13.9.12


Kututup pintu setenang mungkin, kulangkahkan kakiku pelan hingga aku yakin ini tidak akan diketahui siapapun. Orange tali sepatuku yang kata teman-teman menyilaukan mata sudah terlepas dari tadi dari ikatannya. Ini berarti memudahkanku untuk mengeluarkan kakiku dari dalamnya. Pelan-pelan kutelusuri rumah ini sebisa mungkin tanpa membuat suara. Kutemukan suatu pintu yang perlahan kuputar gagangnya. Kupastikan kembali tidak ada orang yang melihatku ada di dalam rumah ini, kuputar leherku. Baru kusadari sebuah pintu di seberang ruangan telah terbuka dengan lebar. Seseorang di dalam kamar itu pun menatap aku dengan ragu-ragu. Dengan rok merahku yang menyala ini ia pun menyadari keberadaanku.
“Elis!!!”
Aku bergeming. Sesaat aku terhenti untuk berpikir apakah aku harus pura-pura tidak mendengarnya dan masuk ke dalam kamar atau membalikkan badan dan memperlihatkan keletihanku.
“Sini Nak, ada makanan buatmu!”
Suara nafasku terdengar keras, “selalu,” kataku berbisik seolah hanya malaikat di sebelahku yang dapat mendengarnya. Akhirnya kubalikkan badanku dan menuju kamar nenekku.
“Ini ada kue talam sama timus, dimaem sana!” menyodorkan sepiring kecil makanan tersebut.
“Aku udah punya. Ini kan ibu belikan buat nenek. Aku ga mau,” jawabku sembari ingin buru-buru meninggalkan tempat aku berpijak.

Nenekku sudah renta, ditambah lagi dengan gangguan pada indera pendengarannya. Wanita itu belum saja menurunkan piring itu dan tetap menyodorkan ke arahku. Mungkin jawabanku tidak terdengar olehnya, pikirku. Piring itu pun kubawa. Bodohnya, tak sedikitpun aku ingat adanya kata terimakasih. Kuletakkan piring itu di meja makan tanpa kusentuh maupun kulirik makanan yang ada di atasnya. Tanpa berpikir panjang kubergegas menuju ke kamar yang sedari tadi ingin aku tuju.
“Nenek pikir aku masih anak-anak apa, dikasih makanan terus girangnya bukan main,” kataku sembari mengganti kemeja putih dengan kaos. “Kalau Cuma makanan kayak gitu sih aku bisa jajan sendiri.”
“Selalu aja manggil-manggil ga jelas, kan capek,” begitu seterusnya aku memuntahkan omelanku hingga kuterlelap.

*

“Ya Allah… maafkan semua kesalahanku. Jagalah ia di sisimu. Jauhkan ia dari siksamu yang pedih, aku juga. Pertemukan kami di surgamu ya Rabb…”
“Iya, pertemukan kami di surgamu agar aku dapat menghaturkan maafku kepadanya yang tek sempat kukatakan di dunia. Sungguh, aku menyesal terhadap apa yang pernah kuperbuat.”
Kini aku sadar nenekku hanya ingin aku berada di sampingnya, ia ingin melihatku senang. Mungkin ia tak cukup mengerti bahwa anak kelas 6 sudah tidak se-exciting seperti anak 6 tahun ketika ditawarkan makanan. Atau mungkin anak kelas 6 ini yang cukup bodoh yang tidak mengerti hal itu merupakan bentuk perhatian. Hanya makanan itu yang ia punyai, yang ia harapkan membuatku tersenyum, sedikit bahagia.
Untuk siapa saja yang masih bisa melihat kakek nenek maupun orangtua kalian tersenyum, buatlah mereka selalu tersenyum…