Siapa tuh Nabi Musa?
Beruntung banget deh
kalian yang dari dulu (TK atau sebelumnya) pernah didongengin kisah-kisah para
nabi, salah satunya Nabi Musa a.s., jadi kalau ada pertanyaan di atas bisa
langsung jawab cas-cis-cus. Itu lhoo yang nglawan Raja Firaun, yang punya mukjizat
membelah lautan, tongkatnya bisa jadi ular, yang dadanya bisa keluar cahaya
putih. Wuih, kalau dipikir pakai logika kita saat ini, “Ini cerita dongeng
banget sih…” eits, jangan salah, ini bukan asal dongeng. Cerita ini dijamin
keasliannya sama Yang Maha Tahu. Mau bukti? Buka deh kitab yang Ia kasih ke kita,
umat Muhammad. Di sana banyaaaak banget Nabi Musa a.s. dikisahkan. Ternyata sangat seru untuk ngikutin ceritanya.
Berhubung saya lagi
asyik-asyiknya ngikutin cerita Nabi Musa ini, tiba-tiba kepikir, “Pengen deh
denger cerita Nabi Musa dari sudut pandang Firaun.” “Dimana ya bisa nemuin
ceritanya?” “Ah, gak mungkin mut, udah deh.” -> percakapan batin.
Jeng-jeng-jeng-jeng…
ternyata yang gak mungkin itu terjawab juga…
Bermula dari novel
Nefertiti-nya Michelle Moran. Lebih lengkapnya berjudul Nefertiti, Sang Ratu
Keabadian. Jujur aja ini novel pinjeman dari Mahella. Bagi yang
tertarik monggo bisa minjem juga ke dia #iklan (bagi yang kenal orangnya loh
yaa).
Novel ini membawa kita
bertualang ke zaman Mesir kuno saat pemerintahan Firaun Akhenaten bersama
Firaun Nefertiti. Ya, dalam novel ini diceritakan pada akhirnya Nefertiti juga
diangkat menjadi Firaun setelah ia berhasil menjadi Permaisuri Utama
mengalahkan Kiya yang merupakan istri pertama Akhenaten. Pada zaman pemerintahan
mereka, mereka dengan seenaknya merubah Tuhan untuk penduduk Mesir agar
menyembah Aten (matahari). Jelas pasti ada perdebatan saat itu. Ku akui wanita
itu (Nefertiti) emang hebat, terlepas dari itu aku gak suka karakternya yang
diceritakan dalam novel ini. Pada akhir cerita ia tidak disukai oleh rakyatnya. Pemilihan kata dan dramatisasi yang diciptakan oleh Michelle bakal membawa kamu mengarungi lautan imajinasi. Novel Nefertiti ini recommended banget!
Nah dari situ aku
penasaran (lagi) ada gak ya cerita tentang Nabi Musa tapi dari sudut pandang
mereka? Terus aku googling, ternyata si Ratu Nefertiti ini hidup pada
zaman sebelum Nabi Musa. Oke gapapa, pada saat itu aku emang ngga kecewa.
Emang dasar gaya
penulisan Kakak Michelle ini bagus dan ceritanya juga oke, menantang gitu buat
dibaca, akhirnya aku tertarik dengan novel Nefertari, Sang Ratu Heretik (bukan
sekuelnya, tapi nyambung). Bagi yang ngga tahu, heretic itu artinya sesat. Nah,
ini novel juga minjem lagi. Tapi kalo yang ini dari Perpustakaan SMAN 1 Teladan
Yogyakarta. Bagi yang tertarik, monggo kunjungi perpus kami. Fyi, novel ini
udah susah dicari di togamas, gramedia, maupun sab, menurut pengalaman Mahella.
