Kututup pintu setenang
mungkin, kulangkahkan kakiku pelan hingga aku yakin ini tidak akan diketahui
siapapun. Orange tali sepatuku yang kata teman-teman menyilaukan mata sudah
terlepas dari tadi dari ikatannya. Ini berarti memudahkanku untuk mengeluarkan
kakiku dari dalamnya. Pelan-pelan kutelusuri rumah ini sebisa mungkin tanpa
membuat suara. Kutemukan suatu pintu yang perlahan kuputar gagangnya.
Kupastikan kembali tidak ada orang yang melihatku ada di dalam rumah ini, kuputar leherku. Baru kusadari sebuah pintu di seberang ruangan telah terbuka
dengan lebar. Seseorang di dalam kamar itu pun menatap aku dengan ragu-ragu.
Dengan rok merahku yang menyala ini ia pun menyadari keberadaanku.
“Elis!!!”
Aku bergeming. Sesaat
aku terhenti untuk berpikir apakah aku harus pura-pura tidak mendengarnya dan
masuk ke dalam kamar atau membalikkan badan dan memperlihatkan keletihanku.
“Sini Nak, ada makanan
buatmu!”
Suara nafasku
terdengar keras, “selalu,” kataku berbisik seolah hanya malaikat di sebelahku
yang dapat mendengarnya. Akhirnya kubalikkan badanku dan menuju kamar nenekku.
“Ini ada kue talam
sama timus, dimaem sana!” menyodorkan sepiring kecil makanan tersebut.
“Aku udah punya. Ini
kan ibu belikan buat nenek. Aku ga mau,” jawabku sembari ingin buru-buru
meninggalkan tempat aku berpijak.
Nenekku sudah renta,
ditambah lagi dengan gangguan pada indera pendengarannya. Wanita itu belum saja
menurunkan piring itu dan tetap menyodorkan ke arahku. Mungkin jawabanku tidak
terdengar olehnya, pikirku. Piring itu pun kubawa. Bodohnya, tak sedikitpun aku
ingat adanya kata terimakasih. Kuletakkan piring itu di meja makan tanpa
kusentuh maupun kulirik makanan yang ada di atasnya. Tanpa berpikir panjang kubergegas
menuju ke kamar yang sedari tadi ingin aku tuju.
“Nenek pikir aku masih
anak-anak apa, dikasih makanan terus girangnya bukan main,” kataku sembari
mengganti kemeja putih dengan kaos. “Kalau Cuma makanan
kayak gitu sih aku bisa jajan sendiri.”
“Selalu aja
manggil-manggil ga jelas, kan capek,” begitu seterusnya aku memuntahkan
omelanku hingga kuterlelap.
*
“Ya Allah… maafkan
semua kesalahanku. Jagalah ia di sisimu. Jauhkan ia dari siksamu yang pedih,
aku juga. Pertemukan kami di surgamu ya Rabb…”
“Iya, pertemukan kami
di surgamu agar aku dapat menghaturkan maafku kepadanya yang tek sempat
kukatakan di dunia. Sungguh, aku menyesal terhadap apa yang pernah kuperbuat.”
Kini aku sadar nenekku
hanya ingin aku berada di sampingnya, ia ingin melihatku senang. Mungkin ia tak
cukup mengerti bahwa anak kelas 6 sudah tidak se-exciting seperti anak 6 tahun
ketika ditawarkan makanan. Atau mungkin anak kelas 6 ini yang cukup bodoh yang
tidak mengerti hal itu merupakan bentuk perhatian. Hanya makanan itu yang ia
punyai, yang ia harapkan membuatku tersenyum, sedikit bahagia.
Untuk siapa saja yang
masih bisa melihat kakek nenek maupun orangtua kalian tersenyum, buatlah mereka
selalu tersenyum…