22.7.14

Seratusnya...

Alika terbungkam seketika. Seorang lelaki berbaju merah di depannnya kini mulai mengerutkan dahinya.
"Berapa Mas?"
"Dua puluh ribu seratus Mbak,"
Kembali Alika menggasak dompet mungilnya, nihil. Seorang ibu dibelakangnya mengetuk-etuk sepatu pantovel hitam yang dipakainya.
"Seratus rupiahnya dibayar pakai permen boleh Mas?" tanya Alika sambil memamerkan gigi berkawatnya.

6.7.14

Setenang Hari Tenang di Medsos

Mulai dari sini aku akan melupakan apa yang harus aku lupakan dari dulu.
Mulai meninggalkan apa yang seharusnya aku tinggalkan dari dulu.
Mencoba lebih menahan lagi apa yang selama ini aku tahan, dan yang seharusnya sudah aku tahan dari dulu.
Mencoba tidak memulai lagi apa yang seharusnya tidak aku mulai. Dari dulu.
Sakit. Kecewa. Gagal paham.
Prasangka yang selama ini baik semoga tetep baik ya nak.
Prasangka buruk hilanglah. Jangan ganggu.
Lelah untuk bermain. Petak umpet. Ketemu. Bahagia. Ketemu. Kecewa.
Maaf.
Diam. Damai. Tenang.
Aku akan terus berdo’a. Bukan untuk dendam. Untuk kebaikan. Kita.
Mencoba membaca lagi. Merenungi lagi. Menyelam kembali. Pada sebuah tulisan, yang gak akan aku publish, yang selalu mengingatkanku. Di saat aku merasa seperti ini. Di saat aku jatuh seperti ini.
Agar aku bisa menjadi Muthia kembali. Bisa melalui jalan yang lurus. Lebih lurus.
Aku akan terus berdo’a. Untuk memohon ampunan. Untuk memohon maaf. Untuk kebaikan. Kita.

Menyelam dalam kesibukan. Yang lebih berkah. Semoga kesibukan yang kita jalani berkah.
Aamiin :)

Mencoba menulis dalam ketenangan di hari tenang pertama Pilpres 2014. Persis seperti di medsos, tenang, tapi tetap riuh ramai.

#pokeme #pokeyou #yesyou