Langit cerah,
matahari bersinar tak semengerikan seperti biasanya. Untuk suatu keperluan aku
harus pergi ke tempatnya. "Oke nanti aku jemput di perempatan ya,"
begitu kira-kira isi balasan sms-nya.
"Aku udah sampe
Lis, di depan Janu Putera ya," cepat-cepat aku mengabarinya melalui pesan
singkat setibaku di tempat yang ia maksud tadi. Untuk mencapai tempat ini dari
rumahnya bisa kuperkirakan memakan waktu sekitar 10 menit menggunakan sepeda
motor. Mungkin ditambah beberapa menit untuknya mempersiapkan diri seperti
berganti baju (bila perlu), mengenakan kerudung, dan mengeluarkan motor. Waktu
yang cukup lama apabila digunakan untuk menunggu. Kupandangi sebuah toko
swalayan yang lumayan besar dimana aku berhenti tepat di depannya. Satu kali
pun aku belum pernah memasukinya. Dari sini terlihat baju-baju dagangan
dipajang di depan pintu masuk persis. Tak sama dengan swalayan pada umumnya,
yang lebih memilih menata sembako-sembako di depan pintu utama toko. Kehabisan
gaya, aku memilih menikam kegabutanku dengan bermain hape. Sekedar mengecek
apakah ada sms yang masuk. Jika tidak ada maka aku hanya bermain scroll sana
scroll sini seolah menjadi kesibukan tersendiri selain aku mengamati riuhnya
suasana minggu pagi ini.
Seorang wanita entah
dia gadis entah ibu muda mengayuh sepedanya ke arahku. Sebagai seseorang yang
sedang menunggu teman dengan menggunakan fasilitas trotoar ini, aku hanya
memperhatikannya sebagai seseorang pengguna jalan yang akan melewatiku begitu
saja. Rambutnya berkibar diterpa angin jalanan, kayuhannya tinggal sejengkal
lagi dari posisiku. Tak dinyana perempuan itu berhenti disana. Yak, di depan
motorku berhenti. Aku lupa apa yang selanjutnya ia katakan. Kejadian ini sudah
lumayan lama sekitar kelas tiga SMA dan daya ingatku begitu cetek. Yang aku
ingat maksud dari perkataannya ialah dia meminta uang. Bukan, ia meminta belas
kasihan lebih tepatnya. Entah apa yang menghipnotisku aku keluarkan dompet dan
sedikit mengintip isinya. "Gak ada uang receh," jawabku jujur. Dengan
berkata begitu kupikir orang itu langsung akan pergi. Tapi tidak. Ia bilang
bahwa ia harus membeli beras dan tidak mempunyai cukup uang. Kemudian ia
mengacung-acungkan jari telunjuknya seperti memberi tahu letak sebuah tempat.
Kuurut kemana jari itu ditunjuknya. Karena aku belum begitu mafhum dengan
lokasi sekitar sini, aku pun hanya memasang wajah bingung dan bengong tak
mengerti apa yang ia maksud.
Yang aku ingat
wanita itu menuntun sepedanya ke arah telunjuknya ditujukan. Entah apa yang
menghipnotisku kembali, aku mengikutinya bersama dengan motorku kulajukan
pelan-pelan. Kami melalui sebuah gang di samping toko swalayan, yang tidak
kusangka sebelumnya bahwa itu adalah jalan yang bisa dilalui. Berhentilah kami
di suatu tempat. Nampaknya aku bisa melihat dagangan-dagangan seperti sayur
mayur bersama dengan penjualnya. Kutafsirkan kemudian tempat dimana aku
berhenti ialah sebuah pasar tradisional. Dia membawaku ke salah satu kios
kelontong. Sementara wanita itu berbicara dengan penjaga warung, aku
menyempatkan diri untuk menilik pesan baru yang masuk ke hapeku. Seperti yang
kuduga, sms masuk dari Lisa menanyakan keberadaanku. "Tunggu bentar Lis,
aku lagi nolonginn orang nih," balasku kemudian. Sekantong beras sudah
berada di atas meja dagangan. Sekali lagi, entah apa yang menghipnotisku
kembali sekonyong-konyong aku mengeluarkan uang untuk membayarnya.
Aku menerima uang
kembalian. Wanita itu menerima beras. Lalu ia berterimakasih padaku. Aku pun
membalas ucapan terimakasihnya. Lalu kami berpisah. Aku masih merasa lucu atas
kejadian ini, merasa heran dengan apa yang telah kulakukan barusan. Kutengok ke
sana dan kemari, melihat adanya kemungkinan munculnya seseorang sebagai kru tivi dan memberikan uang atas
dermaku barusan. Tolong bantu aku mengingatnya, aku lupa nama program televisi
ini, dimana ada seseorang yang sangat membutuhkan bantuan dan apabila ada
seseorang yang mau membantunya maka ia akan dapat hadiah dari program tivi
tersebut. Biasanya orang yang mau menolong tidak kalah kasihannya sama yang
ditolong. Acaranya dilanjutkan dengan menceritakan profil si penolong dengan
kisah menyayatnya. Mungkin kru tivi buru-buru mengurungkan niatnya ketika
melihatku tak begitu menyedihkan sehingga kurang menarik untuk diceritakan
profilnya, mengingat aku membawa sepeda motor, menggenggam handphone,
menggendong ransel, dan memakai baju yang sudah disetrika (*apasih* maksudnya
bajunya gak lusuh-lusuh). Mungkin seharusnya kehadiranku sebagai peran yang ga
mau nolongin, "Parah, punya motor punya handphone gak mau nolongin,"
kritik penonton yang harusnya didapatkan. Mungkin setelah melihatku percakapan
yang terjadi antar kru begini, "Anak itu beneran nolongin, yuk turun kasih
duit." "Ga usah deh, kayaknya dia anak orang mampu. Duitnya kita
kasih ke orang yang ga mampu yang mau nolongin aja. Buat dia kita kasih doa
semoga masuk surga..." "AAMIIIIIN :)" hehehe.
Hahaha imajinasiku
terlalu berlebih. Tanpa pikir panjang, aku kembali ke tempat semula, dimana aku
berjanji menunggu Lisa disana. "Ya ampun Mut aku takut banget kamu
dijahatin, dihipnotis orang apa gimana, lha sms-mu aneh banget kok,"
komentarnya kemudian setelah kuceritakan detail peristiwanya. Entahlah, mungkin
memang aku dihipnotis, entah apa yang menghipnotisku. Lucu saat mengingatnya.
Tapi pada saat itu rasanya berapa puluh ribu uangku rasanya gak sia-sia dan
dompetku rela saja untuk kehilangannya. Lucu.
Wahai wanita yang
tak pernah aku ketahui namamu, yang sudah aku lupakan wajahmu, semoga kamu
tetap sehat ya dimana kamu berada dan selalu mendapat naungan perlindungan-Nya.
Semisal kamu udah lupa sama aku gapapa, gak usah dikenang, aku bukan
pahlawanmu. Yang kupinta darimu hanya satu, satu kali saja tolong doakan aku
agar aku mendapatkan tiket untuk memasuki surga-Nya. Begitu juga kamu dan
keluarga sanak saudara kita, akan dipertemukan di sana. Aamiiin :)
0 comments:
Post a Comment