31.8.14

Bahkan



Sedih ya saat kamu sadar ternyata kamu cuma sendiri disini. Sedih ya saat teman-teman yang kamu harapkan ada ternyata mereka memilih untuk tidak bersama. Sedih saat mereka gak memberi bantuan bahkan ketika kamu memintanya, dan padahal kamu berharap banget mereka bakal nawarin bantuan bahkan ketika kamu terlihat masih kuat menghadapinya. Tanpa banyak penjelasan pun kamu tahu kalau mereka sibuk, tapi salahkah mengharapkan mereka untuk setidaknya menanyakan "Apa kabar?" atau sekedar ucapan "Semangaat!"


Mungkin apa yang kita sebut keluarga ini tak sepenuh hati kita membentuknya sebuah keluarga, dimana kita merasa pulang dan berkumpul bukan karena ada maunya. Ternyata impian hanyalah sebuah impian. Oh tidak, mungkin hanya impianku seorang. Kalian dengan senang hati, tanpa kata perintah, bahkan terburu-buru untuk meninggalkan jauh dari sini. Tinggallah beberapa dari kita disini, yang masih peduli, atau bahkan yang kalian anggap sebagai tumbal ikhlas hati.
Andai aku bisa ungkapkan "Jangan pergiiii," atau yah setidaknya "Ok, goodbye."

Kutuliskan ini tanpa tedeng aling-aling, entah berharap kalian akan tahu atau enggak, entah berharap kalian merasa tulisan ini nyinggung kalian atau enggak.

2.8.14

Di bawah matahari yang terik, berlapis kulit hitam yang terbakar karenanya, dan tenggorok yang merindukan air mengalir. Itulah yang dirasakan mereka ketika berjalan di tengah-tengah mobil yang mengantre lampu hijau dengan membawa senjata mereka masing-masing, yaitu beberapa tutup botol Coca Cola, Sprite, ataupun Fanta yang dirangkai pada kayu tak bertuan yang mereka temukan di jalan. Beberapa pengamen yang lebih mujur membawa gitar sebagai senjatanya berharap akan lebih banyak koin yang didapat. Yang menjadi modal utama dalam arena ini bukanlah suara yang merdu maupun lantang, hanya doa yang membekali dengan harapan banyak orang dermawan yang senantiasa melanggar peraturan daerah. Begitulah yang mereka jalani demi sesuap nasi yang akan mereka makan di bawah papan reklame “Dilarang Memberi Uang kepada Pengemis/Pengamen.”

Itulah kehidupan mereka yang cukup berbeda dengan kehidupanku yang masih bisa melihat tawa mereka lewat jendela mobil. Tapi setidaknya aku tahu mereka mempunyai sebuah mimpi. Mimpi yang besar, mungkin ingin menjadi penyanyi terkenal seperti beberapa penyanyi Indonesia yang memulai karirnya dengan mengadu nasib di jalanan kota. Atau mungkin sekedar mimpi kecil seperti ingin mendengar gemericik koin yang mereka kantongi dan makan kenyang hari ini. Kurasa itu tak cukup menyedihkan melihat canda tawa yang menemani perjuangan hidup mengejar mimpi mereka masing-masing. Mungkin merekalah yang harus kasihan padaku, yang selama belasan tahun hidup tak memiliki tujuan. Hidupku mungkin bagai daun yang jatuh ke sungai dan hanyut bersama alirannya.

Pak Bambang kembali melambaikan tangan ketika salah satu dari mereka mendekati mobil kami. Aku hanya terdiam. Dengan dalih bahwa aku adalah seorang yang taat aturan mungkin mampu menghalalkan keterdiamanku. Aku usir mentah-mentah dugaan bahwa aku sebenarnya tak peduli kehadiran mereka. Bagaimanapun juga aku masih manusia, masih memiliki rasa simpati terhadap orang-orang yang berada di bawah. Kutelaah lagi apa yang selama ini pernah aku lakukan. Merasa jijik pada diri sendiri, sampai kepalaku pusing pun aku belum menemukan titik temu dimana aku ikut serta membantu mewujudkan kehidupan mereka yang lebih baik.

Beberapa receh yang aku masukkan begitu saja di dompet kini aku keluarkan setelah sekian lama mendekam di sana. Kini tempat barunya ialah mangkuk mungil yang sengaja ditaruh di dashboard mobil yang memang difungsikan untuk meletakkan receh-receh kembalian daripada menggelembungkan  dompet. Setelah kosong sekian lama kini mangkuk mungil itu ada isinya walau tak seberapa. Pak Bambang kepergok memandangku heran. Aku hanya terdiam. “Dompetku penuh,” ujarku kemudian untuk sedikit melumerkan suasana canggung di antara kami.


Aku paham betul, ini bukanlah suatu solusi.

You're Not Sorry




All this time I was wasting,
Hoping you would come around
I've been giving out chances every time
And all you do is let me down
And it's taken me this long
Baby but I figured you out
And you're thinking we'll be fine again,
But not this time around

You don't have to call anymore
I won't pick up the phone
This is the last straw
Don't wanna hurt anymore
And you can tell me that you're sorry
But I don't believe you baby
Like I did before
You're not sorry, no no oh

Looking so innocent,
I might believe you if I didn't know
Could've loved you all my life
If you hadn't left me waiting in the cold
And you got your share of secrets
And I'm tired of being last to know
And now you're asking me to listen
Cause it's worked each time before

But you don't have to call anymore
I won't pick up the phone
This is the last straw
Don't wanna hurt anymore
And you can tell me that you're sorry
But I don't believe you baby
Like I did before
You're not sorry, no no, oh

You're not sorry no no oh

You had me crying for you honey
And it never would've gone away, no
You used to shine so bright
But I watched all of it fade

So you don't have to call anymore
I won't pick up the phone
This is the last straw
There's nothing left to beg for
And you can tell me that you're sorry
But I don't believe you baby
Like I did before
You're not sorry, no no oh

You're not sorry, no no oh