1.5.13

Musa a.s. di Mata Mereka


Siapa tuh Nabi Musa?
Beruntung banget deh kalian yang dari dulu (TK atau sebelumnya) pernah didongengin kisah-kisah para nabi, salah satunya Nabi Musa a.s., jadi kalau ada pertanyaan di atas bisa langsung jawab cas-cis-cus. Itu lhoo yang nglawan Raja Firaun, yang punya mukjizat membelah lautan, tongkatnya bisa jadi ular, yang dadanya bisa keluar cahaya putih. Wuih, kalau dipikir pakai logika kita saat ini, “Ini cerita dongeng banget sih…” eits, jangan salah, ini bukan asal dongeng. Cerita ini dijamin keasliannya sama Yang Maha Tahu. Mau bukti? Buka deh kitab yang Ia kasih ke kita, umat Muhammad. Di sana banyaaaak banget Nabi Musa a.s. dikisahkan. Ternyata sangat seru untuk ngikutin ceritanya.

Berhubung saya lagi asyik-asyiknya ngikutin cerita Nabi Musa ini, tiba-tiba kepikir, “Pengen deh denger cerita Nabi Musa dari sudut pandang Firaun.” “Dimana ya bisa nemuin ceritanya?” “Ah, gak mungkin mut, udah deh.” -> percakapan batin.

Jeng-jeng-jeng-jeng… ternyata yang gak mungkin itu terjawab juga…
Bermula dari novel Nefertiti-nya Michelle Moran. Lebih lengkapnya berjudul Nefertiti, Sang Ratu Keabadian. Jujur aja ini novel pinjeman dari Mahella. Bagi yang tertarik monggo bisa minjem juga ke dia #iklan (bagi yang kenal orangnya loh yaa).
Novel ini membawa kita bertualang ke zaman Mesir kuno saat pemerintahan Firaun Akhenaten bersama Firaun Nefertiti. Ya, dalam novel ini diceritakan pada akhirnya Nefertiti juga diangkat menjadi Firaun setelah ia berhasil menjadi Permaisuri Utama mengalahkan Kiya yang merupakan istri pertama Akhenaten. Pada zaman pemerintahan mereka, mereka dengan seenaknya merubah Tuhan untuk penduduk Mesir agar menyembah Aten (matahari). Jelas pasti ada perdebatan saat itu. Ku akui wanita itu (Nefertiti) emang hebat, terlepas dari itu aku gak suka karakternya yang diceritakan dalam novel ini. Pada akhir cerita ia tidak disukai oleh rakyatnya. Pemilihan kata dan dramatisasi yang diciptakan oleh Michelle bakal membawa kamu mengarungi lautan imajinasi. Novel Nefertiti ini recommended banget!

Nah dari situ aku penasaran (lagi) ada gak ya cerita tentang Nabi Musa tapi dari sudut pandang mereka? Terus aku googling, ternyata si Ratu Nefertiti ini hidup pada zaman sebelum Nabi Musa. Oke gapapa, pada saat itu aku emang ngga kecewa.

Emang dasar gaya penulisan Kakak Michelle ini bagus dan ceritanya juga oke, menantang gitu buat dibaca, akhirnya aku tertarik dengan novel Nefertari, Sang Ratu Heretik (bukan sekuelnya, tapi nyambung). Bagi yang ngga tahu, heretic itu artinya sesat. Nah, ini novel juga minjem lagi. Tapi kalo yang ini dari Perpustakaan SMAN 1 Teladan Yogyakarta. Bagi yang tertarik, monggo kunjungi perpus kami. Fyi, novel ini udah susah dicari di togamas, gramedia, maupun sab, menurut pengalaman Mahella.

