25.9.13

[RAMADHAN] Banyak Cerita Banyak Pelajaran

~Anak Hawa~

Sudah dibilang, Ramadhan selalu bertebaran dengan siraman rohani. Kali ini adalah acara buka bersama di masjid. Tentu, tak lupa pasti ada pengajiannya. Bukan masalah ngantuk lagi kalau ini. Yang lebih kupedulikan sekarang adalah menggugurkan kewajiban bersosialisasi, niat yang buruk kurasa. Kalau isi pengajiannya oke, itu baru nilai plus. Baru nyadar kalau salah (0.o) setiap amal perbuatan selalu tergantung niat lho, hayoo.

Bukan itu poinnya. Jadi masjid kami itu punya teras yang memanjang di sisi sampingnya dan punya halaman yang cukup luas di depan teras tersebut. Pengajian-pengajian macam ini biasanya dilangsungkan di sini, dengan sistem yang kakung-kakung di atas teras dan yang setri-setri di halaman. Teras yang berkeramik kehitaman itu bisa dicapai dengan menaiki dua anak tangga. Di acara beginian bisa dibilang gak mungkin lah kalau ibu-ibu tidak membawa serta buah hati yang masih imut-imut, alias balita atau bayi.

Itu intro, yang ini ceritanya. Aku duduk menghadap ke selatan. Di sebelah kiriku ada bayi yang lagi anget-angetnya bisa jalan sendiri. Di sebelah kanan lumayan jauh ada bayi juga yang sedang heboh pengen merangkak kemana-mana. Bayi sebelah kiri sebut saja Kiki, yang sebelah kanan sebut saja Kaka. Karena Kiki sedang senang-senangnya berjalan dan bertualang (apasih) maka ia bermain-main di tiga anak tangga teras masjid. Merangkak naik, lalu turun lagi kembali ke tempat duduk ibunya. Lalu ia naik lagi dan sempat melambaikan tangannya bak seorang artis yang sedang naik ke atas panggung. Sungguh bahagianya, terlihat dari wajahnya.

Sementara si Kaka, melihat si Kiki ia mungkin ingin melakukan hal yang sama. Akan tetapi Ibu Kaka mungkin merasa rempong mengajak anaknya sehingga ia tidak membiarkan Kaka berada jauh darinya. Setiap Kaka merangkak beberapa meter menjauh, ibu Kaka langsung sigap menggendong Kaka dan kembali ke posisi duduk semula. Kuperhatikan dari awal waktu, kejadian itu sudah berulang beberapa kali. Tak heran jika si anak pun menangis. Karena kurasa Kaka sangat ingin mencapai lantai teras tapi sang ibu tak memperbolehkannya. Kupikir apa salahnya sih dengan bermain-mein di lantai teras sebuah masjid? gak bikin si anak dalam keadaan bahaya juga.

Sesuatu menelusup ke pikiranku. Hikmah ternyata, ada hikmah yang bisa kuambil dari kejadian sore itu. Ibu Kaka yang bisa dibilang over protecting cenderung menjadi penghalang anaknya untuk memperoleh apa yang ia inginkan. Cenderung menghambat perkembangan anak untuk latihan berjalan, merangkak, menghadapi tantangan.

Kadang kasih sayang diungkapkan dengan ke-cuek-kan. (eh nyambung gak ya? *loh)
~> Pelajaran berharga ini bagi calon ibu, lalala~

[akan dilanjutkan, walau udah jauh dari ramadhan]

5.8.13

[RAMADHAN] Banyak Cerita Banyak Pelajaran

~Duo Tidur~

Jangan disangkal kalau aku bilang Ramadhan itu identik dengan bertebarannya kultum (kuliah tujuh menit) di seantero penjuru, khususnya di Indonesia. Lebih-lebih di masjid dan mushola dekat rumahku, mereka baiiiik sekali memberikan secara cuma-cuma extra time “sepuas pembicara” kepada kami yang haus akan siraman rohani ini. Karakter pengisi kultumnya pun beda-beda. Salah seorang berkarakter unik adalah tetanggaku sendiri, beliau membawakan ceramah dengan cara berdeklamasi. Tidak jarang tawaku lepas karenanya, tapi tetap tahu diri, maksudnya ketawanya dalam hati, hehe. Salah seoranng di sebelah kananku nyeletuk, “Kayak kethoprak.” Dengan suaranya yang berradius empat telinga ke samping kirinya, (lagi) aku melepaskan ‘tawa tapi tahu diri’-ku. "Kalau ada orang Jawa Timur pasti ketawa dengerin ini." "Kok?" "Lha wong kita ngomong biasa aja udah dibilang kayak kethoprak kok." (sekali lagi) ketawa lepas tapi tahu diri. Karakter pembicara yang paling sering kutemui adalah pembawaan yang lemah lembut, alon waton kelakon, khas jawanya kerasa banget. Gak cuma lembut, tapi mereka bawaannya terlalu santai, saking santainya frekuensi bunyi yang ada dalam dua telinga ini tidak mau berkompromi dengan frekuensi suara yang ia luncurkan. Ternyata inilah karakter favorit yang menjadi pilihan banyak orang.

