~Duo Tidur~
Jangan disangkal kalau
aku bilang Ramadhan itu identik dengan bertebarannya kultum (kuliah tujuh
menit) di seantero penjuru, khususnya di Indonesia. Lebih-lebih di masjid dan
mushola dekat rumahku, mereka baiiiik sekali memberikan secara cuma-cuma extra
time “sepuas pembicara” kepada kami yang haus akan siraman rohani ini. Karakter
pengisi kultumnya pun beda-beda. Salah seorang berkarakter unik adalah
tetanggaku sendiri, beliau membawakan ceramah dengan cara berdeklamasi. Tidak jarang
tawaku lepas karenanya, tapi tetap tahu diri, maksudnya ketawanya dalam hati, hehe. Salah seoranng
di sebelah kananku nyeletuk, “Kayak kethoprak.” Dengan suaranya yang berradius
empat telinga ke samping kirinya, (lagi) aku melepaskan ‘tawa tapi tahu diri’-ku. "Kalau ada orang Jawa Timur pasti ketawa dengerin ini." "Kok?" "Lha wong kita ngomong biasa aja udah dibilang kayak kethoprak kok." (sekali lagi) ketawa lepas tapi tahu diri. Karakter pembicara yang paling sering kutemui adalah pembawaan yang lemah
lembut, alon waton kelakon, khas jawanya kerasa banget. Gak cuma lembut, tapi
mereka bawaannya terlalu santai, saking santainya frekuensi bunyi yang ada
dalam dua telinga ini tidak mau berkompromi dengan frekuensi suara yang ia
luncurkan. Ternyata inilah karakter favorit yang menjadi pilihan banyak orang.
Subuh hari ini kami
memutuskan untuk berjalan ke mushola, mengingat beberapa kali ini sudah lebih
sering ke masjid. Seusai jamaah subuh dilangsungkan,
dengan segera salah seorang makmun berdiri dan mencapai mimbar untuk mengisi
kultum pagi itu, tentu setelah waktu untuk berdoa dirasa cukup. Spontan posisi dudukku mantap mundur ke belakang untuk mencapai
sebuah dinding berwarna hijau itu. Keadaan mushola tak berhijab itu membuatku
dan jamaah akhwat lainnya tahu dengan jelas siapa penyiram rohani kami kali ini. Yak,
aku tahu bapak itu. Seorang bapak yang maaf, sudah sepuh, juga memilih untuk
menggunakan karakter favorit dan beliau sering menggunakan extra time-nya
dengan sangat baik.
Sungguh bukan suatu
hal yang mudah di saat ada gelombang suara yang seolah menimang-nimang,
sandaran yang walaupun sama sekali gak empuk tapi bersahabat dengan punggung,
hawa pagi yang sejuk nan lembut, kelembaban udara yang terbilang tinggi terselimuti oleh mukena yang cukup menghangatkan, ditambah lagi kami
memanglah duo tidur yang cukup handal. Dengan keadaan yang kayak gitu ya mana
bisa tahan, kelopak mata terlalu berat bah.
Sama halnya aku bisa
melihat bapaknya, bapaknya pun bisa melihatku dengan jelas dan ketahuanlah kami
yang sedang terkapar di sini. Beliau menyinggung, “Saya biasanya kalau pagi gak
tidur, saya sudah membiasakannya. Kalau kita udah kebiasa, pagi tu ya gak bakalan
ngantuk…” Sontak kedua mata ini pun terbuka, melek, melek, dan bener-bener
MELEK! “Wah nyinggung mata gue nih,” =,= Aku baru tahu, ternyata mata pun, atau
organ mana pun kali ya, juga bisa tersinggung yaa. “Mata boleh jadi melek, tapi
hati ini sakit Pak…” (lebay lebay maaf) "Ya maaf Pak, ini murni bukan suatu kesengajaan Pak." Di lain sisi tidur itu tetap nikmat-Nya loh, ya gimana pun tetap harus kita syukuri. hehe, ngeles pinter yak.
Tapi setidaknya aku
sadar kok dalam hal ini aku salah. Jadi, katanya orang Indonesia itu tingkat saling
menghargainya rendah memang benar. Memang sudah seharusnya jika ada orang yang
bicara kita memperhatikan dan mendengarkan. Seperti kalau posisi kita yang
sedang berbicara di depan, pasti kita pengen diperhatikan dan didengarkan.
- Wah, berarti kalau ada kultum gak boleh tidur lagi nih!
- - Kultum subuh kemarin kamu ngapain mut? --v
[
0 comments:
Post a Comment