5.8.13

[RAMADHAN] Banyak Cerita Banyak Pelajaran

~Duo Tidur~

Jangan disangkal kalau aku bilang Ramadhan itu identik dengan bertebarannya kultum (kuliah tujuh menit) di seantero penjuru, khususnya di Indonesia. Lebih-lebih di masjid dan mushola dekat rumahku, mereka baiiiik sekali memberikan secara cuma-cuma extra time “sepuas pembicara” kepada kami yang haus akan siraman rohani ini. Karakter pengisi kultumnya pun beda-beda. Salah seorang berkarakter unik adalah tetanggaku sendiri, beliau membawakan ceramah dengan cara berdeklamasi. Tidak jarang tawaku lepas karenanya, tapi tetap tahu diri, maksudnya ketawanya dalam hati, hehe. Salah seoranng di sebelah kananku nyeletuk, “Kayak kethoprak.” Dengan suaranya yang berradius empat telinga ke samping kirinya, (lagi) aku melepaskan ‘tawa tapi tahu diri’-ku. "Kalau ada orang Jawa Timur pasti ketawa dengerin ini." "Kok?" "Lha wong kita ngomong biasa aja udah dibilang kayak kethoprak kok." (sekali lagi) ketawa lepas tapi tahu diri. Karakter pembicara yang paling sering kutemui adalah pembawaan yang lemah lembut, alon waton kelakon, khas jawanya kerasa banget. Gak cuma lembut, tapi mereka bawaannya terlalu santai, saking santainya frekuensi bunyi yang ada dalam dua telinga ini tidak mau berkompromi dengan frekuensi suara yang ia luncurkan. Ternyata inilah karakter favorit yang menjadi pilihan banyak orang.

Subuh hari ini kami memutuskan untuk berjalan ke mushola, mengingat beberapa kali ini sudah lebih sering ke masjid. Seusai jamaah subuh dilangsungkan, dengan segera salah seorang makmun berdiri dan mencapai mimbar untuk mengisi kultum pagi itu, tentu setelah waktu untuk berdoa dirasa cukup. Spontan posisi dudukku mantap mundur ke belakang untuk mencapai sebuah dinding berwarna hijau itu. Keadaan mushola tak berhijab itu membuatku dan jamaah akhwat lainnya tahu dengan jelas siapa penyiram rohani kami kali ini. Yak, aku tahu bapak itu. Seorang bapak yang maaf, sudah sepuh, juga memilih untuk menggunakan karakter favorit dan beliau sering menggunakan extra time-nya dengan sangat baik.

Sungguh bukan suatu hal yang mudah di saat ada gelombang suara yang seolah menimang-nimang, sandaran yang walaupun sama sekali gak empuk tapi bersahabat dengan punggung, hawa pagi yang sejuk nan lembut, kelembaban udara yang terbilang tinggi terselimuti oleh mukena yang cukup menghangatkan, ditambah lagi kami memanglah duo tidur yang cukup handal. Dengan keadaan yang kayak gitu ya mana bisa tahan, kelopak mata terlalu berat bah.

Sama halnya aku bisa melihat bapaknya, bapaknya pun bisa melihatku dengan jelas dan ketahuanlah kami yang sedang terkapar di sini. Beliau menyinggung, “Saya biasanya kalau pagi gak tidur, saya sudah membiasakannya. Kalau kita udah kebiasa, pagi tu ya gak bakalan ngantuk…” Sontak kedua mata ini pun terbuka, melek, melek, dan bener-bener MELEK! “Wah nyinggung mata gue nih,” =,= Aku baru tahu, ternyata mata pun, atau organ mana pun kali ya, juga bisa tersinggung yaa. “Mata boleh jadi melek, tapi hati ini sakit Pak…” (lebay lebay maaf) "Ya maaf Pak, ini murni bukan suatu kesengajaan Pak." Di lain sisi tidur itu tetap nikmat-Nya loh, ya gimana pun tetap harus kita syukuri. hehe, ngeles pinter yak.

Tapi setidaknya aku sadar kok dalam hal ini aku salah. Jadi, katanya orang Indonesia itu tingkat saling menghargainya rendah memang benar. Memang sudah seharusnya jika ada orang yang bicara kita memperhatikan dan mendengarkan. Seperti kalau posisi kita yang sedang berbicara di depan, pasti kita pengen diperhatikan dan didengarkan.

             -  Wah, berarti kalau ada kultum gak boleh tidur lagi nih!

-          -  Kultum subuh kemarin kamu ngapain mut? --v


[