Subuh hari ini kami memutuskan untuk berjalan ke mushola, mengingat beberapa kali ini sudah lebih sering ke masjid. Seusai jamaah subuh dilangsungkan, dengan segera salah seorang makmun berdiri dan mencapai mimbar untuk mengisi kultum pagi itu, tentu setelah waktu untuk berdoa dirasa cukup. Spontan posisi dudukku mantap mundur ke belakang untuk mencapai sebuah dinding berwarna hijau itu. Keadaan mushola tak berhijab itu membuatku dan jamaah akhwat lainnya tahu dengan jelas siapa penyiram rohani kami kali ini. Yak, aku tahu bapak itu. Seorang bapak yang maaf, sudah sepuh, juga memilih untuk menggunakan karakter favorit dan beliau sering menggunakan extra time-nya dengan sangat baik.

Sungguh bukan suatu hal yang mudah di saat ada gelombang suara yang seolah menimang-nimang, sandaran yang walaupun sama sekali gak empuk tapi bersahabat dengan punggung, hawa pagi yang sejuk nan lembut, kelembaban udara yang terbilang tinggi terselimuti oleh mukena yang cukup menghangatkan, ditambah lagi kami memanglah duo tidur yang cukup handal. Dengan keadaan yang kayak gitu ya mana bisa tahan, kelopak mata terlalu berat bah.

Sama halnya aku bisa melihat bapaknya, bapaknya pun bisa melihatku dengan jelas dan ketahuanlah kami yang sedang terkapar di sini. Beliau menyinggung, “Saya biasanya kalau pagi gak tidur, saya sudah membiasakannya. Kalau kita udah kebiasa, pagi tu ya gak bakalan ngantuk…” Sontak kedua mata ini pun terbuka, melek, melek, dan bener-bener MELEK! “Wah nyinggung mata gue nih,” =,= Aku baru tahu, ternyata mata pun, atau organ mana pun kali ya, juga bisa tersinggung yaa. “Mata boleh jadi melek, tapi hati ini sakit Pak…” (lebay lebay maaf) "Ya maaf Pak, ini murni bukan suatu kesengajaan Pak." Di lain sisi tidur itu tetap nikmat-Nya loh, ya gimana pun tetap harus kita syukuri. hehe, ngeles pinter yak.

Tapi setidaknya aku sadar kok dalam hal ini aku salah. Jadi, katanya orang Indonesia itu tingkat saling menghargainya rendah memang benar. Memang sudah seharusnya jika ada orang yang bicara kita memperhatikan dan mendengarkan. Seperti kalau posisi kita yang sedang berbicara di depan, pasti kita pengen diperhatikan dan didengarkan.

             -  Wah, berarti kalau ada kultum gak boleh tidur lagi nih!

-          -  Kultum subuh kemarin kamu ngapain mut? --v


[

23.5.13

Bollywood in FT


heartbeats fast
colors and promises
how to be brave
how can i love when i’m afraid to fall
but watching you stand alone
all of my doubt suddenly goes away somehow
one step closer

i have died everyday waiting for you
darling don’t be afraid i have loved you
for a thousand years
i love you for a thousand more ~

Alhamdulillah masih bisa bertemu maghrib di sini. Suasana maghribnya udah sedikit sirna karena memang jamaah udah selesai sejak menit-menit yang lalu. Matahari sebelum benar-benar tenggelam dari langit Jogja pun sukses membuat tempat wudhu akhwat menggulita, bahkan aku bingung bedain mana air mana kerannya (alay~). Ditemani rintik gerimis tiba-tiba lantunan lagu di atas muncul. Seusai menuntaskan kewajiban bersuciku, segera aku tahu dari mana sumber suara itu.

Itulah sesosok pria menuruni tangga mustek ikhwan dengan suara mendayu-dayu sedikit sumbangnya. Dan apa yang aku temukan kemudian? Dari arah berlawanan dari tangga yang aku naiki yang notabene sejajar dengan tangga ikhwan tadi tertampaklah seorang gadis, mahasiswi tentunya, sedang lirik-lirik dengan senyum malu-malunya ke arah seorang pria yang agak tambun di jajaran lain sana.
Aku: "Ah mereka ini," =,=
Udah, main Bollywood aja sana!

1.5.13

Musa a.s. di Mata Mereka


Siapa tuh Nabi Musa?
Beruntung banget deh kalian yang dari dulu (TK atau sebelumnya) pernah didongengin kisah-kisah para nabi, salah satunya Nabi Musa a.s., jadi kalau ada pertanyaan di atas bisa langsung jawab cas-cis-cus. Itu lhoo yang nglawan Raja Firaun, yang punya mukjizat membelah lautan, tongkatnya bisa jadi ular, yang dadanya bisa keluar cahaya putih. Wuih, kalau dipikir pakai logika kita saat ini, “Ini cerita dongeng banget sih…” eits, jangan salah, ini bukan asal dongeng. Cerita ini dijamin keasliannya sama Yang Maha Tahu. Mau bukti? Buka deh kitab yang Ia kasih ke kita, umat Muhammad. Di sana banyaaaak banget Nabi Musa a.s. dikisahkan. Ternyata sangat seru untuk ngikutin ceritanya.

