~Anak Hawa~
Sudah dibilang,
Ramadhan selalu bertebaran dengan siraman rohani. Kali ini adalah acara buka
bersama di masjid. Tentu, tak lupa pasti ada pengajiannya. Bukan masalah
ngantuk lagi kalau ini. Yang lebih kupedulikan sekarang adalah menggugurkan
kewajiban bersosialisasi, niat yang buruk kurasa. Kalau isi pengajiannya oke,
itu baru nilai plus. Baru nyadar kalau salah (0.o) setiap amal perbuatan selalu
tergantung niat lho, hayoo.
Bukan itu poinnya.
Jadi masjid kami itu punya teras yang memanjang di sisi sampingnya dan punya
halaman yang cukup luas di depan teras tersebut. Pengajian-pengajian macam ini
biasanya dilangsungkan di sini, dengan sistem yang kakung-kakung di atas teras
dan yang setri-setri di halaman. Teras yang berkeramik kehitaman itu bisa
dicapai dengan menaiki dua anak tangga. Di acara beginian bisa dibilang gak
mungkin lah kalau ibu-ibu tidak membawa serta buah hati yang masih imut-imut, alias
balita atau bayi.
Itu intro, yang ini
ceritanya. Aku duduk menghadap ke selatan. Di sebelah kiriku ada bayi yang lagi
anget-angetnya bisa jalan sendiri. Di sebelah kanan lumayan jauh ada bayi juga
yang sedang heboh pengen merangkak kemana-mana. Bayi sebelah kiri sebut saja
Kiki, yang sebelah kanan sebut saja Kaka. Karena Kiki sedang senang-senangnya
berjalan dan bertualang (apasih) maka ia bermain-main di tiga anak tangga teras
masjid. Merangkak naik, lalu turun lagi kembali ke tempat duduk ibunya. Lalu ia
naik lagi dan sempat melambaikan tangannya bak seorang artis yang sedang naik
ke atas panggung. Sungguh bahagianya, terlihat dari wajahnya.
Sementara si Kaka,
melihat si Kiki ia mungkin ingin melakukan hal yang sama. Akan tetapi Ibu Kaka
mungkin merasa rempong mengajak anaknya sehingga ia tidak membiarkan Kaka
berada jauh darinya. Setiap Kaka merangkak beberapa meter menjauh, ibu Kaka
langsung sigap menggendong Kaka dan kembali ke posisi duduk semula.
Kuperhatikan dari awal waktu, kejadian itu sudah berulang beberapa kali. Tak
heran jika si anak pun menangis. Karena kurasa Kaka sangat ingin mencapai
lantai teras tapi sang ibu tak memperbolehkannya. Kupikir apa salahnya sih
dengan bermain-mein di lantai teras sebuah masjid? gak bikin si anak dalam
keadaan bahaya juga.
Sesuatu menelusup ke
pikiranku. Hikmah ternyata, ada hikmah yang bisa kuambil dari kejadian sore
itu. Ibu Kaka yang bisa dibilang over protecting cenderung menjadi penghalang
anaknya untuk memperoleh apa yang ia inginkan. Cenderung menghambat
perkembangan anak untuk latihan berjalan, merangkak, menghadapi tantangan.
Kadang kasih sayang diungkapkan dengan ke-cuek-kan.
(eh nyambung gak ya? *loh)
~> Pelajaran berharga ini bagi calon ibu, lalala~
[akan dilanjutkan, walau udah jauh dari ramadhan]
[akan dilanjutkan, walau udah jauh dari ramadhan]
0 comments:
Post a Comment