16.12.14

Pertengahan Bulan, Awal Hari, dan Di Akhir Tahun

Hmm Bismillah.. :)
Menurutku galau itu hal yang wajar, karena diakui atau tidak manusia hanyalah makhluk yang rapuh. Segala kekuatan hanyalah milik-Nya, mintalah kekuatan dari-Nya, begitulah manusia bisa menjadi kuat, tegar, dan bijaksana. Dan terimakasih kepadamu, mataku terbuka untuk meminta kekuatan lebih pada-Nya.

Rasa kecewa itu sudah berlalu, yang ada hanyalah menerima. Amarah pun telah berlalu, yang ada hanya memaafkan. Pagi ini bukannya aku tidak lagi menerima pun memaafkan, aku hanyalah seorang yang memegang prinsip. Melunasi janji yang telah kubuat sendiri. Terlalu banyak toleransi yang pernah aku buat dan saatnya membuat suatu batas. Ketika batas itu kau coret saatnya mencoret namamu dalam toleransiku.

Jika ada yang bertanya aku dimana, masih, aku masih di sini. Jika kau mencari, aku masih di sini. Aku tidak pergi, hanya bisa bersabar menanti waktu untuk kita bertemu kembali. Jika kau mencari, jangan temui aku hari ini. Temui aku ketika matahari menyingsing kembali, ketika tahun telah berganti, ketika kau telah menjadi lebih dewasa dari masa ini. Temui aku sebagai teman lama, yang merindukan keberadaanmu dan yang menanti kabarmu.


Jika kita memiliki usia 1000 tahun lagi, tunggulah aku hingga seribu tahun itu. Tunggulah untukku bisa membangun rasa percayaku lagi dan toleransiku bisa aku atur kembali.

5.11.14

Hujan Tanggal 4 ke 5


Mungkin aku sudah lelah berdebat dengan perasaan. Selalu berusaha menikam pikiran buruk dan menumbuhkan pikiran baik. Terus saja mencari jawaban atas pertanyaan dan mencari pembenaran atas kesalahan. Mungkin aku juga lelah dalam membenamkan ego, namun aku tahu mencuatkan ego akan menjauhkanku dari solusi. Masih saja bingung haruskah menjatuhkan rasa atau melenyapkannya. Terlalu sesak di dada dan penat di pikiran, mungkin aku lelah.

Namun..

Dia selalu punya cara. Dia selalu mengirimkan cinta. Dia tak henti memberi kejutan. Seperti malam ini, Dia memberi kejutan dengan mengirimkan cinta. Itulah cara Dia menyejukkan sukma. Aku tahu cara Dia selalu istimewa. Dia memberi kesempatan lebih sempurna untuk memanjatkan doa. Curahkan pada-Nya segalanya. Dia memiliki jawaban dan cara yang istimewa.

27.10.14


27 OKTOBER - SELAMAT HARI BLOGGER !!
Baru tau tadi sih dikasih tau radio. Entah aku harus berucap selamat untuk apa. Yang jelas hari ini aku lagi bahagia. Kenapa? Karena Ia masih saja memberi nikmat tak henti-hentinya, padahal aku sering nakal. Bahagia juga karena berhasil tercipta gambar cantik, walaupun kalau diliat-liat jadi keinget gambar-gambar yang ada di bagian belakang truk, wkwk.

+) Bonus



Bersama Waktu dan Bersama Kalian

Akan tiba saatnya kita bersiap diri untuk meninggalkan kebersamaan, untuk melangkah lebih jauh pada lajur kita masing-masing. Akan tiba saat itu, dimana kita bercerai berai bagai kapal meninggalkan dermmaganya. Saling melambaikan tangan. Akan tiba saatnya ucapan "Hai, apa kabar," menjadi begitu bermakna. Pun akan tiba saat itu, dimana kita berkumpul kembali, di tempat yang indah, waktu yang indah, juga suasana hati yang indah. Ber-haha-hihi ria seperti apa yang kita jalani kini.

Akan tiba saatnya kita menertawakan kehebohan dan kebodohan kita hari ini. Akan tiba pula saat kita membanggakan perjuangan kita untuk meraih hari itu, hari dimana kita memperoleh masing-masing mimpi kita. Dan kita tak perlu lagi saling bercerita bagaimana eloknya perjuangan itu, karena kita sudah sama-sama tahu. Seperti hari ini, kita sama-sama tahu kelemahan-kelemahan kita, kekhawatiran-kekhawatiran kita, ketakutan-ketakutan kita, juga keluarbiasaan kita menghadapinya.