Berhubung saya lagi asyik-asyiknya ngikutin cerita Nabi Musa ini, tiba-tiba kepikir, “Pengen deh denger cerita Nabi Musa dari sudut pandang Firaun.” “Dimana ya bisa nemuin ceritanya?” “Ah, gak mungkin mut, udah deh.” -> percakapan batin.

Jeng-jeng-jeng-jeng… ternyata yang gak mungkin itu terjawab juga…
Bermula dari novel Nefertiti-nya Michelle Moran. Lebih lengkapnya berjudul Nefertiti, Sang Ratu Keabadian. Jujur aja ini novel pinjeman dari Mahella. Bagi yang tertarik monggo bisa minjem juga ke dia #iklan (bagi yang kenal orangnya loh yaa).
Novel ini membawa kita bertualang ke zaman Mesir kuno saat pemerintahan Firaun Akhenaten bersama Firaun Nefertiti. Ya, dalam novel ini diceritakan pada akhirnya Nefertiti juga diangkat menjadi Firaun setelah ia berhasil menjadi Permaisuri Utama mengalahkan Kiya yang merupakan istri pertama Akhenaten. Pada zaman pemerintahan mereka, mereka dengan seenaknya merubah Tuhan untuk penduduk Mesir agar menyembah Aten (matahari). Jelas pasti ada perdebatan saat itu. Ku akui wanita itu (Nefertiti) emang hebat, terlepas dari itu aku gak suka karakternya yang diceritakan dalam novel ini. Pada akhir cerita ia tidak disukai oleh rakyatnya. Pemilihan kata dan dramatisasi yang diciptakan oleh Michelle bakal membawa kamu mengarungi lautan imajinasi. Novel Nefertiti ini recommended banget!

Nah dari situ aku penasaran (lagi) ada gak ya cerita tentang Nabi Musa tapi dari sudut pandang mereka? Terus aku googling, ternyata si Ratu Nefertiti ini hidup pada zaman sebelum Nabi Musa. Oke gapapa, pada saat itu aku emang ngga kecewa.

Emang dasar gaya penulisan Kakak Michelle ini bagus dan ceritanya juga oke, menantang gitu buat dibaca, akhirnya aku tertarik dengan novel Nefertari, Sang Ratu Heretik (bukan sekuelnya, tapi nyambung). Bagi yang ngga tahu, heretic itu artinya sesat. Nah, ini novel juga minjem lagi. Tapi kalo yang ini dari Perpustakaan SMAN 1 Teladan Yogyakarta. Bagi yang tertarik, monggo kunjungi perpus kami. Fyi, novel ini udah susah dicari di togamas, gramedia, maupun sab, menurut pengalaman Mahella.

Ceritanya lebih menantang dan lebih seru. Berbeda dengan novel sebelumnya yang diceritakan dengan sudut pandang Mutnodjmet, adik Nefertiti, novel ini langsung dari sudut pandang Nefertari. Usut punya usut (apasih bahasaku) Nefertari merupakan anak dari Mutnodjmet yang berarti ia merupakan keponakan Nefertiti. Itulah sebabnya ia mempunyai julukan heretic alias sesat. Karya Kak Michelle yang ini menceritakan jerih payahnya mengubah pandangan orang-orang yang menganggapnya heretic agar dapat diterima oleh rakyat Mesir zaman itu. Oh iya, Nefertari juga merupakan istri dan juga Permaisuri Utama dari Raja Ramses II, Firaun paling terkenal katanya. Nefertari, Sang Ratu Hertik lebih recommended lagi!!

Sebenernya aku ga berharap apapun dari novel ini mengenai penasaranku, tapi aku menemukan sesuatu yang menarik di sini. Aku menemukannya di bagian Catatan Sejarah (halaman 429-433).
“…Tentu saja, perubahan paling kentara dari semuanya adalah Moses menjadi Ahmoses. Mereka yang mencari-cari Moses (atau Musa) seperti yang ada dalam kitab suci pasti akan merasa kecewa. Selain Kitab Perjanjian Lama, tak ada bukti lain yang mendukung mengenai keberadaan Musa di Mesir. … Dalam novel ini saya sudah menyebutkan soal mitos Sargon, di mana seorang pendeta wanita agung meletakkan anak terlarangnya dalam sebuah keranjang, mengalirkannya ke sungai untuk ditemukan pembawa air dan akhirnya dibawa ke raja…”

Ada juga di bagian ceritanya (halaman 267)
‘Aku teringat mitos kuno yang diajarkan Paser di edduba, yaitu mengenai seorang pendeta wanita tinggi di timur yang diam-diam melahirkan seorang anak laki-laki dan mengabaikan sumpah kesuciannya. Dia meletakkan bayinya yang baru lahir dalam sebuah keranjang buluh dan menghanyutkannya terapung-apung di Sungai Efrat dimana anak itu ditemukan oleh seorang Aqqi, seorang pembawa air. Anak laki-laki itu diberi nama Sargon, dan ia tumbuh menjadi seorang raja yang berkuasa dan menaklukan dataran Gutium dan Kanaan. Kini, Ahmoses berniat kembali ke tanah yang telah diupayakan Sargon tersebut.’

