23.1.14

Hujan

Aku selalu menyukai hujan. Walaupun kadang aku khilaf mengatakan "Yaah," secara spontan ketika ia turun.
"Menunggu hujan," entah mengapa kalimat itu selalu terdengar romantis di telinga, walaupun kadang banyak orang akan bosan untuk melakukannya.
Aku suka menunggu hujan bersamamu. Menunggu hujan turun awal musim ini. Menantikan tetesan air yang akan mebawa rezeki bagi kami makhluk bumi. Ketika kkriman dari langit sampai ke permukaan bumi, aku suka bau tanah bercampur air yang ia ciptakan dan kesegaran yang ia bawa. Hujan ini, kesejukan ini, akan membersamai aktivitas kita. Bersama-sama kita memanjatkan doa untuk mimpi-mimpi kita, untuk harapan-harapan kita. Ketika hujan semakin menderas maupun makin mereda aku akan mengucapkan syukur karenanya.
Aku suka menunggu hujan bersamamu. Menunggu hujan reda di tengah kesibukan kita. Memberikan kita waktu untuk relaks sejenak, memaksa kita untuk meluangkan waktu untuk sekedar ber-ba-bi-bu ria. Menantikan tetesan air akan semakin menipis perlahan dan hilang seketika. Langit pun kembali cerah dan kita sama-sama kembali pada aktivitas seperti sebelumnya.
Aku suka berada di bawah hujan. Seakan guyuran air itu juga akan menghapus kepenatan sepanjang hari ini. Seakan-akan ia bisa membawa pergi semua perasaan yang mengusik dalam hati. Seolah ia bisa meredam tangisku, membawa setiap butiran air yang keluar dari mataku juga mengaburkan jeritku dengan auman guntur yang membersamainya.

22.1.14

Sebuah Estafet

Mungkin ini napas terakhirku. Napas demi napas selalu aku pikir begitu dan aku selalu bersyukur tiap ada helaan napas baru lagi. Metabolismeku yang terforsir ini pasti membutuhkan udara yang lebih dari yang aku butuhkan biasanya. Tak ada jeritan lagi, yang ada kini adalah selengking tangisan. Aku yakin itu adalah tangisanmu. Tangisan yang ditunggu banyak orang. Aku mencarimu dalam kegelapan, tak kutemukan wajahmu. Wajah yang ingin kulihat walau hanya satu detik saja sebelum semuanya menjadi gelap.
Gelap.
Kini napas ini, kini kehidupan ini, milikmu.

#flashfiction

5.1.14

[SYAWAL] Belajar dari Sekaleng Roti Kering

Udah makin lincah aja ni jari ber-tak-tik ria di atas keyboard komputer. Apalagi kalau bukan berkat tugas P*K dan laporan praktikum ergonomi. Sayangnya kemajuan ini gak disertai dengan kemajuan yang lain. Produktivitas menulisku Ya Allah, Astaghfirullah, hehe. Liat tuh mut terakhir update september. Oke dengan ini aku mulai memaksa otakku, tanganku, dan ideku untuk menyelami lautan kata-kata. (cukup mut lebaynya --).
*S

Bulan Syawal itu kapan yaa? Udah lama. Waa ketauan banget ide ini mengendap cukup lama di kepalaku. Banyak sebenernya pelajaran yang aku dapetin tiap hari-hari yang kulalui. Sayang ada beberapa hanya aku "oh"-kan dan berlalu begitu aja. Tapi yang ini ngenak sengenak-ngenaknya.

Pada suatu hari di bulan Syawal, dimana toples-toples makanan menghiasi meja ruang tamu di sebagian besar rumah di Indonesia, aku menghampiri salah satu dari mereka. Sebuah toples berbentuk persegi panjang dan tidak terlalu tebal untuk ukuran toples dan aku yakini isinya adalah roti kering. Aku pun membukanya. Ya, benar roti keringlah isinya.  Rotinya beraneka jenis jadi kita punya banyak pilihan dalam satu toples. Begini penampakannya:



Dengan spontanitas yang cukup tinggi aku mengambil kue yang itu tu, yang diplastikin putih (bukan bening). Sebelum membuka plastiknya aku terpikir akan satu hal. Setelah aku makan roti yang ada dalam plastik itu ternyata benar dugaanku. Roti yang aku makan ini enak seenak-enaknya roti yang pernah aku makan. (ups, lebay lagi). Haha, enggak selebay itu, tapi aku pernah nyobain jenis roti lain yang ada dalam toples itu dan aku rasa ini yang paling enak.

Jadi gini, apa yang aku pikirkan tadi adalah, "Kenapa aku milih roti yang ini?" Karena entah kenapa aku yakin roti yang tercover inilah yang paling enak dibanding yang lain.  Seolah ini bukti bahwa yang tercover dengan baik itu selalu lebih istimewa. :) itu coba liat yang tercover plastik bening, tercovernya sih udah, tapi masih transparan, jadi keistimewaannya berkurang. Padahal yang putih masih transparan juga yaa, bahaha #fail.
Bagi Anda yang masih bertanya-tanya "ini tulisan yang mau disampein apa?" oke aku kasih clue -> korelasiin ini dengan hijab

Berhijab itu bukan pilihan, bukan hanya pelunas kewajiban. Lebih mulia dari itu, hijab adalah kebutuhan. Kalau disambungin ke postingan ini, hijab itu membuat kita lebih istimewa.

*masih harus banyak belajar* :)