Tibalah hari ini, dimana kita sama-sama tahu, bahwa Dia punya skenario yang Maha Indah. Dan akan tiba hari itu, dimana kita menangis terharu atas skenario yang sudah Ia berikan.

Hari ini… hanya ucap terimakasih yang bisa aku haturkan. Terima kasih untuk kebersamaan yang tak ternilai harganya :)


12.10.14

Dan dia pun jatuh kembali

Karena air mataku cukup sia-sia untuk menangisi kebodohanku,
Maka biarkanlah ini menjadi kebodohan terakhirku
yang takkan pernah aku tangisi kembali



29.9.14

Gara - Gara Status Tere Liye

Luka dikulit (misalnya di betis), bekas lukanya terlihat sekali, tapi bisa terlupakan--kadang tidak ingat ada bekas luka tersebut.
Luka di hati, sifatnya justeru terbalik; bekas lukanya sama sekali tidak nampak, tapi susah dilupakan--bahkan kembali teringat setelah belasan tahun berlalu, hanya karena hal kecil saja pemicunya.
Maka, jangan main2 dengan hati, sekali terluka, resikonya begitulah.
-Tere Liye-


* Hanya karena hal kecil saja pemicunya… sungguh melelahkan memiliki luka. Dear belasan tahun yang akan datang, izinkan aku mengingat hal itu dengan rasa luka yang tidak menganga.

** Terima kasih kepada mimpi kecil, yang pernah mampu menjadi pemecut semangat. Mungkin kinilah saatnya kau untuk terbang tinggi.
Terima kasih kepada mimpi kecil, yang pernah bertransformasi menjadi raksasa hina, yang mencengkeramku erat dengan segala tipu daya. Kini menjadi jelas semuanya dan baru aku sadar, harusnya kuhancurkanmu sejak dahulu kala.

*** Kata orang hati seorang wanita itu seperti gelas kaca, sekali ia retak tak pernah bisa kembali seperti sedia kala. Namun kusadar, aku tidak bisa membenci manusia untuk selamanya. Biarlah waktu yang menghapus semua rasa, hingga yang tersisa hanyalah aku pernah mengenalnya. Seberapa besar aku berusaha, fluktuasi rasa itu selalu ada. Detik ini aku merasa rindu untuk sekedar berbalas sapa. Detik kemudian aku merasa dialah orang terjahat sedunia, bahkan menyesal untuk sekedar tahu namanya. Detik berikutnya kembali lagi aku tak bisa terus membencinya. Tuhan , pada detik selanjutnya izinkanlah aku memiliki sebuah lubang kecil di hati dan izinkan aku mengisinya dengan semua hal yang mengagungkan-Mu. Izinkan lubang kecil itu membesar dan terus membesar hingga akhirnya hati ini menjadi lapang. Selapang laut lepas dan seputih mutiara.



31.8.14

Bahkan



Sedih ya saat kamu sadar ternyata kamu cuma sendiri disini. Sedih ya saat teman-teman yang kamu harapkan ada ternyata mereka memilih untuk tidak bersama. Sedih saat mereka gak memberi bantuan bahkan ketika kamu memintanya, dan padahal kamu berharap banget mereka bakal nawarin bantuan bahkan ketika kamu terlihat masih kuat menghadapinya. Tanpa banyak penjelasan pun kamu tahu kalau mereka sibuk, tapi salahkah mengharapkan mereka untuk setidaknya menanyakan "Apa kabar?" atau sekedar ucapan "Semangaat!"


Mungkin apa yang kita sebut keluarga ini tak sepenuh hati kita membentuknya sebuah keluarga, dimana kita merasa pulang dan berkumpul bukan karena ada maunya. Ternyata impian hanyalah sebuah impian. Oh tidak, mungkin hanya impianku seorang. Kalian dengan senang hati, tanpa kata perintah, bahkan terburu-buru untuk meninggalkan jauh dari sini. Tinggallah beberapa dari kita disini, yang masih peduli, atau bahkan yang kalian anggap sebagai tumbal ikhlas hati.
Andai aku bisa ungkapkan "Jangan pergiiii," atau yah setidaknya "Ok, goodbye."

Kutuliskan ini tanpa tedeng aling-aling, entah berharap kalian akan tahu atau enggak, entah berharap kalian merasa tulisan ini nyinggung kalian atau enggak.

