2.8.14

Di bawah matahari yang terik, berlapis kulit hitam yang terbakar karenanya, dan tenggorok yang merindukan air mengalir. Itulah yang dirasakan mereka ketika berjalan di tengah-tengah mobil yang mengantre lampu hijau dengan membawa senjata mereka masing-masing, yaitu beberapa tutup botol Coca Cola, Sprite, ataupun Fanta yang dirangkai pada kayu tak bertuan yang mereka temukan di jalan. Beberapa pengamen yang lebih mujur membawa gitar sebagai senjatanya berharap akan lebih banyak koin yang didapat. Yang menjadi modal utama dalam arena ini bukanlah suara yang merdu maupun lantang, hanya doa yang membekali dengan harapan banyak orang dermawan yang senantiasa melanggar peraturan daerah. Begitulah yang mereka jalani demi sesuap nasi yang akan mereka makan di bawah papan reklame “Dilarang Memberi Uang kepada Pengemis/Pengamen.”

Itulah kehidupan mereka yang cukup berbeda dengan kehidupanku yang masih bisa melihat tawa mereka lewat jendela mobil. Tapi setidaknya aku tahu mereka mempunyai sebuah mimpi. Mimpi yang besar, mungkin ingin menjadi penyanyi terkenal seperti beberapa penyanyi Indonesia yang memulai karirnya dengan mengadu nasib di jalanan kota. Atau mungkin sekedar mimpi kecil seperti ingin mendengar gemericik koin yang mereka kantongi dan makan kenyang hari ini. Kurasa itu tak cukup menyedihkan melihat canda tawa yang menemani perjuangan hidup mengejar mimpi mereka masing-masing. Mungkin merekalah yang harus kasihan padaku, yang selama belasan tahun hidup tak memiliki tujuan. Hidupku mungkin bagai daun yang jatuh ke sungai dan hanyut bersama alirannya.

Pak Bambang kembali melambaikan tangan ketika salah satu dari mereka mendekati mobil kami. Aku hanya terdiam. Dengan dalih bahwa aku adalah seorang yang taat aturan mungkin mampu menghalalkan keterdiamanku. Aku usir mentah-mentah dugaan bahwa aku sebenarnya tak peduli kehadiran mereka. Bagaimanapun juga aku masih manusia, masih memiliki rasa simpati terhadap orang-orang yang berada di bawah. Kutelaah lagi apa yang selama ini pernah aku lakukan. Merasa jijik pada diri sendiri, sampai kepalaku pusing pun aku belum menemukan titik temu dimana aku ikut serta membantu mewujudkan kehidupan mereka yang lebih baik.

Beberapa receh yang aku masukkan begitu saja di dompet kini aku keluarkan setelah sekian lama mendekam di sana. Kini tempat barunya ialah mangkuk mungil yang sengaja ditaruh di dashboard mobil yang memang difungsikan untuk meletakkan receh-receh kembalian daripada menggelembungkan  dompet. Setelah kosong sekian lama kini mangkuk mungil itu ada isinya walau tak seberapa. Pak Bambang kepergok memandangku heran. Aku hanya terdiam. “Dompetku penuh,” ujarku kemudian untuk sedikit melumerkan suasana canggung di antara kami.


Aku paham betul, ini bukanlah suatu solusi.

0 comments:

Post a Comment