Di bawah matahari yang terik, berlapis
kulit hitam yang terbakar karenanya, dan tenggorok yang merindukan air
mengalir. Itulah yang dirasakan mereka ketika berjalan di tengah-tengah mobil
yang mengantre lampu hijau dengan membawa senjata mereka masing-masing, yaitu beberapa
tutup botol Coca Cola, Sprite, ataupun Fanta yang dirangkai pada kayu tak
bertuan yang mereka temukan di jalan. Beberapa pengamen yang lebih mujur
membawa gitar sebagai senjatanya berharap akan lebih banyak koin yang didapat. Yang
menjadi modal utama dalam arena ini bukanlah suara yang merdu maupun lantang,
hanya doa yang membekali dengan harapan banyak orang dermawan yang senantiasa
melanggar peraturan daerah. Begitulah yang mereka jalani demi sesuap nasi yang
akan mereka makan di bawah papan reklame “Dilarang Memberi Uang kepada
Pengemis/Pengamen.”
Itulah kehidupan mereka yang cukup berbeda dengan
kehidupanku yang masih bisa melihat tawa mereka lewat jendela mobil. Tapi
setidaknya aku tahu mereka mempunyai sebuah mimpi. Mimpi yang besar, mungkin
ingin menjadi penyanyi terkenal seperti beberapa penyanyi Indonesia yang
memulai karirnya dengan mengadu nasib di jalanan kota. Atau mungkin sekedar mimpi
kecil seperti ingin mendengar gemericik koin yang mereka kantongi dan makan
kenyang hari ini. Kurasa itu tak cukup menyedihkan melihat canda tawa yang
menemani perjuangan hidup mengejar mimpi mereka masing-masing. Mungkin
merekalah yang harus kasihan padaku, yang selama belasan tahun hidup tak
memiliki tujuan. Hidupku mungkin bagai daun yang jatuh ke sungai dan hanyut
bersama alirannya.
Pak Bambang kembali melambaikan tangan
ketika salah satu dari mereka mendekati mobil kami. Aku hanya terdiam. Dengan dalih
bahwa aku adalah seorang yang taat aturan mungkin mampu menghalalkan
keterdiamanku. Aku usir mentah-mentah dugaan bahwa aku sebenarnya tak peduli
kehadiran mereka. Bagaimanapun juga aku masih manusia, masih memiliki rasa
simpati terhadap orang-orang yang berada di bawah. Kutelaah lagi apa yang
selama ini pernah aku lakukan. Merasa jijik pada diri sendiri, sampai kepalaku
pusing pun aku belum menemukan titik temu dimana aku ikut serta membantu mewujudkan
kehidupan mereka yang lebih baik.
Beberapa receh yang aku masukkan begitu
saja di dompet kini aku keluarkan setelah sekian lama mendekam di sana. Kini tempat
barunya ialah mangkuk mungil yang sengaja ditaruh di dashboard mobil yang
memang difungsikan untuk meletakkan receh-receh kembalian daripada
menggelembungkan dompet. Setelah kosong
sekian lama kini mangkuk mungil itu ada isinya walau tak seberapa. Pak Bambang
kepergok memandangku heran. Aku hanya terdiam. “Dompetku penuh,” ujarku
kemudian untuk sedikit melumerkan suasana canggung di antara kami.
Aku paham betul, ini bukanlah suatu solusi.
0 comments:
Post a Comment