Ceritanya lebih menantang dan lebih seru. Berbeda dengan novel sebelumnya yang diceritakan dengan sudut pandang Mutnodjmet, adik Nefertiti, novel ini langsung dari sudut pandang Nefertari. Usut punya usut (apasih bahasaku) Nefertari merupakan anak dari Mutnodjmet yang berarti ia merupakan keponakan Nefertiti. Itulah sebabnya ia mempunyai julukan heretic alias sesat. Karya Kak Michelle yang ini menceritakan jerih payahnya mengubah pandangan orang-orang yang menganggapnya heretic agar dapat diterima oleh rakyat Mesir zaman itu. Oh iya, Nefertari juga merupakan istri dan juga Permaisuri Utama dari Raja Ramses II, Firaun paling terkenal katanya. Nefertari, Sang Ratu Hertik lebih recommended lagi!!

Sebenernya aku ga berharap apapun dari novel ini mengenai penasaranku, tapi aku menemukan sesuatu yang menarik di sini. Aku menemukannya di bagian Catatan Sejarah (halaman 429-433).
“…Tentu saja, perubahan paling kentara dari semuanya adalah Moses menjadi Ahmoses. Mereka yang mencari-cari Moses (atau Musa) seperti yang ada dalam kitab suci pasti akan merasa kecewa. Selain Kitab Perjanjian Lama, tak ada bukti lain yang mendukung mengenai keberadaan Musa di Mesir. … Dalam novel ini saya sudah menyebutkan soal mitos Sargon, di mana seorang pendeta wanita agung meletakkan anak terlarangnya dalam sebuah keranjang, mengalirkannya ke sungai untuk ditemukan pembawa air dan akhirnya dibawa ke raja…”

Ada juga di bagian ceritanya (halaman 267)
‘Aku teringat mitos kuno yang diajarkan Paser di edduba, yaitu mengenai seorang pendeta wanita tinggi di timur yang diam-diam melahirkan seorang anak laki-laki dan mengabaikan sumpah kesuciannya. Dia meletakkan bayinya yang baru lahir dalam sebuah keranjang buluh dan menghanyutkannya terapung-apung di Sungai Efrat dimana anak itu ditemukan oleh seorang Aqqi, seorang pembawa air. Anak laki-laki itu diberi nama Sargon, dan ia tumbuh menjadi seorang raja yang berkuasa dan menaklukan dataran Gutium dan Kanaan. Kini, Ahmoses berniat kembali ke tanah yang telah diupayakan Sargon tersebut.’

‘Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah di ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikkannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.” Maka dia dipungut oleh keluarga Fir’aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir’aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.’ (Q.S. Al-Qasas 28: 7-8)

Agak kecewa sebenarnya, ada versi lain lagi dari cerita beliau. Tapi mepet-mepet sama kan… pantes aja ada beberapa bagian di buku yang sedikit membuatku curiga.
‘… “Kau ingin apa?” bisikku di tengah-tengah celotehan para pemohon petisi lain.
Aku ingin Firaun membebaskan kaumku dari kewajiban mereka,” jawabnya, “supaya rakyatku dapat kembali ke Kanaan.”
“Dan bagaimana mereka bisa menjadi rakyatmu dan bukannya rakyat Firaun?” tanyaku.
“Karena akulah pemimpin mereka. Di antara orang-orang Habiru yang ada di Thebes, akulah yang membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan kami.”
“Jadi, kau memang penganut ajaran sesat.”
“Jika itu artinya kami tidak menyembah dewa-dewa yang sama dengan bangsa Mesir.”
“Itu artinya kau tidak menyembah Amun.”…
Kami hanya menyembah satu dewa,” ia menjelaskan, “dan kami berharap dapat kembali ke tanah Kanaan.” …’ (halaman 255).

… “Apa Henuttawy yang mengirimmu kemari untuk mengingatkan bahwa akhu-ku adalah seorang heretic?” tuntutku.
“Akhu Anda bukan seorang heretic,” Ahmoses menjawab. “Mereka mendapat visi kebenaran namun mereka dikuasai oleh ketamakan.”
“Visi kebenaran macam apa?” tantangku.
Kebenaran bahwa hanya ada satu Tuhan. Firaun Akhenaten menyebutnya Aten—“
“Kaum Habiru menyembah dewa dengan nama yang berbeda. Hanya sang Firaun yang menyebutnya Aten, dan ketamakanlah yang menghancurkannya”… (halaman 256).