‘Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah di ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikkannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.” Maka dia dipungut oleh keluarga Fir’aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir’aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.’ (Q.S. Al-Qasas 28: 7-8)

Agak kecewa sebenarnya, ada versi lain lagi dari cerita beliau. Tapi mepet-mepet sama kan… pantes aja ada beberapa bagian di buku yang sedikit membuatku curiga.
‘… “Kau ingin apa?” bisikku di tengah-tengah celotehan para pemohon petisi lain.
Aku ingin Firaun membebaskan kaumku dari kewajiban mereka,” jawabnya, “supaya rakyatku dapat kembali ke Kanaan.”
“Dan bagaimana mereka bisa menjadi rakyatmu dan bukannya rakyat Firaun?” tanyaku.
“Karena akulah pemimpin mereka. Di antara orang-orang Habiru yang ada di Thebes, akulah yang membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan kami.”
“Jadi, kau memang penganut ajaran sesat.”
“Jika itu artinya kami tidak menyembah dewa-dewa yang sama dengan bangsa Mesir.”
“Itu artinya kau tidak menyembah Amun.”…
Kami hanya menyembah satu dewa,” ia menjelaskan, “dan kami berharap dapat kembali ke tanah Kanaan.” …’ (halaman 255).

… “Apa Henuttawy yang mengirimmu kemari untuk mengingatkan bahwa akhu-ku adalah seorang heretic?” tuntutku.
“Akhu Anda bukan seorang heretic,” Ahmoses menjawab. “Mereka mendapat visi kebenaran namun mereka dikuasai oleh ketamakan.”
“Visi kebenaran macam apa?” tantangku.
Kebenaran bahwa hanya ada satu Tuhan. Firaun Akhenaten menyebutnya Aten—“
“Kaum Habiru menyembah dewa dengan nama yang berbeda. Hanya sang Firaun yang menyebutnya Aten, dan ketamakanlah yang menghancurkannya”… (halaman 256).

‘… “maka datanglah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun dan katakan, “Sesungguhnya kami adalah rasul-rasul Tuhan seluruh alam, lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama kami.”
Dia (Fir’aun) menjawab, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan engkau (Musa) telah melakukan (kesalahan dari) perbuatan yang telah engkau lakukan* dan engkau termasuk orang yang tidak tahu berterima kasih.”
*perbuatan Nabi Musa a.s. membunuh orang Qibti. (bisa diliat di Q.S. Al-Qasas, 28:15).
Dia (Musa) berkata, “Aku telah melakukannya, dan ketika itu aku termasuk orang yang khilaf. Lalu aku lari darimu karena aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku menganugerahkan ilmu kepadaku serta Dia menjadikan aku salah seorang diantara rasul-rasul. Dan itulah kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, (sementara) engkau telah memperbudak Bani Israil.”
Fir’aun bertanya, “Siapa Tuhan seluruh alam itu?”
Dia (Musa) menjawab, “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu mempercayai-Nya.”
Dia Fir’aun berkata kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah kamu tidak mendengar (apa yang dikatakannya)?”
Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhanmu dan juga Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”
 (Q.S. Asy-Syu’ara’ 26: 11-26)

Ada lagi ini yang aku temuin di bagian catatan sejarah, masih dalam novel Nefertari, Sang Ratu Heretik (halaman 431) ‘…Dan karena mumi-mumi dari dinasti kedelapan belas belum pernah diidenifikasikan secara positif, termasuk mumi Firaun Ay dan Ratu Ankhesenamun, saya memilih untuk menceritakan penyebab hilangnya mereka secara tiba-tiba dari catatan sejarah adalah akibat kebakaran.’
Ankhesenamun merupakan anak dari Ratu Nefertiti yang kemudian meneruskan takhta ibunya setelah pemerintahan Nefertiti jatuh bersama Raja Tutankhamun yang merupakan saudara tirinya sendiri. Sedangkan Ay merupakan ayah dari Nefertiti dan Munodjmet. Ia diangkat menjadi Firaun setelah kepemerintahan Tutankhamun berakhir (dalam novel tidak diceritakan penyebabnya).

Sementara Surat Asy-Syu’ara’ ayat 63-66 menyebutkan ‘Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar. Dan disanalah kami dekatkan golongan lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain.’

Mungkin kalian akan berpikiran sama terhadap apa yang aku pikirkan. Mungkin kalian akan berpikir penyebab hilangnya mereka secara tiba-tiba, seperti apa yang dikemukakan dalam catatan sejarah, yang sebenarnya adalah karena sang Fir’aun ditenggelamkan oleh Allah bersama para pengikut-pengikutnya.