2.8.14

Di bawah matahari yang terik, berlapis kulit hitam yang terbakar karenanya, dan tenggorok yang merindukan air mengalir. Itulah yang dirasakan mereka ketika berjalan di tengah-tengah mobil yang mengantre lampu hijau dengan membawa senjata mereka masing-masing, yaitu beberapa tutup botol Coca Cola, Sprite, ataupun Fanta yang dirangkai pada kayu tak bertuan yang mereka temukan di jalan. Beberapa pengamen yang lebih mujur membawa gitar sebagai senjatanya berharap akan lebih banyak koin yang didapat. Yang menjadi modal utama dalam arena ini bukanlah suara yang merdu maupun lantang, hanya doa yang membekali dengan harapan banyak orang dermawan yang senantiasa melanggar peraturan daerah. Begitulah yang mereka jalani demi sesuap nasi yang akan mereka makan di bawah papan reklame “Dilarang Memberi Uang kepada Pengemis/Pengamen.”

Itulah kehidupan mereka yang cukup berbeda dengan kehidupanku yang masih bisa melihat tawa mereka lewat jendela mobil. Tapi setidaknya aku tahu mereka mempunyai sebuah mimpi. Mimpi yang besar, mungkin ingin menjadi penyanyi terkenal seperti beberapa penyanyi Indonesia yang memulai karirnya dengan mengadu nasib di jalanan kota. Atau mungkin sekedar mimpi kecil seperti ingin mendengar gemericik koin yang mereka kantongi dan makan kenyang hari ini. Kurasa itu tak cukup menyedihkan melihat canda tawa yang menemani perjuangan hidup mengejar mimpi mereka masing-masing. Mungkin merekalah yang harus kasihan padaku, yang selama belasan tahun hidup tak memiliki tujuan. Hidupku mungkin bagai daun yang jatuh ke sungai dan hanyut bersama alirannya.

Pak Bambang kembali melambaikan tangan ketika salah satu dari mereka mendekati mobil kami. Aku hanya terdiam. Dengan dalih bahwa aku adalah seorang yang taat aturan mungkin mampu menghalalkan keterdiamanku. Aku usir mentah-mentah dugaan bahwa aku sebenarnya tak peduli kehadiran mereka. Bagaimanapun juga aku masih manusia, masih memiliki rasa simpati terhadap orang-orang yang berada di bawah. Kutelaah lagi apa yang selama ini pernah aku lakukan. Merasa jijik pada diri sendiri, sampai kepalaku pusing pun aku belum menemukan titik temu dimana aku ikut serta membantu mewujudkan kehidupan mereka yang lebih baik.

Beberapa receh yang aku masukkan begitu saja di dompet kini aku keluarkan setelah sekian lama mendekam di sana. Kini tempat barunya ialah mangkuk mungil yang sengaja ditaruh di dashboard mobil yang memang difungsikan untuk meletakkan receh-receh kembalian daripada menggelembungkan  dompet. Setelah kosong sekian lama kini mangkuk mungil itu ada isinya walau tak seberapa. Pak Bambang kepergok memandangku heran. Aku hanya terdiam. “Dompetku penuh,” ujarku kemudian untuk sedikit melumerkan suasana canggung di antara kami.


Aku paham betul, ini bukanlah suatu solusi.

You're Not Sorry




All this time I was wasting,
Hoping you would come around
I've been giving out chances every time
And all you do is let me down
And it's taken me this long
Baby but I figured you out
And you're thinking we'll be fine again,
But not this time around

You don't have to call anymore
I won't pick up the phone
This is the last straw
Don't wanna hurt anymore
And you can tell me that you're sorry
But I don't believe you baby
Like I did before
You're not sorry, no no oh

Looking so innocent,
I might believe you if I didn't know
Could've loved you all my life
If you hadn't left me waiting in the cold
And you got your share of secrets
And I'm tired of being last to know
And now you're asking me to listen
Cause it's worked each time before

But you don't have to call anymore
I won't pick up the phone
This is the last straw
Don't wanna hurt anymore
And you can tell me that you're sorry
But I don't believe you baby
Like I did before
You're not sorry, no no, oh

You're not sorry no no oh

You had me crying for you honey
And it never would've gone away, no
You used to shine so bright
But I watched all of it fade

So you don't have to call anymore
I won't pick up the phone
This is the last straw
There's nothing left to beg for
And you can tell me that you're sorry
But I don't believe you baby
Like I did before
You're not sorry, no no oh

You're not sorry, no no oh

22.7.14

Seratusnya...

