7.3.13

Di Balik Sebuah Nama


Di balik sebuah batu bernama ‘nama’ terdapat udang bernama ‘cerita’. Simpelnya: ada cerita di balik sebuah nama. Inspirasi dari forga media ct kemarin sore menarik pikiranku untuk mengembara lebih jauh.

Jadi di kpft barat kemarin, forum kami melakukan deep intro. Orang pertama memperkenalkan diri dan yang pertama ia ceritakan mengenai namanya (ya iyalah --). Speechless, karena konon katanya nama temenku ini diambil dari nama seorang spesial yang pernah ada di dalam hidup ayahnya. Nama seorang spesial itu disusun sedemikian rupa sehingga terbentuk nama yang telah disandang temanku selama 20-an tahun. Begitu juga nama dari kedua adiknya. Kasian banget. Bukan kasian sama anaknya yang asal mula namanya kayak gitu, toh nama mereka bagus-bagus kok. Bukan kasian sama bapaknya juga yang mungkin dulu sedih banget (atau mungkin sedih aja) pas ditinggalin mantannya. Yang kasian jelas ibunya, “Ternyata suamiku menyimpan wanita lain di dalam nama anak-anakku…” :’(

Hal yang serupa juga pernah aku denger. Dan yang ini lebih mencengangkan. Sebuah gossip yang datang dari budheku yang bentar lagi mau besanan. Nah, calon besannya ini nih dulunya gadis asal Pacitan. Ngomong-ngomong soal Pacitan, pasti tau dong orang terkenal asal Pacitan? Nah si orang terkenal sama gadis asal Pacitan ini konon dulunya mereka itu tetanggaan. Dan mereka saling suka gitu lah. Tibalah waktu dimana orang terkenal pengen melamar si gadis. Tibalah waktunya juga lamaran si orang terkenal ditolak dengan alasan yang menurutku aneh: karena dia ‘suka makan’ -_-“ Lantas salah seorang yang ada dalam forum gossip malam itu nyeletuk, “Oh ya pantes suka makan.” Wkwk. Jadi menurut gossip itu nama-nama anak orang terkenal ini diambil dari nama calon besannya budheku. Trus mereka (yang ada di forum gossip) saling mencocokkan nama, anak pertama diambil dari nama ini lah, anak kedua dari nama itu lah. Ada-ada aja. Kasian banget ya… Pertama, kasian sama istri orang terkenal dengan alasan yang sama kayak di atas. Kedua, kasian sama orang terkenal yang ditolak lamarannya dengan alasan geje. Ketiga, kasian sama tante calon besannya budheku yang pasti sesekali dalam hidupnya mungkin pernah nyesel nolak lamaran itu. Keempat, om calon besan budheku yang ngeliat istrinya yang mungkin dengan bangga menceritakan kisah masa lalunya, yang kemudian kisah itu bisa sampai ke orang sipil seperti aku. Kelima, kasian sama calon istri sepupuku juga saudaranya yang mungkin pernah sesekali mikir jika ayah mereka si orang terkenal pasti hidup mereka bakal lebih makmur sejahtera. Yang terakhir kasian kami (yang ada di forum gossip) yang ngehabisin waktu buat ngomongin ataupun ndengerin hal ga jelas dang a penting kayak gitu. Dari cerita ini kita bisa liat ternyata emang bener ya kalau patah hati bisa membuat seseorang memacu semangatnya meraih kesuksesan. Secara, orang paling terkenal di Indonesia.
Sekali lagi, ini hanya gossip. Ga usah lah dipikirin terlalu berat, apalagi ikut nyebar-nyebar.

Mulailah pikiranku berkelana, mengembara nama teman-temanku. Ada beberapa nama yang ternyata berasal dari nama merek barang tertentu. Ada temenku yang katanya nama dia berasal dari merek lampu. Ya mungkin orang tuanya ingin anaknya jadi penerang bagi dunia, bagi orang-orang di sekitarnya, wkwk. Nama temenku bukan Philips loh ya, apalagi Maspion. Ga usah nebak-nebak nama dia siapa, aku juga baru tau kalau ada merek lampu kayak gini, mungkin udah lama lampu ini tidak diproduksi. Ini nama cewek dan cukup unique menurutku. Mungkin saat orang tuanya bingung anaknya mau dikasih nama apa, tiba-tiba lampu di rumahnya mati. Kemudian sang ayah pun bermaksud untuk mengganti lampunya, dan tiba-tiba, “Eh Bu, ini kok mereknya bagus ya?” “Hmm… iya bagus, jadiin nama anak kita aja gimana?” “Bagus tuh, trus nama panggilannya ‘ini’.” wkwk.

Ada lagi, yang ini lebih ngenes. Nama ini diperoleh dari merek obat kuat (-__-) Obat penguat rahim maksudnya. Jadi dulu rahim si ibu sempat lemah dan berkat obat kuat tersebut, temenku bisa terlahir ke dunia. “Alhamdulillah Nak, Mama berhasil melahirkan kamu,” kata Mama tersedu sedan. “Iya Alhamdulillah Ma, Mama hebat, Mama kuat, Papa bangga sama Mama. Makasih ya Ma…” kata Papa. “Iya, ini juga berkat obat kuat itu Pa,” “Iya Ma. Obat  kuat itu manjur banget ya. Mereknya apa Ma?” “-piiiip- Pa,” jawab Mama. “Nama mereknya bagus ya Ma. Kita harus mengenang jasanya, gimana kalau itu kita jadiin nama anak kita?” usul Papa. “Ide bagus itu Pa.” wkwkwk LOL.

Nama Muthia Nurul Hasanah sendiri juga punya cerita lho…
Jadi dari dulu itu aku ternyata udah penyakitan, maksudnya gampang sakit gitu.  Di usia beberapa minggu dari hari kelahiranku aku udah kena penyakit, demam kalau ga salah. Karena khawatir, aku pun dibawa ke rumah sakit. Saat itu aku belum diberi nama, terlalu bingung mau dikasih nama apa mungkin. Yang membawa aku ke rumah sakit kali ini adalah ayahku sendiri, maksudnya tanpa ibuku. Daaaan setiba di rumah sakit, “Nama anaknya siapa ya Pak?” tanya petugas bagian administrasi. “Emm… anonim, hehe.” Gak lucu banget kan ya? Bukaaan, jawaban ayahku adalah apa yang ada dalam benak beliau kala itu, yaituuuu “Nur Hasanah.” Keren kan? Nur itu cahaya, hasanah itu kebaikan. Jadi, aku diharapkan jadi cahaya kebaikan, wuuush… ya hampir sama lah kayak merek lampu, wkwk.

Sampai di rumah, dimulailah pendiskusian mengenai nama yang tepat buatku. Soalnya menurut ibuku ‘Nur’ itu udah mainstream, Nur Khoiromah, Nur Jannah, Nur Haliza, dll. Nama ‘Hasanah’ juga udah populer. Apalagi kalau keduanya digabungin. Maka diputuskan nama ‘Nur Hasanah’ ditambahi dengan ‘Muthia’ sebagai nama depannya dan ‘Nur’ diganti dengan ‘Nurul’ tanpa mengubah arti. Fyi, ‘Muthia’ itu artinya anak yang taat. Jadi, Muthia Nurul Hasanah itu …