Tapi, apa yang aku temukan kemudian di catatan kaki Al-Quran yang aku baca menyebutkan bahwa: menurut sejarah, Fir’aun pada masa Nabi Musa a.s. ialah Menephthan (1232-1224) SM anak Ramses. Jika ditilik dari sejarah yang dipaparkan dalam novel takhta Ramses II diberikan pada Merenptah, anak dari buah perkawinan Ramses dengan Isetnofret, istri pertamanya. Demikian.

Jadi, inti dari tulisan ini adalah: Bagaimanapun juga yang namanya historical novel tetap saja fiktif walaupun disambungkan dengan kisah sejarah. Jadi jangan percaya 100% terhadap detil yang dipaparkan. Dan, hanya Al-Quran yang bisa kita percayai 100%.
Terima kasih yang bertahan membaca postingan ini sampai tuntas :)



17.4.13

Maaf ya Pak Janu...
eh, bukan. Maaf ya kelompok yang lagi maju...
Harusnya aku merhatiin kalian karena aku tahu materi yang kalian sampaikan itu "berbobot" dan "bermanfaat". Tapi yah apa daya. Pasalnya Rabu kala itu, dari subuh sampe ashar gak kelar-kelar berkuat sama matematika 2. Dipaksa kelar pun gara-gara mau kuliah Proses Produksi 1. Nah pas kelar tuh, pas beres-beres mau cuss dari Pustek lantai 3 tiba-tiba ada yang nyeletuk, "Eh ini kita salah lho, harusnya kayaknya gini deh (?)"
Otak baik: "Oh iya ya, duh sayang banget nih kalau salah, tapi masa mau diganti lagi (?)"
Otak jahat: "Udah lah Mut, biarin aja. Ini aja udah bikin stress, lagian kamu udah ga punya waktu kaan..."
Otak: "Ah bodo amat ah," (-,-")
Gitu lah, akhirnya pas kelas malah menghasilkan "karya" begini:

u,u


-> ngapain juga minta maaf -- yang rugi juga aku sendiri -,-

15.4.13

Ingatkan Aku dengan Lembut


[blush] …
Suatu romansa …
Romantisme dari Sang Maha Romantis …
Jika kau mau tahu, jika kau mau membuka hatimu, selalu ada cinta yang Ia selipkan di setiap peristiwa.
Sudah beberapa bulan yang lalu kisah ini terjadi, setiap kali teringat pasti aku ingin menuliskannya. Namun bulan bulan telah berlalu, dan selalu saja kata-kata yang berangkai ini hanya berlarian di pikiranku, seolah belum ada pemantik untuk meloncatkan mereka ke dunia real.

Saat itu, dimana dunia ini diwarnai dengan kertas-kertas PMKT, Koding, serta tetek bengek properti ujian lainnya. Yak itulah saat kelas tiga sma mendekati ujian nasional. Jumat sore sampai Sabtu pagi anak-anak kelas tiga yang kece-kece dengan gembira hati ataupun terpaksa mengikuti program sekolah: “Doa bersama !!” Seingetku namanya doa bersama, atau apalah itu. 80% acaranya adalah mendengarkan pembicara yang sedang maju. Mulai dari pemberian informasi gimana sistem ujian nasional, snmptn, dan kiat-kiat menghadapi itu oleh guru-guru kami yang super kece, sampai pemberian motivasi yang ujungnya ada sesi nangis-nangisnya oleh pemateri yang gak kalah kece. Dan apa yang kami lakukan anak-anak kece ini di belakang? You may guess
20% acara itu kami gunakan untuk beribadah, makan, dan seru-seruan bersama teman-teman. Maka kami, anak cewek ipa satu yang kece-kece bergabung bersama di salah satu kamar asrama Youth Centre dan melakukan hal-hal seru di sana. Kemudian kami pun merencanakan program seru untuk kami lakukan di Sabtu siangnya: “Nonton Bareng !!” Yaa begitulah kami, berdoa – bermain – baru belajar :D
Setelah mengkomunikasikan dengan anak cowok, kami pun bersepakat untuk nonton film Negeri 5 Menara pukul 14.00 (seingetku, kalau ga salah) kumpul di 21 Ambarukmo Plaza. Tibalah saat galau bagiku, “Ikut gak yaa?” permasalahannya aku udah janjian nonton film ini sama ibuku tercinta, tapi baru wacana. Kegalauan pun aku bawa pulang. Sesampainya di rumah aku segera mengkomunikasikan ini pada ibuku,  biar gak php. Karena janjian main bersama ibuku saat itu tergolong sulit, maka ibu dan aku merelakan waktu kami hang out bersama. Aku memutuskan untuk ikut mainnya anak-anak ipa satu, lewat text message kusampaikan kesediaanku kepada Puji. Sms udah terkirim. Well, cerita pun dimulai…

