1.6.15



Kenapa harus menyesal ketika yang tidak kamu lakukan belum tentu membuatmu lebih baik? Itu mengapa manusia setidaknya harus berdo'a "Tunjukkanlah kami jalan yang lurus," minimal 17x dalam sehari, agar kita tak perlulah bersedih, tak perlulah menyesal terlalu dalam. Karena, apa yang kita sesali itu merupakan jalan yang Ia tunjukkan, merupakan jalan yang Ia pilihkan.

Semangat yaa bagi masing-masing kita yang harus terus berjuang ^^

Hasil selalu merefleksikan perjuangan kok, kalau bukan dalam bentuk yang kita inginkan sekarang, mungkin dalam bentuk yang Ia inginkan, di waktu yang lebih tepat.

16.5.15

Sederhana :)

Kupikir cinta yang paling baik adalah cinta yang sederhana. Cinta tanpa syarat. Cinta tanpa isyarat. Kupikir lagi, tidak. Cinta yang paling baik adalah cinta yang secukupnya. Bukan untuk tetap mendekap orang yang kau cintai dalam pelukan tanpa tersakiti. Cinta yang cukup adalah untukmu sendiri.
Supaya jika cintamu pergi, kau tidak terlalu patah hati. Supaya jika cintamu sejati, kau dan dia akan bersama menikmati.
Hujan adalah perjuangan antara bumi dan langit, Orang yang pantas kau cintai, tak mungkin membiarkanmu berjuang sendirian bukan? Berjuang itu macam-macam bentuknya. Menyerah bukan bentuk berjuang.
-Teman Imaji, Mutia Prawitasari-

19.2.15

No Title Needed

Langit cerah, matahari bersinar tak semengerikan seperti biasanya. Untuk suatu keperluan aku harus pergi ke tempatnya. "Oke nanti aku jemput di perempatan ya," begitu kira-kira isi balasan sms-nya.

"Aku udah sampe Lis, di depan Janu Putera ya," cepat-cepat aku mengabarinya melalui pesan singkat setibaku di tempat yang ia maksud tadi. Untuk mencapai tempat ini dari rumahnya bisa kuperkirakan memakan waktu sekitar 10 menit menggunakan sepeda motor. Mungkin ditambah beberapa menit untuknya mempersiapkan diri seperti berganti baju (bila perlu), mengenakan kerudung, dan mengeluarkan motor. Waktu yang cukup lama apabila digunakan untuk menunggu. Kupandangi sebuah toko swalayan yang lumayan besar dimana aku berhenti tepat di depannya. Satu kali pun aku belum pernah memasukinya. Dari sini terlihat baju-baju dagangan dipajang di depan pintu masuk persis. Tak sama dengan swalayan pada umumnya, yang lebih memilih menata sembako-sembako di depan pintu utama toko. Kehabisan gaya, aku memilih menikam kegabutanku dengan bermain hape. Sekedar mengecek apakah ada sms yang masuk. Jika tidak ada maka aku hanya bermain scroll sana scroll sini seolah menjadi kesibukan tersendiri selain aku mengamati riuhnya suasana minggu pagi ini.

Seorang wanita entah dia gadis entah ibu muda mengayuh sepedanya ke arahku. Sebagai seseorang yang sedang menunggu teman dengan menggunakan fasilitas trotoar ini, aku hanya memperhatikannya sebagai seseorang pengguna jalan yang akan melewatiku begitu saja. Rambutnya berkibar diterpa angin jalanan, kayuhannya tinggal sejengkal lagi dari posisiku. Tak dinyana perempuan itu berhenti disana. Yak, di depan motorku berhenti. Aku lupa apa yang selanjutnya ia katakan. Kejadian ini sudah lumayan lama sekitar kelas tiga SMA dan daya ingatku begitu cetek. Yang aku ingat maksud dari perkataannya ialah dia meminta uang. Bukan, ia meminta belas kasihan lebih tepatnya. Entah apa yang menghipnotisku aku keluarkan dompet dan sedikit mengintip isinya. "Gak ada uang receh," jawabku jujur. Dengan berkata begitu kupikir orang itu langsung akan pergi. Tapi tidak. Ia bilang bahwa ia harus membeli beras dan tidak mempunyai cukup uang. Kemudian ia mengacung-acungkan jari telunjuknya seperti memberi tahu letak sebuah tempat. Kuurut kemana jari itu ditunjuknya. Karena aku belum begitu mafhum dengan lokasi sekitar sini, aku pun hanya memasang wajah bingung dan bengong tak mengerti apa yang ia maksud.

