Di balik sebuah batu bernama ‘nama’ terdapat udang bernama
‘cerita’. Simpelnya: ada cerita di balik sebuah nama. Inspirasi dari forga
media ct kemarin sore menarik pikiranku untuk mengembara lebih jauh.
Jadi di kpft barat kemarin, forum kami melakukan deep intro.
Orang pertama memperkenalkan diri dan yang pertama ia ceritakan mengenai
namanya (ya iyalah --). Speechless, karena konon katanya nama temenku ini
diambil dari nama seorang spesial yang pernah ada di dalam hidup ayahnya. Nama
seorang spesial itu disusun sedemikian rupa sehingga terbentuk nama yang telah
disandang temanku selama 20-an tahun. Begitu juga nama dari kedua adiknya.
Kasian banget. Bukan kasian sama anaknya yang asal mula namanya kayak gitu, toh
nama mereka bagus-bagus kok. Bukan kasian sama bapaknya juga yang mungkin dulu
sedih banget (atau mungkin sedih aja) pas ditinggalin mantannya. Yang kasian
jelas ibunya, “Ternyata suamiku menyimpan wanita lain di dalam nama
anak-anakku…” :’(
Hal yang serupa juga pernah aku denger. Dan yang ini lebih
mencengangkan. Sebuah gossip yang datang dari budheku yang bentar lagi mau
besanan. Nah, calon besannya ini nih dulunya gadis asal Pacitan.
Ngomong-ngomong soal Pacitan, pasti tau dong orang terkenal asal Pacitan? Nah
si orang terkenal sama gadis asal Pacitan ini konon dulunya mereka itu
tetanggaan. Dan mereka saling suka gitu lah. Tibalah waktu dimana orang
terkenal pengen melamar si gadis. Tibalah waktunya juga lamaran si orang
terkenal ditolak dengan alasan yang menurutku aneh: karena dia ‘suka makan’
-_-“ Lantas salah seorang yang ada dalam forum gossip malam itu nyeletuk, “Oh
ya pantes suka makan.” Wkwk. Jadi menurut gossip itu nama-nama anak orang
terkenal ini diambil dari nama calon besannya budheku. Trus mereka (yang ada di
forum gossip) saling mencocokkan nama, anak pertama diambil dari nama ini lah,
anak kedua dari nama itu lah. Ada-ada aja. Kasian banget ya… Pertama, kasian
sama istri orang terkenal dengan alasan yang sama kayak di atas. Kedua, kasian
sama orang terkenal yang ditolak lamarannya dengan alasan geje. Ketiga, kasian
sama tante calon besannya budheku yang pasti sesekali dalam hidupnya mungkin
pernah nyesel nolak lamaran itu. Keempat, om calon besan budheku yang ngeliat
istrinya yang mungkin dengan bangga menceritakan kisah masa lalunya, yang
kemudian kisah itu bisa sampai ke orang sipil seperti aku. Kelima, kasian sama
calon istri sepupuku juga saudaranya yang mungkin pernah sesekali mikir jika
ayah mereka si orang terkenal pasti hidup mereka bakal lebih makmur sejahtera.
Yang terakhir kasian kami (yang ada di forum gossip) yang ngehabisin waktu buat
ngomongin ataupun ndengerin hal ga jelas dang a penting kayak gitu. Dari cerita
ini kita bisa liat ternyata emang bener ya kalau patah hati bisa membuat
seseorang memacu semangatnya meraih kesuksesan. Secara, orang paling terkenal
di Indonesia.
Sekali lagi, ini hanya gossip. Ga usah lah dipikirin terlalu
berat, apalagi ikut nyebar-nyebar.
Mulailah pikiranku berkelana, mengembara nama teman-temanku.
Ada beberapa nama yang ternyata berasal dari nama merek barang tertentu. Ada
temenku yang katanya nama dia berasal dari merek lampu. Ya mungkin orang tuanya
ingin anaknya jadi penerang bagi dunia, bagi orang-orang di sekitarnya, wkwk.
Nama temenku bukan Philips loh ya, apalagi Maspion. Ga usah nebak-nebak nama
dia siapa, aku juga baru tau kalau ada merek lampu kayak gini, mungkin udah
lama lampu ini tidak diproduksi. Ini nama cewek dan cukup unique
menurutku. Mungkin saat orang tuanya bingung anaknya mau dikasih nama apa,
tiba-tiba lampu di rumahnya mati. Kemudian sang ayah pun bermaksud untuk
mengganti lampunya, dan tiba-tiba, “Eh Bu, ini kok mereknya bagus ya?” “Hmm…
iya bagus, jadiin nama anak kita aja gimana?” “Bagus tuh, trus nama
panggilannya ‘ini’.” wkwk.
Ada lagi, yang ini lebih ngenes. Nama ini diperoleh dari
merek obat kuat (-__-) Obat penguat rahim maksudnya. Jadi dulu rahim si ibu
sempat lemah dan berkat obat kuat tersebut, temenku bisa terlahir ke dunia.
“Alhamdulillah Nak, Mama berhasil melahirkan kamu,” kata Mama tersedu sedan. “Iya
Alhamdulillah Ma, Mama hebat, Mama kuat, Papa bangga sama Mama. Makasih ya Ma…”
kata Papa. “Iya, ini juga berkat obat kuat itu Pa,” “Iya Ma. Obat kuat itu manjur banget ya. Mereknya apa Ma?”
“-piiiip- Pa,” jawab Mama. “Nama mereknya bagus ya Ma. Kita harus mengenang
jasanya, gimana kalau itu kita jadiin nama anak kita?” usul Papa. “Ide bagus
itu Pa.” wkwkwk LOL.
Nama Muthia Nurul Hasanah sendiri juga punya cerita lho…
Jadi dari dulu itu aku ternyata udah penyakitan, maksudnya
gampang sakit gitu. Di usia beberapa
minggu dari hari kelahiranku aku udah kena penyakit, demam kalau ga salah. Karena
khawatir, aku pun dibawa ke rumah sakit. Saat itu aku belum diberi nama,
terlalu bingung mau dikasih nama apa mungkin. Yang membawa aku ke rumah sakit
kali ini adalah ayahku sendiri, maksudnya tanpa ibuku. Daaaan setiba di rumah
sakit, “Nama anaknya siapa ya Pak?” tanya petugas bagian administrasi. “Emm…
anonim, hehe.” Gak lucu banget kan ya? Bukaaan, jawaban ayahku adalah apa yang
ada dalam benak beliau kala itu, yaituuuu “Nur Hasanah.” Keren kan? Nur itu
cahaya, hasanah itu kebaikan. Jadi, aku diharapkan jadi cahaya kebaikan, wuuush…
ya hampir sama lah kayak merek lampu, wkwk.
Sampai di rumah,
dimulailah pendiskusian mengenai nama yang tepat buatku. Soalnya menurut ibuku ‘Nur’
itu udah mainstream, Nur Khoiromah, Nur Jannah, Nur Haliza, dll. Nama ‘Hasanah’
juga udah populer. Apalagi kalau keduanya digabungin. Maka diputuskan nama ‘Nur
Hasanah’ ditambahi dengan ‘Muthia’ sebagai nama depannya dan ‘Nur’ diganti
dengan ‘Nurul’ tanpa mengubah arti. Fyi, ‘Muthia’ itu artinya anak yang taat. Jadi,
Muthia Nurul Hasanah itu …