Alika terbungkam seketika. Seorang lelaki berbaju merah di depannnya kini mulai mengerutkan dahinya.
"Berapa Mas?"
"Dua puluh ribu seratus Mbak,"
Kembali Alika menggasak dompet mungilnya, nihil. Seorang ibu dibelakangnya mengetuk-etuk sepatu pantovel hitam yang dipakainya.
"Seratus rupiahnya dibayar pakai permen boleh Mas?" tanya Alika sambil memamerkan gigi berkawatnya.

6.7.14

Setenang Hari Tenang di Medsos

Mulai dari sini aku akan melupakan apa yang harus aku lupakan dari dulu.
Mulai meninggalkan apa yang seharusnya aku tinggalkan dari dulu.
Mencoba lebih menahan lagi apa yang selama ini aku tahan, dan yang seharusnya sudah aku tahan dari dulu.
Mencoba tidak memulai lagi apa yang seharusnya tidak aku mulai. Dari dulu.
Sakit. Kecewa. Gagal paham.
Prasangka yang selama ini baik semoga tetep baik ya nak.
Prasangka buruk hilanglah. Jangan ganggu.
Lelah untuk bermain. Petak umpet. Ketemu. Bahagia. Ketemu. Kecewa.
Maaf.
Diam. Damai. Tenang.
Aku akan terus berdo’a. Bukan untuk dendam. Untuk kebaikan. Kita.
Mencoba membaca lagi. Merenungi lagi. Menyelam kembali. Pada sebuah tulisan, yang gak akan aku publish, yang selalu mengingatkanku. Di saat aku merasa seperti ini. Di saat aku jatuh seperti ini.
Agar aku bisa menjadi Muthia kembali. Bisa melalui jalan yang lurus. Lebih lurus.
Aku akan terus berdo’a. Untuk memohon ampunan. Untuk memohon maaf. Untuk kebaikan. Kita.

Menyelam dalam kesibukan. Yang lebih berkah. Semoga kesibukan yang kita jalani berkah.
Aamiin :)

Mencoba menulis dalam ketenangan di hari tenang pertama Pilpres 2014. Persis seperti di medsos, tenang, tapi tetap riuh ramai.

#pokeme #pokeyou #yesyou

16.4.14

Gosipnya sih …

Matanya yang selalu berbinar kini suram. Entah mengapa. Diantara kami tak ada yang berani untuk menanyakannya. Terlebih aku, teman sebangkunya yang belakangan ini tersulut perdebatan hampir musuhan. Terakhir kali ia bilang bahwa sikapku salah terhadap Ulik, tetangga sebelah rumahnya.

Ulik itu umurnya sudah terpaut jauh dengan kami, tapi sifatnya lebih mirip abg kemarin sore. Tahun ini kalau gak salah ia sudah menginjak 28 tahun. Kalian tau film ATM Errak Error? Nah sifatnya itu mirip sama Gob, itulho cewek alay anaknya yang punya laundry. Gayanya Ulik persis banget kayak gitu, tapi mukanya beeh lebih mirip sama emaknya Gob. Lagi-lagi Ulik batal menikah, entah untuk yang keberapakalinya. Dia hobi gonta-ganti pacar, tiap kali ketemu Ulik selalu memamerkan pacar barunya. Konyolnya, dia lebih suka pacaran sama anak SMA yang kalau lagi jalan sama dia keliatan jalan sama tante-tante. Ibunya Ulik pun geram sendiri padanya, gosipnya sih sang ibu sampai menawarkan Ulik kepada teman-temannya yang punya anak laki-laki agar dijadiin menantu. Sampai ibuku juga kena tawaran gombalnya, boro-boro ibu mau. Terakhir yang aku tahu, Guntur, anak teman senamnya ibu Ulik, datang untuk melamar.

Aku sendiri kenal Mas Guntur sudah lama. Dulu waktu SD mau ujian, aku sering minta diajarin matematika sama dia. Pas aku SD dia udah SMA. Katanya dia jago matematika dan ikut tim olimpiade di sekolahnya. Dia punya tubuh yang kerempeng, tapi ternyata dia makannya banyak banget, entah kenapa ga jadi daging, lupa doa kali. Dulu saat belajar biasanya disambi dengan makan siang. Ibu selalu mengatakan, “Makan yang banyak Guntur,” untuk sekedar basa-basi. Eeh ternyata persediaan buat 3 kakakku dimakan habis sama dia. Sekarang Mas Guntur udah 30an tahun eh tetep aja masih kerempeng. Di umurnya yang udah kepala tiga, ia udah dioyak-oyak sama ibunya buat nikah, makanya ia mau deh buat ngelamar Ulik. Gosipnya sih dia mau pun gegara habis patah hati, soalnya habis ditolak sama cewek yang udah ia taksir sejak kuliah. Ceweknya cantik, namanya Lika, aku juga kenal sama dia.