Jarak rumahku dari Youth Center tergolong dekat dan pagi itu sekitar pukul 10 atau 11 WIB aku pulang bersama si Revo. Si Puji, Lisa, Fitha, dll ngomong, “Ntar sampe rumah aku mau langsung tidur. Jangan lupa ya ntar jam 2 di 21 jangan nyampe telat!” Nah, beda sama aku yang udah meniatkan diri sesampainya di rumah mau mandi, beres-beres dulu, makan, dll. Setelah sholat dzuhur ternyata mata ini tak kuat menahan kelopak yang kian memberat, akhirnya aku pun tertidur, pulas. “Ntar bangun jam 1 trus siap-siap deh.” Kurang sesuai dengan niat awal aku bangun jam 1 tapi kelebihan 30 menit. Bukannya buru-buru, aku malah mikir…
Nanti kan ada les jam 3 (?). Tapi gapapa aku udah mikirin ini sebelumnya. Nanti selesai film jam 4-an lah, trus aku baru cuss ke GO. Tapi belum sholat, ya ntar gampang lah kalo engga sholat di rooftop ya di GO aja. Ntar gapapa lah ikut lesnya yang sesi dua aja. Dan damn ini udah jam dua kurang seperempat dan aku belum siap-siap! Dan misal ya aku siap-siap 15 menit, ntar berangkat jam 2 dong. Padahal jam 2 harus udah nyampe sana. Asal tau aja rumahku sampe ke Amplaz itu jauuuuuuuuuuuuuuuuh jauh, sekitar 30-45 menit. Tau sendiri kondisi dari Jalan Godean ke Jalan Solo itu gimana, ditambah ada halangan jalan satu arah. Dan akhirnya kepikir lagi, kalau semisal keluar dari studio jam 4 trus buru-buru kabur ke GO itu ternyata setelah diitung-itung memakan waktu lama juga. Dari Amplaz ke GO Cokro itu mungkin sekitaran 30 menit juga, ditambah kondisi jalan sore-sore gitu (read: pulang kerja). Ntar sampe sana jam setengah 4.30, ituppun belum diitung sholatnya. Semisal aku ikut temen-temen sholat di rooftop, mungkin jam 4.30 baru dari sana dan nyampe GO jam 5. Padahal sesi dua mulainya pukul 4.15. Ya kali aku les udah ikutnya cuma sesi terakhir telat pula, telatnya 15 menit lagi. Berhubung kelasku di GO itu “beda” aku jadi males masuk ke kelas lain untuk dapet kelas pengganti. Dan mohon diinget kembali, ini udah deket sama UN.
Setelah melakukan hitung-hitungan yang cukup melelahkan, semakin yakin aku segera mengambil hape. Kirim sms ke Lisa sama Puji, “Kalian ud beli tiketny blm? Kykny ak g jd ikut deh :(” Balasan sms tak kunjung tiba sampai aku harus berulang kali mengirim pesan yang nadanya serupa. Akhirnya salah satu dari mereka pun menjawab, “Yaaah ud mut. knp g jd? :o” #lemes, secara harga tiket 21 waktu itu berapa sih, jelas udah naik dari 15ribu, apalagi itu hari Sabtu. Satu tanggung jawab lagi bertambah, bayar uang itu ke Puji esok hari.
Yaudahlah segera siap-siap berangkat les aja.
Bersyukur, suara malaikat lebih kuat dibanding suara setan-setan sore itu. Ajaib, aku enteng-enteng aja ga jadi main, ga sedih, ga nyesel, malahan seneng, seneeeeeeng~. Kenapa? Karena aku seperti mendapat peringatan lembut dari-Nya, “Udah mut kamu tu belajar aja, ngapain hari gini masih main aja, udah mainnya besok lagi masih bisa…” “Iya ya, ngapain aku pake janjian main segala. Udahlah mut belajar dulu aja!” so sweet ya #apasih. Secara, yang ngingetin aku ga cuma kalian-kalian lho, tapi dari Dia (u,u). Hatiku pun berbunga-bunga.  Untuk mengganti uang Puji pun terasa kapas aja uangku yang dari ibuku ini keluar.

Begitulah. Bukalah hati lebih lapang, cinta-Nya akan semakin kuat kamu rasakan. Selalu ada hal positif yang Ia sampaikan di setiap kejadian demi kejadian dalam hidup kita :).

Positive thinking itu selalu lebih positif! :)

7.3.13

Di Balik Sebuah Nama


Di balik sebuah batu bernama ‘nama’ terdapat udang bernama ‘cerita’. Simpelnya: ada cerita di balik sebuah nama. Inspirasi dari forga media ct kemarin sore menarik pikiranku untuk mengembara lebih jauh.