Ceritanya lebih
menantang dan lebih seru. Berbeda
dengan novel sebelumnya yang diceritakan dengan sudut pandang Mutnodjmet, adik
Nefertiti, novel ini langsung dari sudut pandang Nefertari. Usut punya
usut (apasih bahasaku) Nefertari merupakan anak dari Mutnodjmet yang berarti ia
merupakan keponakan Nefertiti. Itulah sebabnya ia mempunyai julukan heretic
alias sesat. Karya Kak Michelle yang ini menceritakan jerih payahnya mengubah
pandangan orang-orang yang menganggapnya heretic agar dapat diterima oleh rakyat
Mesir zaman itu. Oh iya, Nefertari juga merupakan istri dan juga Permaisuri
Utama dari Raja Ramses II, Firaun paling terkenal katanya. Nefertari, Sang
Ratu Hertik lebih recommended lagi!!
Sebenernya aku ga
berharap apapun dari novel ini mengenai penasaranku, tapi aku menemukan sesuatu
yang menarik di sini. Aku menemukannya di bagian Catatan Sejarah (halaman
429-433).
“…Tentu saja,
perubahan paling kentara dari semuanya adalah Moses menjadi Ahmoses. Mereka
yang mencari-cari Moses (atau Musa) seperti yang ada dalam kitab suci pasti
akan merasa kecewa. Selain Kitab Perjanjian Lama, tak ada bukti lain yang
mendukung mengenai keberadaan Musa di Mesir. … Dalam novel ini saya sudah
menyebutkan soal mitos Sargon, di mana seorang pendeta wanita agung meletakkan
anak terlarangnya dalam sebuah keranjang, mengalirkannya ke sungai untuk
ditemukan pembawa air dan akhirnya dibawa ke raja…”
Ada juga di bagian
ceritanya (halaman 267)
‘Aku teringat mitos
kuno yang diajarkan Paser di edduba, yaitu mengenai seorang pendeta wanita
tinggi di timur yang diam-diam melahirkan seorang anak laki-laki dan
mengabaikan sumpah kesuciannya. Dia meletakkan bayinya yang baru lahir dalam
sebuah keranjang buluh dan menghanyutkannya terapung-apung di Sungai Efrat
dimana anak itu ditemukan oleh seorang Aqqi, seorang pembawa air. Anak
laki-laki itu diberi nama Sargon, dan ia tumbuh menjadi seorang raja yang
berkuasa dan menaklukan dataran Gutium dan Kanaan. Kini, Ahmoses berniat
kembali ke tanah yang telah diupayakan Sargon tersebut.’
‘Dan Kami ilhamkan
kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir
terhadapnya maka hanyutkanlah di ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut
dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikkannya
kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.” Maka dia dipungut oleh
keluarga Fir’aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.
Sungguh, Fir’aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.’
(Q.S. Al-Qasas 28: 7-8)
Agak kecewa
sebenarnya, ada versi lain lagi dari cerita beliau. Tapi mepet-mepet sama kan…
pantes aja ada beberapa bagian di buku yang sedikit membuatku curiga.
‘… “Kau ingin apa?”
bisikku di tengah-tengah celotehan para pemohon petisi lain.
“Aku ingin Firaun
membebaskan kaumku dari kewajiban mereka,” jawabnya, “supaya rakyatku dapat
kembali ke Kanaan.”
“Dan bagaimana mereka
bisa menjadi rakyatmu dan bukannya rakyat Firaun?” tanyaku.
“Karena akulah
pemimpin mereka. Di antara orang-orang Habiru yang ada di Thebes, akulah yang
membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan kami.”
“Jadi, kau memang
penganut ajaran sesat.”
“Jika itu artinya kami
tidak menyembah dewa-dewa yang sama dengan bangsa Mesir.”
“Itu artinya kau tidak
menyembah Amun.”…
“Kami hanya
menyembah satu dewa,” ia menjelaskan, “dan kami berharap dapat kembali ke
tanah Kanaan.” …’ (halaman 255).
… “Apa Henuttawy yang
mengirimmu kemari untuk mengingatkan bahwa akhu-ku adalah seorang heretic?”
tuntutku.
“Akhu Anda bukan seorang
heretic,” Ahmoses menjawab. “Mereka mendapat visi kebenaran namun mereka
dikuasai oleh ketamakan.”
“Visi kebenaran macam
apa?” tantangku.