Kak Lika ini mahasiswi kebidanan yang ngekos depan rumah. Orangnya cantik, kulitnya sawo mateng Indonesia banget dan senyumnya manis. Dia berjilbab agak gede dan keliatan anggun, terus bajunya juga modis-modis. Walau bajunya kayak mau kondangan, ia kuliah pakai ransel dan gak pernah ganti. Setiap aku tanya, dia lagi ngusulin judul skripsi katanya, padahal ya kayaknya tahun kelima aja udah kelewat. Gosipnya sih dia udah mau DO. Dia lagi asik jualan tokek, satu tokek aja bisa laku jetian katanya. Dih tokek. Awalnya Kak Lika jualan tokek diajakin sama Kak Mira, bisnis tokek Kak Mira udah gede.

Nah Kak Mira itu tetangga baru yang ngontrak rumah sebelah. Dia asal Banjarmasin. Pernah dia datang ke warung ibu, jajan ramesan. Pas itu dia bawa tokeknya, warnya magenta cobaaa. Matching, cardigan sama  sepatunya magenta juga, trus dia pake dress item. Bedak, lipstick, sama maskaranya tebel banget. Kak Mira orangnya cantik, kulitnya putih, punya hidung yang mancung. Denger-denger nih dia udah beberapa kali narik hidung sama nyumpel dada. Dia udah jarang keliatan di rumah akhir-akhir ini. Kadang aku mergokin dia dianter pulang sama om-om, bilangnya sih kolega. Gosipnya sih dia dulu mulai bisnis gara-gara deket sama pejabat.

Ngomong-ngomong, temenku di sekolah ada yang anaknya pejabat. Pas pertama ketemu kirain dia anaknya sopir. Habis dia itu polos banget, sederhana banget, gak keliatan kalau anak orang kaya tapi diantar jemputnya pakai fortuner. Kita deket banget, sampai sekarang kita masih duduk sebangku terus. Dia juga pinter, aku sering nyontek peernya. Kita juga sering belajar bareng di rumahnya. Ternyata rumah dia itu di kampung sebelah, rumahnya gede, halamannya juga gede. Mamanya baik banget, sering ngasih aku makanan buat dibawa pulang. Aku pernah ketemu sekali sama Papanya, orangnya baik juga, ramah banget. Tapi gosipnya sih, orangtuanya mau cerai. Gatau kenapa, padahal ya mereka itu pasangan yang serasi banget menurutku. Cuma ibuku sama ibu-ibu tetangga yang tau gossip penyebab perceraian mereka. Mungkin gara-gara itu temenku jadi sering murung di kelas, dia biasanya ceria. Dia juga jadi sensi, kirain pms, eh masak pms tiap hari. Akhir-akhir ini aku ngajak dia ngobrol eh malah dianya sewot. Terakhir kali dia sewot gara-gara aku ngomong tentang Ulik, itu tuh tetangga sebelah rumahnya dia.


#iseng #ngasal, pengen nyeloteh aja
Makasih ya kalau ada yang mau baca sampai akhir. Buru-buru istighfar deh, ghibah ghibah haha.
Makasih juga buat Ulik, Guntur, Lika, sama Mira, aku minjem nama kalian haha.


23.1.14

Hujan

Aku selalu menyukai hujan. Walaupun kadang aku khilaf mengatakan "Yaah," secara spontan ketika ia turun.
"Menunggu hujan," entah mengapa kalimat itu selalu terdengar romantis di telinga, walaupun kadang banyak orang akan bosan untuk melakukannya.
Aku suka menunggu hujan bersamamu. Menunggu hujan turun awal musim ini. Menantikan tetesan air yang akan mebawa rezeki bagi kami makhluk bumi. Ketika kkriman dari langit sampai ke permukaan bumi, aku suka bau tanah bercampur air yang ia ciptakan dan kesegaran yang ia bawa. Hujan ini, kesejukan ini, akan membersamai aktivitas kita. Bersama-sama kita memanjatkan doa untuk mimpi-mimpi kita, untuk harapan-harapan kita. Ketika hujan semakin menderas maupun makin mereda aku akan mengucapkan syukur karenanya.
Aku suka menunggu hujan bersamamu. Menunggu hujan reda di tengah kesibukan kita. Memberikan kita waktu untuk relaks sejenak, memaksa kita untuk meluangkan waktu untuk sekedar ber-ba-bi-bu ria. Menantikan tetesan air akan semakin menipis perlahan dan hilang seketika. Langit pun kembali cerah dan kita sama-sama kembali pada aktivitas seperti sebelumnya.
Aku suka berada di bawah hujan. Seakan guyuran air itu juga akan menghapus kepenatan sepanjang hari ini. Seakan-akan ia bisa membawa pergi semua perasaan yang mengusik dalam hati. Seolah ia bisa meredam tangisku, membawa setiap butiran air yang keluar dari mataku juga mengaburkan jeritku dengan auman guntur yang membersamainya.