Jadi di kpft barat kemarin, forum kami melakukan deep intro. Orang pertama memperkenalkan diri dan yang pertama ia ceritakan mengenai namanya (ya iyalah --). Speechless, karena konon katanya nama temenku ini diambil dari nama seorang spesial yang pernah ada di dalam hidup ayahnya. Nama seorang spesial itu disusun sedemikian rupa sehingga terbentuk nama yang telah disandang temanku selama 20-an tahun. Begitu juga nama dari kedua adiknya. Kasian banget. Bukan kasian sama anaknya yang asal mula namanya kayak gitu, toh nama mereka bagus-bagus kok. Bukan kasian sama bapaknya juga yang mungkin dulu sedih banget (atau mungkin sedih aja) pas ditinggalin mantannya. Yang kasian jelas ibunya, “Ternyata suamiku menyimpan wanita lain di dalam nama anak-anakku…” :’(

Hal yang serupa juga pernah aku denger. Dan yang ini lebih mencengangkan. Sebuah gossip yang datang dari budheku yang bentar lagi mau besanan. Nah, calon besannya ini nih dulunya gadis asal Pacitan. Ngomong-ngomong soal Pacitan, pasti tau dong orang terkenal asal Pacitan? Nah si orang terkenal sama gadis asal Pacitan ini konon dulunya mereka itu tetanggaan. Dan mereka saling suka gitu lah. Tibalah waktu dimana orang terkenal pengen melamar si gadis. Tibalah waktunya juga lamaran si orang terkenal ditolak dengan alasan yang menurutku aneh: karena dia ‘suka makan’ -_-“ Lantas salah seorang yang ada dalam forum gossip malam itu nyeletuk, “Oh ya pantes suka makan.” Wkwk. Jadi menurut gossip itu nama-nama anak orang terkenal ini diambil dari nama calon besannya budheku. Trus mereka (yang ada di forum gossip) saling mencocokkan nama, anak pertama diambil dari nama ini lah, anak kedua dari nama itu lah. Ada-ada aja. Kasian banget ya… Pertama, kasian sama istri orang terkenal dengan alasan yang sama kayak di atas. Kedua, kasian sama orang terkenal yang ditolak lamarannya dengan alasan geje. Ketiga, kasian sama tante calon besannya budheku yang pasti sesekali dalam hidupnya mungkin pernah nyesel nolak lamaran itu. Keempat, om calon besan budheku yang ngeliat istrinya yang mungkin dengan bangga menceritakan kisah masa lalunya, yang kemudian kisah itu bisa sampai ke orang sipil seperti aku. Kelima, kasian sama calon istri sepupuku juga saudaranya yang mungkin pernah sesekali mikir jika ayah mereka si orang terkenal pasti hidup mereka bakal lebih makmur sejahtera. Yang terakhir kasian kami (yang ada di forum gossip) yang ngehabisin waktu buat ngomongin ataupun ndengerin hal ga jelas dang a penting kayak gitu. Dari cerita ini kita bisa liat ternyata emang bener ya kalau patah hati bisa membuat seseorang memacu semangatnya meraih kesuksesan. Secara, orang paling terkenal di Indonesia.
Sekali lagi, ini hanya gossip. Ga usah lah dipikirin terlalu berat, apalagi ikut nyebar-nyebar.

Mulailah pikiranku berkelana, mengembara nama teman-temanku. Ada beberapa nama yang ternyata berasal dari nama merek barang tertentu. Ada temenku yang katanya nama dia berasal dari merek lampu. Ya mungkin orang tuanya ingin anaknya jadi penerang bagi dunia, bagi orang-orang di sekitarnya, wkwk. Nama temenku bukan Philips loh ya, apalagi Maspion. Ga usah nebak-nebak nama dia siapa, aku juga baru tau kalau ada merek lampu kayak gini, mungkin udah lama lampu ini tidak diproduksi. Ini nama cewek dan cukup unique menurutku. Mungkin saat orang tuanya bingung anaknya mau dikasih nama apa, tiba-tiba lampu di rumahnya mati. Kemudian sang ayah pun bermaksud untuk mengganti lampunya, dan tiba-tiba, “Eh Bu, ini kok mereknya bagus ya?” “Hmm… iya bagus, jadiin nama anak kita aja gimana?” “Bagus tuh, trus nama panggilannya ‘ini’.” wkwk.

Ada lagi, yang ini lebih ngenes. Nama ini diperoleh dari merek obat kuat (-__-) Obat penguat rahim maksudnya. Jadi dulu rahim si ibu sempat lemah dan berkat obat kuat tersebut, temenku bisa terlahir ke dunia. “Alhamdulillah Nak, Mama berhasil melahirkan kamu,” kata Mama tersedu sedan. “Iya Alhamdulillah Ma, Mama hebat, Mama kuat, Papa bangga sama Mama. Makasih ya Ma…” kata Papa. “Iya, ini juga berkat obat kuat itu Pa,” “Iya Ma. Obat  kuat itu manjur banget ya. Mereknya apa Ma?” “-piiiip- Pa,” jawab Mama. “Nama mereknya bagus ya Ma. Kita harus mengenang jasanya, gimana kalau itu kita jadiin nama anak kita?” usul Papa. “Ide bagus itu Pa.” wkwkwk LOL.