“Kebenaran bahwa
hanya ada satu Tuhan. Firaun Akhenaten menyebutnya Aten—“
“Kaum Habiru menyembah
dewa dengan nama yang berbeda. Hanya sang Firaun yang menyebutnya Aten, dan
ketamakanlah yang menghancurkannya”… (halaman 256).
‘… “maka datanglah
kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun dan katakan, “Sesungguhnya kami
adalah rasul-rasul Tuhan seluruh alam, lepaskanlah Bani Israil (pergi)
bersama kami.”
Dia (Fir’aun)
menjawab, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami,
waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun
dari umurmu. Dan engkau (Musa) telah melakukan (kesalahan dari) perbuatan yang
telah engkau lakukan* dan engkau termasuk orang yang tidak tahu berterima
kasih.”
*perbuatan Nabi Musa
a.s. membunuh orang Qibti. (bisa diliat di Q.S. Al-Qasas, 28:15).
Dia (Musa) berkata,
“Aku telah melakukannya, dan ketika itu aku termasuk orang yang khilaf. Lalu
aku lari darimu karena aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku menganugerahkan
ilmu kepadaku serta Dia menjadikan aku salah seorang diantara rasul-rasul. Dan
itulah kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, (sementara) engkau telah
memperbudak Bani Israil.”
Fir’aun bertanya,
“Siapa Tuhan seluruh alam itu?”
Dia (Musa) menjawab,
“Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya (itulah
Tuhanmu), jika kamu mempercayai-Nya.”
Dia Fir’aun berkata
kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah kamu tidak mendengar (apa yang
dikatakannya)?”
Dia (Musa) berkata,
“(Dia) Tuhanmu dan juga Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”
(Q.S. Asy-Syu’ara’ 26: 11-26)
Ada lagi ini yang aku
temuin di bagian catatan sejarah, masih dalam novel Nefertari, Sang Ratu
Heretik (halaman 431) ‘…Dan karena mumi-mumi dari dinasti kedelapan belas
belum pernah diidenifikasikan secara positif, termasuk mumi Firaun Ay dan Ratu
Ankhesenamun, saya memilih untuk menceritakan penyebab hilangnya mereka secara
tiba-tiba dari catatan sejarah adalah akibat kebakaran.’
Ankhesenamun merupakan
anak dari Ratu Nefertiti yang kemudian meneruskan takhta ibunya setelah
pemerintahan Nefertiti jatuh bersama Raja Tutankhamun yang merupakan saudara
tirinya sendiri. Sedangkan Ay merupakan ayah dari Nefertiti dan Munodjmet. Ia
diangkat menjadi Firaun setelah kepemerintahan Tutankhamun berakhir (dalam
novel tidak diceritakan penyebabnya).
Sementara Surat
Asy-Syu’ara’ ayat 63-66 menyebutkan ‘Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah
laut itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan
seperti gunung yang besar. Dan disanalah kami dekatkan golongan lain. Dan Kami
selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya. Kemudian Kami tenggelamkan
golongan yang lain.’
Mungkin kalian akan
berpikiran sama terhadap apa yang aku pikirkan. Mungkin kalian akan berpikir
penyebab hilangnya mereka secara tiba-tiba, seperti apa yang dikemukakan dalam
catatan sejarah, yang sebenarnya adalah karena sang Fir’aun ditenggelamkan oleh
Allah bersama para pengikut-pengikutnya.
Tapi, apa yang aku temukan kemudian di catatan kaki Al-Quran yang aku baca menyebutkan bahwa: menurut sejarah, Fir’aun pada masa
Nabi Musa a.s. ialah Menephthan (1232-1224) SM anak Ramses. Jika ditilik dari
sejarah yang dipaparkan dalam novel takhta Ramses II diberikan pada
Merenptah, anak dari buah perkawinan Ramses dengan Isetnofret, istri
pertamanya. Demikian.
Jadi, inti dari tulisan ini adalah: Bagaimanapun juga yang namanya historical novel tetap saja fiktif walaupun disambungkan dengan kisah sejarah. Jadi jangan percaya 100% terhadap detil yang dipaparkan. Dan, hanya Al-Quran yang bisa kita percayai 100%.
Terima kasih yang bertahan membaca postingan ini sampai tuntas :)