22.1.14

Sebuah Estafet

Mungkin ini napas terakhirku. Napas demi napas selalu aku pikir begitu dan aku selalu bersyukur tiap ada helaan napas baru lagi. Metabolismeku yang terforsir ini pasti membutuhkan udara yang lebih dari yang aku butuhkan biasanya. Tak ada jeritan lagi, yang ada kini adalah selengking tangisan. Aku yakin itu adalah tangisanmu. Tangisan yang ditunggu banyak orang. Aku mencarimu dalam kegelapan, tak kutemukan wajahmu. Wajah yang ingin kulihat walau hanya satu detik saja sebelum semuanya menjadi gelap.
Gelap.
Kini napas ini, kini kehidupan ini, milikmu.

#flashfiction

5.1.14

[SYAWAL] Belajar dari Sekaleng Roti Kering

Udah makin lincah aja ni jari ber-tak-tik ria di atas keyboard komputer. Apalagi kalau bukan berkat tugas P*K dan laporan praktikum ergonomi. Sayangnya kemajuan ini gak disertai dengan kemajuan yang lain. Produktivitas menulisku Ya Allah, Astaghfirullah, hehe. Liat tuh mut terakhir update september. Oke dengan ini aku mulai memaksa otakku, tanganku, dan ideku untuk menyelami lautan kata-kata. (cukup mut lebaynya --).
*S

Bulan Syawal itu kapan yaa? Udah lama. Waa ketauan banget ide ini mengendap cukup lama di kepalaku. Banyak sebenernya pelajaran yang aku dapetin tiap hari-hari yang kulalui. Sayang ada beberapa hanya aku "oh"-kan dan berlalu begitu aja. Tapi yang ini ngenak sengenak-ngenaknya.

Pada suatu hari di bulan Syawal, dimana toples-toples makanan menghiasi meja ruang tamu di sebagian besar rumah di Indonesia, aku menghampiri salah satu dari mereka. Sebuah toples berbentuk persegi panjang dan tidak terlalu tebal untuk ukuran toples dan aku yakini isinya adalah roti kering. Aku pun membukanya. Ya, benar roti keringlah isinya.  Rotinya beraneka jenis jadi kita punya banyak pilihan dalam satu toples. Begini penampakannya:



Dengan spontanitas yang cukup tinggi aku mengambil kue yang itu tu, yang diplastikin putih (bukan bening). Sebelum membuka plastiknya aku terpikir akan satu hal. Setelah aku makan roti yang ada dalam plastik itu ternyata benar dugaanku. Roti yang aku makan ini enak seenak-enaknya roti yang pernah aku makan. (ups, lebay lagi). Haha, enggak selebay itu, tapi aku pernah nyobain jenis roti lain yang ada dalam toples itu dan aku rasa ini yang paling enak.

Jadi gini, apa yang aku pikirkan tadi adalah, "Kenapa aku milih roti yang ini?" Karena entah kenapa aku yakin roti yang tercover inilah yang paling enak dibanding yang lain.  Seolah ini bukti bahwa yang tercover dengan baik itu selalu lebih istimewa. :) itu coba liat yang tercover plastik bening, tercovernya sih udah, tapi masih transparan, jadi keistimewaannya berkurang. Padahal yang putih masih transparan juga yaa, bahaha #fail.
Bagi Anda yang masih bertanya-tanya "ini tulisan yang mau disampein apa?" oke aku kasih clue -> korelasiin ini dengan hijab

Berhijab itu bukan pilihan, bukan hanya pelunas kewajiban. Lebih mulia dari itu, hijab adalah kebutuhan. Kalau disambungin ke postingan ini, hijab itu membuat kita lebih istimewa.

*masih harus banyak belajar* :)