Nama Muthia Nurul Hasanah sendiri juga punya cerita lho…
Jadi dari dulu itu aku ternyata udah penyakitan, maksudnya gampang sakit gitu.  Di usia beberapa minggu dari hari kelahiranku aku udah kena penyakit, demam kalau ga salah. Karena khawatir, aku pun dibawa ke rumah sakit. Saat itu aku belum diberi nama, terlalu bingung mau dikasih nama apa mungkin. Yang membawa aku ke rumah sakit kali ini adalah ayahku sendiri, maksudnya tanpa ibuku. Daaaan setiba di rumah sakit, “Nama anaknya siapa ya Pak?” tanya petugas bagian administrasi. “Emm… anonim, hehe.” Gak lucu banget kan ya? Bukaaan, jawaban ayahku adalah apa yang ada dalam benak beliau kala itu, yaituuuu “Nur Hasanah.” Keren kan? Nur itu cahaya, hasanah itu kebaikan. Jadi, aku diharapkan jadi cahaya kebaikan, wuuush… ya hampir sama lah kayak merek lampu, wkwk.

Sampai di rumah, dimulailah pendiskusian mengenai nama yang tepat buatku. Soalnya menurut ibuku ‘Nur’ itu udah mainstream, Nur Khoiromah, Nur Jannah, Nur Haliza, dll. Nama ‘Hasanah’ juga udah populer. Apalagi kalau keduanya digabungin. Maka diputuskan nama ‘Nur Hasanah’ ditambahi dengan ‘Muthia’ sebagai nama depannya dan ‘Nur’ diganti dengan ‘Nurul’ tanpa mengubah arti. Fyi, ‘Muthia’ itu artinya anak yang taat. Jadi, Muthia Nurul Hasanah itu …

18.2.13

Muthia kok makan Muthia ??!

Takeline 'Jeruk kok minum jeruk'-nya nutrisari kini masih eksis aja. Pasti tau kan tokoh iklan si Jeruk dengan Josua, gak kerasa udah bertahun-tahun menghiasi layar kaca Indonesia. Salut deh buat Nutrisari yang masih memegang komitmen skenario iklannya. Entah di awal cerita itu gimana, pasti pada akhirnya si Jeruk dengan mupengnya curi-curi waktu buat ngicipin nutrisari, lalu datanglah Josua kadang bersama teman-temannya menghalangi pelampiasan hasrat si Jeruk sambil berkata "Jeruk kok minum jeruk." Selalu saja begitu, si Jeruk yang selalu sial, atau kalau kata ibuku wowos, untuk sekedar menyeruput si nutrisari. Kasian banget itu si Jeruk, sejak Josua masih pake kupluk sampe sekarang masih aja begitu nasibnya. Baru tersadar juga... Salut sekali lagi buat Nutrisari, produknya terus eksis aja. Dari dulu yang jamannya Marimas sampe sekarang masih bisa bersaing sama Top Coffee. Dan sampai saat ini pun masih jadi minuman favoritku :9

Satu lagi, 'Temen makan temen.' Ungakapan ini sering diidentikkan dengan temen yang ngrebut pacar temennya sendiri. Menurutku ungkapan ini aneh banget. Kenapa ungkapan sejahat temen makan temen harus diartiin  ngrebut pacar temen? Kenapa gak langsung sesadis ngrebut suami/istri temen? (Naudzubillah...) Kalau dimisalin kita beli hape nih ya, yang namanya pacar itu baru diliatin ke kita hape yang mau kita beli itu gimana, "Ini silakan diliat dulu, dicoba aja dulu," kata mbak-mbak counternya. Kalau emang belum ada deal transaksi jual-belinya ya gak masalah kan ya kalau direbut sama temen, kan masih ada yang lain dengan kualitas sama yang bisa kita beli. Kecuali ya kalau barang itu udah kita beli, barulah dijaga bener-bener jangan sampe direbut alias dicolong orang lain.

Nah kalau yang ini, 'Muthia makan Muthia' bukanlah saya ingin membuat takeline iklan diri saya sendiri, bukan pula suatu ungakapan, konotasi, apalagi peribahasa. Wah kalian musti ngliat oon-nya muka gue saat ngepoin diri sendiri lewat google (emote indefinable).
Muthia itu...
terbuat dari tepung Chickpea, Methi (Fenugreek), garam, kunyit, bubuk cabai, dan ikatan opsional agen / pemanis seperti gula dan minyak.
bisa membantu menjaga pup agar teratur.
lezat.
bisa dikukus atau digoreng.
... Well, Muthia = Indian food. -_____- #sedih, emosi, guling-guling



Baked Muthia















Instant Muthia -__-


Padahal yaa, orangtua saya menamai saya Muthia itu artinya bagus lho... "Anak yang taat"
Aamiin, semoga terkabul menjadi anak yang taat...


Tapi jujur, aku pengen makan Muthia !! Dan masak pake tanganku sendiri. Walaupun kalau diliat dari gambarnya kurang meyakinkan, aku yakin, pasti, yang namanya Muthia itu enak, banget. #maksa