Gawat! Aku baru sadar selama ini aku selingkuh sama ‘buku’ di depan si Gege coba. Pantes aja, dia marah. Aduh, maaf ya. Pantes aja dia ambruk berkali-kali pas tak kasih suplai, pantes aja aku dipukul. Sakit. Tapi gapapa, yang penting pagi ini (red 31-05-2012) aku pengen jalan sama kamu dan kamu ga boleh nolak :p. ibuku yang dari mimiknya kelihatan girang dan bangga kalau aku bakal pergi bareng sama Gege, “Sekalian beli sayur yaa!” Oke. “Aduh maaf Gege kencan kita sedikit terganggu.” Tapi aku seneng pagi itu kami ga nyumbang polusi.


Hari-hari ke depan, tiap pagi bisa sepedaan! Asiiiiik!!! Bisa renang juga tiap kali pengen, bisa baca novel sepuasnya, nonton film, nulis, dan bisa mbantuin di dapur lebih lama :))

8.6.12

Terusannya Postingan Pertama


Bismillahirrahmanirrahiim…

Ini terusannya dari postingan pertama. Gatau juga kenapa aku pengen misahin ini dari yang sebelumnya. Mungkin karena yang sebelumnya ga penting banget apa yang pengen aku sampein. Tapi kalau tulisan yang ini aku lagi ‘sedikit’ niat lah buat nulis. Maaf dengan ketidakjelasanku ini. hihi.

Alhamdulillah… seneng banget punya kesempatan buat nulis ini. Seseneng hatiku nih yang baru aja dapet kado ulang tahun terindah >,< “Teknik Industri UGM!!!” jengjengjeng… Jalur Undangan. Alhamdulillah (lagi2) bersyukur banget. Allah masih sayang sama aku :3 walaupun pagi itu 26-05-2012 aku harus menelan kekecewaan dengan nilai un, ga ada yang nyampe target.

Aku: Cuma satu soal!!!! Kenapa harus salah sih??? #pasang muka sedih yang lebay banget, kayak ekspresinya Koong di film Suckseed. Maklum malam sebelumnya aku nonton tuh film dan ketularan deh lebaynya.

Ibuku: ini kenapa nilainya 7??? Emang raiso banget yo? #mimiknya prihatin.

Aku: ini kenapa ada 2 nilai yang kayak gini??? Huhuhu, (sumpah, aku malah ngga nyesel dengan nilai 7 yang nangkring di table nilai biologi)

Kalimatku cuma itu-itu aja yang keluar dari mulutku. Juga kalimatnya ibuku, cuma itu-itu aja. Aku ngga sempet ngitung berapa kali kalimat di atas keluar. Sampai maghribnya kami sesenggukan terharu (ngga selebay ini juga sih). Anugerah terindah yang pernah kumiliki…
“melihat tawamu… mendengar senandungmu… terlihat jelas di mataku warna-warna indahmu…”

Semoga blog ini jadi hadiah terindah kedua :)) 

Postingan Pertama, biasaaa

Biasalah kalau orang mau buat blog, apasih yang dipostkan pertama. Palingan juga "Yak, ini blogku yang baru, mulai sekarang aku harus sering2 nulis", atau "Akhirnya bisa sempet juga mulai nge-blog", atau apalah. Ga penting banget dan malesin kan ya buat dibaca. Kalau semisal di kemudian hari nanti postingan pertama ini ga ada yang mbaca juga gapapa.
Tapi postingan ini berawal dari proses panjaaaang. Mulai dari malamnya aku harus rela tidur di kamar yang hampir mirip gudang, serakan 'barang-barang' ada dimana-mana #apasih pake dipetik segala, haha. Akhirnya aku mulai menulis ini sepulang dari les, mampir nyetak foto dulu 3x4 sebanyak 10 lembar, trus sampe rumah ganti baju, makan, beres-beres kamar yang aku bilang tadi kayak gudang, baca novel satu chapter, sholat dzuhur, trus sampailah aku di depan laptop.
tetterettetet.... Ini tulisanku apasih banget yaa. Haha, kasian yang udah baca sampe akhir.

*ini apa juga pake tanda tangan segala