‘… “maka datanglah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun dan katakan, “Sesungguhnya kami adalah rasul-rasul Tuhan seluruh alam, lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama kami.”
Dia (Fir’aun) menjawab, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan engkau (Musa) telah melakukan (kesalahan dari) perbuatan yang telah engkau lakukan* dan engkau termasuk orang yang tidak tahu berterima kasih.”
*perbuatan Nabi Musa a.s. membunuh orang Qibti. (bisa diliat di Q.S. Al-Qasas, 28:15).
Dia (Musa) berkata, “Aku telah melakukannya, dan ketika itu aku termasuk orang yang khilaf. Lalu aku lari darimu karena aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku menganugerahkan ilmu kepadaku serta Dia menjadikan aku salah seorang diantara rasul-rasul. Dan itulah kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, (sementara) engkau telah memperbudak Bani Israil.”
Fir’aun bertanya, “Siapa Tuhan seluruh alam itu?”
Dia (Musa) menjawab, “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu mempercayai-Nya.”
Dia Fir’aun berkata kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah kamu tidak mendengar (apa yang dikatakannya)?”
Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhanmu dan juga Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”
 (Q.S. Asy-Syu’ara’ 26: 11-26)

Ada lagi ini yang aku temuin di bagian catatan sejarah, masih dalam novel Nefertari, Sang Ratu Heretik (halaman 431) ‘…Dan karena mumi-mumi dari dinasti kedelapan belas belum pernah diidenifikasikan secara positif, termasuk mumi Firaun Ay dan Ratu Ankhesenamun, saya memilih untuk menceritakan penyebab hilangnya mereka secara tiba-tiba dari catatan sejarah adalah akibat kebakaran.’
Ankhesenamun merupakan anak dari Ratu Nefertiti yang kemudian meneruskan takhta ibunya setelah pemerintahan Nefertiti jatuh bersama Raja Tutankhamun yang merupakan saudara tirinya sendiri. Sedangkan Ay merupakan ayah dari Nefertiti dan Munodjmet. Ia diangkat menjadi Firaun setelah kepemerintahan Tutankhamun berakhir (dalam novel tidak diceritakan penyebabnya).

Sementara Surat Asy-Syu’ara’ ayat 63-66 menyebutkan ‘Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar. Dan disanalah kami dekatkan golongan lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain.’

Mungkin kalian akan berpikiran sama terhadap apa yang aku pikirkan. Mungkin kalian akan berpikir penyebab hilangnya mereka secara tiba-tiba, seperti apa yang dikemukakan dalam catatan sejarah, yang sebenarnya adalah karena sang Fir’aun ditenggelamkan oleh Allah bersama para pengikut-pengikutnya.

Tapi, apa yang aku temukan kemudian di catatan kaki Al-Quran yang aku baca menyebutkan bahwa: menurut sejarah, Fir’aun pada masa Nabi Musa a.s. ialah Menephthan (1232-1224) SM anak Ramses. Jika ditilik dari sejarah yang dipaparkan dalam novel takhta Ramses II diberikan pada Merenptah, anak dari buah perkawinan Ramses dengan Isetnofret, istri pertamanya. Demikian.

Jadi, inti dari tulisan ini adalah: Bagaimanapun juga yang namanya historical novel tetap saja fiktif walaupun disambungkan dengan kisah sejarah. Jadi jangan percaya 100% terhadap detil yang dipaparkan. Dan, hanya Al-Quran yang bisa kita percayai 100%.
Terima kasih yang bertahan membaca postingan ini sampai tuntas :)



0 comments:

Post a Comment