5.1.14

[SYAWAL] Belajar dari Sekaleng Roti Kering

Udah makin lincah aja ni jari ber-tak-tik ria di atas keyboard komputer. Apalagi kalau bukan berkat tugas P*K dan laporan praktikum ergonomi. Sayangnya kemajuan ini gak disertai dengan kemajuan yang lain. Produktivitas menulisku Ya Allah, Astaghfirullah, hehe. Liat tuh mut terakhir update september. Oke dengan ini aku mulai memaksa otakku, tanganku, dan ideku untuk menyelami lautan kata-kata. (cukup mut lebaynya --).
*S

Bulan Syawal itu kapan yaa? Udah lama. Waa ketauan banget ide ini mengendap cukup lama di kepalaku. Banyak sebenernya pelajaran yang aku dapetin tiap hari-hari yang kulalui. Sayang ada beberapa hanya aku "oh"-kan dan berlalu begitu aja. Tapi yang ini ngenak sengenak-ngenaknya.

Pada suatu hari di bulan Syawal, dimana toples-toples makanan menghiasi meja ruang tamu di sebagian besar rumah di Indonesia, aku menghampiri salah satu dari mereka. Sebuah toples berbentuk persegi panjang dan tidak terlalu tebal untuk ukuran toples dan aku yakini isinya adalah roti kering. Aku pun membukanya. Ya, benar roti keringlah isinya.  Rotinya beraneka jenis jadi kita punya banyak pilihan dalam satu toples. Begini penampakannya:



Dengan spontanitas yang cukup tinggi aku mengambil kue yang itu tu, yang diplastikin putih (bukan bening). Sebelum membuka plastiknya aku terpikir akan satu hal. Setelah aku makan roti yang ada dalam plastik itu ternyata benar dugaanku. Roti yang aku makan ini enak seenak-enaknya roti yang pernah aku makan. (ups, lebay lagi). Haha, enggak selebay itu, tapi aku pernah nyobain jenis roti lain yang ada dalam toples itu dan aku rasa ini yang paling enak.

Jadi gini, apa yang aku pikirkan tadi adalah, "Kenapa aku milih roti yang ini?" Karena entah kenapa aku yakin roti yang tercover inilah yang paling enak dibanding yang lain.  Seolah ini bukti bahwa yang tercover dengan baik itu selalu lebih istimewa. :) itu coba liat yang tercover plastik bening, tercovernya sih udah, tapi masih transparan, jadi keistimewaannya berkurang. Padahal yang putih masih transparan juga yaa, bahaha #fail.
Bagi Anda yang masih bertanya-tanya "ini tulisan yang mau disampein apa?" oke aku kasih clue -> korelasiin ini dengan hijab

Berhijab itu bukan pilihan, bukan hanya pelunas kewajiban. Lebih mulia dari itu, hijab adalah kebutuhan. Kalau disambungin ke postingan ini, hijab itu membuat kita lebih istimewa.

*masih harus banyak belajar* :)

0 comments:

Post a Comment