Yang aku ingat wanita itu menuntun sepedanya ke arah telunjuknya ditujukan. Entah apa yang menghipnotisku kembali, aku mengikutinya bersama dengan motorku kulajukan pelan-pelan. Kami melalui sebuah gang di samping toko swalayan, yang tidak kusangka sebelumnya bahwa itu adalah jalan yang bisa dilalui. Berhentilah kami di suatu tempat. Nampaknya aku bisa melihat dagangan-dagangan seperti sayur mayur bersama dengan penjualnya. Kutafsirkan kemudian tempat dimana aku berhenti ialah sebuah pasar tradisional. Dia membawaku ke salah satu kios kelontong. Sementara wanita itu berbicara dengan penjaga warung, aku menyempatkan diri untuk menilik pesan baru yang masuk ke hapeku. Seperti yang kuduga, sms masuk dari Lisa menanyakan keberadaanku. "Tunggu bentar Lis, aku lagi nolonginn orang nih," balasku kemudian. Sekantong beras sudah berada di atas meja dagangan. Sekali lagi, entah apa yang menghipnotisku kembali sekonyong-konyong aku mengeluarkan uang untuk membayarnya.

Aku menerima uang kembalian. Wanita itu menerima beras. Lalu ia berterimakasih padaku. Aku pun membalas ucapan terimakasihnya. Lalu kami berpisah. Aku masih merasa lucu atas kejadian ini, merasa heran dengan apa yang telah kulakukan barusan. Kutengok ke sana dan kemari, melihat adanya kemungkinan munculnya seseorang  sebagai kru tivi dan memberikan uang atas dermaku barusan. Tolong bantu aku mengingatnya, aku lupa nama program televisi ini, dimana ada seseorang yang sangat membutuhkan bantuan dan apabila ada seseorang yang mau membantunya maka ia akan dapat hadiah dari program tivi tersebut. Biasanya orang yang mau menolong tidak kalah kasihannya sama yang ditolong. Acaranya dilanjutkan dengan menceritakan profil si penolong dengan kisah menyayatnya. Mungkin kru tivi buru-buru mengurungkan niatnya ketika melihatku tak begitu menyedihkan sehingga kurang menarik untuk diceritakan profilnya, mengingat aku membawa sepeda motor, menggenggam handphone, menggendong ransel, dan memakai baju yang sudah disetrika (*apasih* maksudnya bajunya gak lusuh-lusuh). Mungkin seharusnya kehadiranku sebagai peran yang ga mau nolongin, "Parah, punya motor punya handphone gak mau nolongin," kritik penonton yang harusnya didapatkan. Mungkin setelah melihatku percakapan yang terjadi antar kru begini, "Anak itu beneran nolongin, yuk turun kasih duit." "Ga usah deh, kayaknya dia anak orang mampu. Duitnya kita kasih ke orang yang ga mampu yang mau nolongin aja. Buat dia kita kasih doa semoga masuk surga..." "AAMIIIIIN :)" hehehe.

Hahaha imajinasiku terlalu berlebih. Tanpa pikir panjang, aku kembali ke tempat semula, dimana aku berjanji menunggu Lisa disana. "Ya ampun Mut aku takut banget kamu dijahatin, dihipnotis orang apa gimana, lha sms-mu aneh banget kok," komentarnya kemudian setelah kuceritakan detail peristiwanya. Entahlah, mungkin memang aku dihipnotis, entah apa yang menghipnotisku. Lucu saat mengingatnya. Tapi pada saat itu rasanya berapa puluh ribu uangku rasanya gak sia-sia dan dompetku rela saja untuk kehilangannya. Lucu.


Wahai wanita yang tak pernah aku ketahui namamu, yang sudah aku lupakan wajahmu, semoga kamu tetap sehat ya dimana kamu berada dan selalu mendapat naungan perlindungan-Nya. Semisal kamu udah lupa sama aku gapapa, gak usah dikenang, aku bukan pahlawanmu. Yang kupinta darimu hanya satu, satu kali saja tolong doakan aku agar aku mendapatkan tiket untuk memasuki surga-Nya. Begitu juga kamu dan keluarga sanak saudara kita, akan dipertemukan di sana. Aamiiin :)

7.2.15

Hari Ketujuh Minggu Pertama Bulan Kedua Tahun Dua Ribu Lebih Lima Belas


Aku terlalu profesional dalam diam, satu-satunya yang bisa aku banggakan. Seprofesional Chairil Anwar menguntai kata, seprofesional Raisa melengkingkan nada, pun seprofesional kucing mengaburkan duka.
Berasa di-freeze, ketika wacana jauh-jauh hari hanya tinggal sebuah wacana besar. Gara-garanya... gatau kenapa, well. Tiba-tiba senyap. Tiba-tiba lenyap.
Tapi kata pepatah diam itu emas. Tapi kata orang, apabila diam itu emas maka aku akan jadi kaya karena aku terlalu profesional dalam diam.