25.9.13

[RAMADHAN] Banyak Cerita Banyak Pelajaran

~Anak Hawa~

Sudah dibilang, Ramadhan selalu bertebaran dengan siraman rohani. Kali ini adalah acara buka bersama di masjid. Tentu, tak lupa pasti ada pengajiannya. Bukan masalah ngantuk lagi kalau ini. Yang lebih kupedulikan sekarang adalah menggugurkan kewajiban bersosialisasi, niat yang buruk kurasa. Kalau isi pengajiannya oke, itu baru nilai plus. Baru nyadar kalau salah (0.o) setiap amal perbuatan selalu tergantung niat lho, hayoo.

Bukan itu poinnya. Jadi masjid kami itu punya teras yang memanjang di sisi sampingnya dan punya halaman yang cukup luas di depan teras tersebut. Pengajian-pengajian macam ini biasanya dilangsungkan di sini, dengan sistem yang kakung-kakung di atas teras dan yang setri-setri di halaman. Teras yang berkeramik kehitaman itu bisa dicapai dengan menaiki dua anak tangga. Di acara beginian bisa dibilang gak mungkin lah kalau ibu-ibu tidak membawa serta buah hati yang masih imut-imut, alias balita atau bayi.

Itu intro, yang ini ceritanya. Aku duduk menghadap ke selatan. Di sebelah kiriku ada bayi yang lagi anget-angetnya bisa jalan sendiri. Di sebelah kanan lumayan jauh ada bayi juga yang sedang heboh pengen merangkak kemana-mana. Bayi sebelah kiri sebut saja Kiki, yang sebelah kanan sebut saja Kaka. Karena Kiki sedang senang-senangnya berjalan dan bertualang (apasih) maka ia bermain-main di tiga anak tangga teras masjid. Merangkak naik, lalu turun lagi kembali ke tempat duduk ibunya. Lalu ia naik lagi dan sempat melambaikan tangannya bak seorang artis yang sedang naik ke atas panggung. Sungguh bahagianya, terlihat dari wajahnya.

Sementara si Kaka, melihat si Kiki ia mungkin ingin melakukan hal yang sama. Akan tetapi Ibu Kaka mungkin merasa rempong mengajak anaknya sehingga ia tidak membiarkan Kaka berada jauh darinya. Setiap Kaka merangkak beberapa meter menjauh, ibu Kaka langsung sigap menggendong Kaka dan kembali ke posisi duduk semula. Kuperhatikan dari awal waktu, kejadian itu sudah berulang beberapa kali. Tak heran jika si anak pun menangis. Karena kurasa Kaka sangat ingin mencapai lantai teras tapi sang ibu tak memperbolehkannya. Kupikir apa salahnya sih dengan bermain-mein di lantai teras sebuah masjid? gak bikin si anak dalam keadaan bahaya juga.

Sesuatu menelusup ke pikiranku. Hikmah ternyata, ada hikmah yang bisa kuambil dari kejadian sore itu. Ibu Kaka yang bisa dibilang over protecting cenderung menjadi penghalang anaknya untuk memperoleh apa yang ia inginkan. Cenderung menghambat perkembangan anak untuk latihan berjalan, merangkak, menghadapi tantangan.

Kadang kasih sayang diungkapkan dengan ke-cuek-kan. (eh nyambung gak ya? *loh)
~> Pelajaran berharga ini bagi calon ibu, lalala~

[akan dilanjutkan, walau udah jauh dari ramadhan]